Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘hollywood’

Australia: Ketika Durasi Panjang Menjadi Bumerang

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 23, 2008

australiaposter1Sejak film Titanic memborong piala Oscar pada Academy Award tahun 1997,  seperti ada sebuah pakem baru di kancah penghargaan perfilman internasional. Hampir semua film yang berlaga di  ajang Golden Globe, Palm D’or, maupun Academy Award kebanyakan adalah film berdurasi lebih dari 2 jam.  Tapi tidak sedikit pula film berdurasi panjang hanya cukup puas menembus box office atau malah jeblok di pasaran.

Durasi yang panjang memang memungkinkan pembuat film lebih bebas berkreasi membangun sebuah alur cerita. Namun tidak sedikit pula yang lupa akan konsistensi. Kecerobohan dari para pembuat film dengan durasi panjang kebanyakan lebih kepada cerita yang bertele-tele, konflik yang dipaksakan, dan hilang fokus pengakhiran cerita.  Contoh teranyarnya ada di film Australia, yang dibintangi Nicole  Kidman (Lady Sarah Ashley) dan Hugh Jackman (Drover).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , | 2 Komentar »

The Day The Earth Stood Still: Bikin Kapok Nonton Film Remake!

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 16, 2008

daytheearthstoodstillposter1When remake goes bad!! Begitulah sekiranya gambaran betapa film ini merusak ekspetasi saya akan sebuah film bergenre sci-fi sekelas Independence Day yang tidak pernah bosan untuk ditonton berkali-kali.

The Day The Earth Stood Still (TDTESS) tampaknya melengkapi pengalaman saya sebagai yang “tertipu” dari sebuah film sci-fi remake seperti War of The World, dimana nama besar Steven Spielberg sebagai sutradara dan Tom Cruise sebagai aktor utamanmya, tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.

Begitupun The Day The Earth Stood Still. Sekalipun penonton “diiming-imingi” penampilan Keanu Reeves, film ini tidak berdaya di alur cerita. Untuk 30 menit pertama memang saya terpana, selebihnya saya lebih suka menyelonjorkan badan di kursi bioskop sambil berharap plot cerita berkembang lebih baik. Nyatanya, hingga akhir dari 30 pertama itu, film ini sangat membosankan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , | 4 Komentar »

Remake Film Horor Asia Versi Hollywood Lebih Baik?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Juni 18, 2008

 

 

 

Meski pernah sesumbar bahwa Hollywood gak bakal daur ulang (remake) film horror Asia lagi tahun ini akibat beberapa remake film horror Jepang-nya seperti Dark Water dan Pulse gagal secara komersil, toh akhirnya para sineas di sana menjilat ludahnya sendiri. Jika mengingat sukses The Grudge (Ju-On) dan The Ring, tampaknya mereka tergoda untuk remake beberapa horror Asia, dengan harapan bakal dulang sukses yang sama. Kali ini gak hanya horror Jepang yang di-remake. Mereka mulai melirik Thailand dan China yang belakangan ini memang berhasil membuat film-film horror yang menggebrak.

 

Tapi benarkah alih produksi film sineas Asia ke kreator Hollywood yang notabene lebih “hebat” dan “canggih” bakal menghasilkan sebuah karya yang lebih baik? Kalo dari sisi teknis gambar dan sinematografi memang sepertinya Hollywood berhasil membuat The Grudge dan The Ring lebih “ringan” dari orsinilnya yang memiliki cerita agak “ngawur” dengan kualitas gambar yang kadang-kadang buram dan tidak fokus.

 

 

Namun, jika membangun kengerian yang sama, tampaknya Hollywood keteteran dalam hal ini. Maklum, mereka terbiasa dengan genre horror yang plot-nya cepat. Itulah sebabnya di beberapa remake, mereka seolah memaksakan film horror itu harus memberikan ketegangan dari awal hingga akhir cerita. Padahal, kebiasaan di Asia, film horrornya lebih “alon-alon kelakon” alias diam-diam mengerikan. Seperti yang pernah diutarakan Rob Zombie (sutradara Devil Reject, House of 1000 corps, dan reboot Halloween), bahwa film horror Asia sensasinya sangat berbeda dengan horror negara barat. “Jika di awal tampang anteng-anteng saja, film horror Asia pada bagian akhirnya bakal membuat orang ketakutan setengah mati,” ujar Rob dalam sebuah interview di televisi.

 

Nah, aksi “jilat ludah” sineas Hollywood tahun ini diwakili lewat remake One Missed Call (Chakhusin Ari/Jepang), The Eye (Gin Gwai/Hongkong), dan Shutter (Thailand). Sayangnya, remake tersebut tidak membuatkan sensasi baru dengan taste Hollywood. Dari ketiga film itu terlihat jelas bahwa improvisasi yang dilakukan Hollywood tidak berhasil “mengelabui” penontonnya bahwa film yang dibuat hanya “copy-paste” versi orsinilnya. Yang paling kentara adalah film Shutter. Film yang masih berkibar di bioskop Jakarta ini bisa dibilang tak memberikan sesuatu yang baru, terkecuali karakter para tokohnya. Kalaupun ada sesuatu yang baru, malah menjelaskan bahwa film ini lebih buruk dari versi Thailand.

 

Lewat karakter tulisan yang malas saya perpanjang ini, saya memang enggan menjelaskan detil keburukan dari film remake tersebut. Jika ingin jelas, coba deh buru DVD Shutter versi Thailand dan segeralah nonton Shutter versi Hollywood. Kemudian, dengan berbondong-bondongnya penonton yang memenuhi ruang bioskop yang memutar film Shutter, saya yakin kebanyakan mereka hanya ingin membandingkan film tersebut dengan versi aslinya. Atau bisa juga mereka menonton dulu versi remake-nya kemudian segera datang ke toko penjual DVD untuk membeli versi aslinya dan langsung membandingkan. Hasilnya, two thumbs up buat sineas Thailand. Mereka berhasil mencundangi sineas Hollywood dengan film tersebut.

 

Nah, ribut-ribut soal ramainya Hollywood melakukan remake film horror Asia terutama Thailand yang bisa dibilang sebagai negara tetangga dekat, membuat saya iri luar biasa. Bagaimana tidak. Sukses remake Shutter membuat Thailand kian dikenal sebagai negara pembuat film horror berkualitas dari Asia Tenggara. Kalo Indonesia?

 

Jujur aja, negara kita memang didominasi produksi film horror. Tapi dari yang banyak itu cuma beberapa saja yang pantas dibilang bagus, meskipun kebanyakan juga belum pantas jika di-remake oleh Hollywood. Kebanyakan horror Indo lebih sekedar menampilkan penampakan hantu tapi malah mengesampingkan kualitas cerita. Lelah rasanya mata ini jika setiap saat dijejali penampakan hantu tapi ceritanya ngawur. Apalagi kalo hantunya ‘necis” dengan tampilan gaun putih bersih dan rambut lurus seperti di-rebounding (pasti keramasnya pake shampoo Rejoice hehehe…).

 

Padahal negara kita punya Suzanna yang dijuluki sebagai “Ratu Horror” yang saya rasa di negara mana pun belum memiliki sosok seperti dia. Jaman dulu pun, horror-horror lokal sanggup membuat saya ketakutan setengah mati hingga sekarang. Selain itu, negara kita memiliki banyak cerita rakyat yang penuh misteri. Sayangnya, film sekarang malah menghancurkan mitos-mitos tersebut lewat penggarapan yang asal-asalan.

 

Saya memang sudah terlanjur menggemari film horror western yang berdarah-darah, bukan film yang memfokuskan diri pada sosok hantu seperti horror Asia. Meski begitu saya tetap berharap kualitas film horror lokal semakin baik seiring membaiknya film-film lokal dengan genre lain. Bagaimanapun sebagai warga negara asli, akan bangga rasanya jika hasil karya bangsa diadaptasi oleh negara lain. Apalagi negara itu dikenal lebih “hebat” dan “canggih” seperti Amerika.

 

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »