Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘film’

My Bloody Valentine 3D, Teknologi Real-ID 3D Membuatnya Lebih Mencekam

Ditulis oleh planetmiring di/pada Mei 8, 2009

my_bloody_valentine_3d_ver2Kekerasan, ketegangan, dan nudity adalah sebuah intisari atau pakem yang dianggap penting dalam sebuah film suspence thriller di lini horor. Ketika pakem ini mulai dikemas dalam layar bioskop berteknologi tiga dimensi (3D), apa yang terjadi? sudah tentu film semakin mencekam. Begitulah yang saya rasakan ketika menonton film My Bloody Valentine 3D kemarin malam.

Sebagai pecinta film horor, menonton dalam format 3D tentu menambah kenikmatan tersendiri. Apalagi format 3D yang disajikan sangat jauh berbeda ketika ketika teknologi ini pernah booming di awal tahun 90an di kancah pertelevisian lokal. Kacamata yang digunakan bukan kacamata plastik warna merah-biru yang rapuh, melainkan kacamata dengan frame ala geek yang sedang dicemari tren masa kini.

Film My Bloody Valentine 3D disebut-sebut sebagai film horor pertama yang mengadopsi teknologi 3D, setelah sebelumnya format yang sama dibesut oleh film-film animasi. Di putar di 3D Blitz Megaplex yang menghadirkan film dengan teknologi RealID–kabarnya yang pertama di Asia Tenggara–sudah tentu tampilan 3D lebih canggih dibandingkan dengan 3D versi salah satu layar televisi tempo dulu.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

The Cottage: Tertawalah di Atas Darah

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 23, 2009

the-cottage-poster-largeSebenarnya film ini pernah saya tonton tahun lalu ketika hajat ScreamFestIndo 2008 digelar. Nah, berhubung ternyata film ini kembali diputar di jaringan bioskop Blitz. Tidak ada salahnya saya publikasikan kesan saya terhadap film horror asal Inggris ini.

Film horror? Eit, sebaiknya jangan terlalu antipati dulu. Meskipun di tengah cerita film ini bakal mengobrak-abrik andrenaline, justru keistimewaan film ini terletak dari sisi humor kelamnya.

Opening credit dan music score dari film ini sungguh di luar kebiasaan. Lupakan alunan mistik dan gelap string-section orchestra yang mencabik-cabik durasi. Di film ini, justru komposisi musik mengalun bagaikan arena sirkus atau carnaval. Sungguh riang dan lucu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Australia: Ketika Durasi Panjang Menjadi Bumerang

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 23, 2008

australiaposter1Sejak film Titanic memborong piala Oscar pada Academy Award tahun 1997,  seperti ada sebuah pakem baru di kancah penghargaan perfilman internasional. Hampir semua film yang berlaga di  ajang Golden Globe, Palm D’or, maupun Academy Award kebanyakan adalah film berdurasi lebih dari 2 jam.  Tapi tidak sedikit pula film berdurasi panjang hanya cukup puas menembus box office atau malah jeblok di pasaran.

Durasi yang panjang memang memungkinkan pembuat film lebih bebas berkreasi membangun sebuah alur cerita. Namun tidak sedikit pula yang lupa akan konsistensi. Kecerobohan dari para pembuat film dengan durasi panjang kebanyakan lebih kepada cerita yang bertele-tele, konflik yang dipaksakan, dan hilang fokus pengakhiran cerita.  Contoh teranyarnya ada di film Australia, yang dibintangi Nicole  Kidman (Lady Sarah Ashley) dan Hugh Jackman (Drover).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , | 2 Komentar »

Menikmati Wiken, Satu Hari Lima Film

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 21, 2008

Sabtu ini benar-benar hari istirahat terbaik yang pernah saya dapatkan dalam beberapa bulan belakangan. Maklum, biasanya setiap wiken hampir tidak pernah sepi dari macam-macam urusan, mulai dari pekerjaan yang mesti diselesaikan, kondangan, hingga membantu urusan teman. Tetapi tidak dengan sabtu ini. Saya hampir tidak ada pekerjaan yang mesti dikerjakan, tidak ada janjian dengan teman, dan tidak ada jadwal kondangan. Jadi saya puaskan diri saya untuk tidur-tiduran dan tentunya melaksanakan hobi saya: nonton film.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

The Day The Earth Stood Still: Bikin Kapok Nonton Film Remake!

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 16, 2008

daytheearthstoodstillposter1When remake goes bad!! Begitulah sekiranya gambaran betapa film ini merusak ekspetasi saya akan sebuah film bergenre sci-fi sekelas Independence Day yang tidak pernah bosan untuk ditonton berkali-kali.

The Day The Earth Stood Still (TDTESS) tampaknya melengkapi pengalaman saya sebagai yang “tertipu” dari sebuah film sci-fi remake seperti War of The World, dimana nama besar Steven Spielberg sebagai sutradara dan Tom Cruise sebagai aktor utamanmya, tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.

Begitupun The Day The Earth Stood Still. Sekalipun penonton “diiming-imingi” penampilan Keanu Reeves, film ini tidak berdaya di alur cerita. Untuk 30 menit pertama memang saya terpana, selebihnya saya lebih suka menyelonjorkan badan di kursi bioskop sambil berharap plot cerita berkembang lebih baik. Nyatanya, hingga akhir dari 30 pertama itu, film ini sangat membosankan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , | 4 Komentar »

To Die For Screamfest O8 (Tak Gentar Melawan Hujan)

Ditulis oleh planetmiring di/pada November 18, 2008

Tadi pagi, bangun tidur saya merasa pegal-pegal. Mungkin ini efek dari gejala flu yang untungnya langsung ketangkal berkat vitamin C 500 mg yang saya minum sebelum dan sesudah tidur. Percaya deh, buat penyakit-penyakit ringan seperti ini saya lebih yakin dengan sebutir kapsul vitamin daripada obat warung.

Pegalnya saya bukan karena hari minggu saya harus bekerja keras, meskipun Sabtu pagi saya mesti ke Bandung dan kembali lagi pada sore harinya karena harus meliput sebuah even yang dihadiri Wapres JK. Jadi, badan pegal saya lebih kepada kerasnya ‘perjuangan’ saya demi menonton The Cottage, film perdana dalam rangkaian Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFF’08) yang disebut sebagai edisi kedua Screamfestindo (saya lebih suka menyebut festival ini Screamfest, kesannya lebih horror he-he-he).

Kesibukan saya minggu ini yang gila-gilaan memang tidak memungkinkan saya datang ke pembukaan festival ini pada 14 November lalu. Makanya, begitu membeli tiket paketan pre-sale, saya memilih film yang diputar pada hari Minggu, yakni The Cottage, The Screen, Hansel & Gretel, dan Saw V (ketiga film terakhir saya nonton secara marathon pada 22 November di Blitz MOI besok!). Takutnya, jika pesan tiket untuk hari kerja, saya malah tidak bisa datang. Saya putuskan jika ingin nonton film di hari kerja, beli daily pass aja. Biar tiketnya gak hangus karena saya tidak jadi datang, seperti pengalaman saya tahun lalu: beli tiket 10, tapi yang ditonton cuma 6 film. Sayang kan..

Sebenarnya saya nonton dengan salah seorang teman saya. Sayangnya, begitu rencana berangkat sudah mulai, dia urung datang karena khawatir kosannya kebanjiran, mengingat hujan sudah menunjukkan awal kekuatannya dengan memamerkan awan gelap plus petir yang sangar.Pertanda ini alamat buruk buat rencana nonton. Tapi boleh buat, the show must go on! Saya tetap nekat berangkat dengan atau tanpa teman. Alhasil ada teman saya yang lain yang bersedia. Secara tiketnya gratis gitu dari saya he-he-he. Lagian, dia juga mungkin sedang bête di rumahnya.

Eng ing eng…saya pun meluncur dengan motor masing-masing. Rute yang salah pilih adalah Kemayoran trus ke Sunter. Biasanya rute ini bebas macet kalo ingin menuju Kelapa Gading. Apesnya, begitu sampai di Kemayoran, hujan sudah beraksi. Deras pula. Ditambah kebiasaan buruk saya, selalu tampil di tengah hujan tanpa jas hujan.. Saya sih nekat aja terobos hujan, sampai kelupaan bawa saya mengajak teman.

Udah setengah basah, saya berhenti sejenak. “Eh, kita terobos aja apa neduh dulu?” tawar saya.

Dengan mimik penuh yakin teman saya angguk, “Ya udah, siapa takut! Hajar aja.”  Bodohnya, dia malah lepas jaketnya terus dititipkan ke saya. Benar-benar siap tempur nih orang.

Jreng, saya pun ngebut menuju Sunter. Tanpa diduga di daerah sekitar sini banjir. Selain hujan-hujanan, saya juga rela jadi bulan-bulanan mobil yang melintas di atas banjir yang airnya menerjang motor saya. Basah udah pasti merayap hingga ke celana dalam.

Ketika sampai di MOI Kelapa Gading, ujan agak reda. Tapi itu tidak mengobati basah di tubuh saya. Di area parkir, saya bersama teman saya itu akhirnya buka baju dan jaket masing-masing. Meski area parkir tidak bisa dibilang sepi, entah kenapa rasa malu saya hilang. Dengan cueknya saya buka baju terus memeras air hujan yang membuat volume kaos dan jaket saya bertambah berat.

Selama masuk dalam mall, saya tidak memusatkan perhatian dari orang-orang yang memperhatikan kekacauan kami berdua. Saya sempat deg-degan, jangan-jangan pihak Blitz tidak ingin kursinya dibasahi oleh kami. Toh, akhirnya bisa juga nonton.Tapi penderitaan saya bukan sampai di situ saja. Selama film berlangsung, sudah dapat dibayangkan betapa dinginnya AC di dalam bioskop.

Untung filmnya bagus. Jadi saya berusaha menghangatkan diri dengan alur film tersebut. Sementara teman saya tampak menggigil. Gokilnya, dia sesekali ‘membakar’ dirinya sendiri dengan korek api gas yang dibawanya. Aksinya ini tentu saja jadi perhatian penonton lain. Malah ada sepasang cowok-cewek yang langsung pergi meninggalkan bioskop karena tingkahnya he-he-he..

Wah, mudah-mudahan di putaran film selanjutnya, hujan tak lagi pamer kekuatan. Jujur saja, Minggu itu serasa pembantaian. Hujan bener-bener ngerjain. Tapi, kecintaan terhadap film horror rupanya membuat saya tidak gentar menghadapi horrornya hujan, halah!

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA, Uncategorized | Bertanda: , , , , , , | 2 Komentar »

Rob Zombie Mengacaukan Halloween?

Ditulis oleh planetmiring di/pada November 4, 2008

Rob Zombie memang eksentrik. Saking eksentriknya semua film besutan performer band cadas White Zombie ini memadukan seksualitas dalam gelimangan darah. Sadomasochist? Entahlah. Yang jelas di setiap film Zombie, sebut saja “House of 1000 Corps” dan “The Devil’s Rejects”, semua perempuan adalah objek pembunuhan yang mengasyikan dan menggairahkan: hampir semua yang terbunuh dalam keadaan bugil.

Seperti halnya Marylin Manson, tampaknya Zombie sangat terobesi dengan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Sekalipun sang istri, Sheri Moon Zombie, selalu dilibatkan dalam film-film sadisnya, itu juga tak jauh dari peran-peran bitchy! Makanya setiap orang geleng-geleng kebingungan begitu proyek reboot “Halloween” yang legendaris itu diserahkan oleh Zombie. Padahal sutradara kawakan seperti Ridley Scott (Alien, Gladiator, Hannibal, Body of Lies) sudah cukup napsu mau menggarapnya.

Burukkah hasilnya? Ehem, secara penggarapan, Zombie memang sudah dibilang cukup berhasil menterjemahkan Halloween yang pernah diproduksi tahun 1978 ini dengan versinya sendiri. Pada bagian awal film, Zombie setidaknya ingin sedikit sentimentil dengan mengangkat penderitaan batin Michael Myers, seorang bocah produk broken home yang akhirnya menjadi psikopat. Sayangnya, penggarapan disini kurang mengangkat emosi penonton, sekalipun adegan-adegan yang ditampilkan cukup mewakili kekelaman masa kecil Michael. Mungkin Zombie tak ingin melupakan pakem that’s my thriller movie. Sentimentil yang berlebihan memang bukan gayanya.

Yang sedikit agak lucu mungkin Zombie terlalu menekankan ‘perempuan bitchy memang pantas dibunuh’ dalam film ini. Tak heran, setiap korban-korban Michael Myers–perempuan muda–selalu dibunuh dalam kondisi topless dan sehabis esek-esek alias berbuat mesum. Setidaknya ada tiga scene adegan seperti ini. Be creative, Zombie! Untuk adegan-adegan seperti ini, seorang teman saya merasa keheranan: kenapa Michael itu niat banget bunuh cewek-cewek, sampe dikejar-kejar segala? Sementara kalo cowok dibunuh seketemunya aja. I dunno…

Sekalipun film ini dibanding-bandingkan dengan versi John Carpenter, setidaknya Zombie telah membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang bercita rasa. Halloween 2007 memang sangat identik sekali dengan film-film karya dia sebelumnya. Yang patut diuji dari film ini adalah kemampuannya mempertahankan tensi ketegangan hingga pada puncaknya.

Jika ada orang yang bilang Zombie telah menghancurkan Halloween, saya pun kurang lebih setuju. Namun, yang mencengangkan film garapannya ini berhasil menembus box office di musim panas tahun lalu, bersaing bersama film-film wahid seperti Pirates Caribian. Sungguh langkah yang gagah berani, mengingat film horror beresiko keok jika bertengger dalam summer movie. Namun, ada yang menilai pemutaran lebih awal film ini karena Halloween enggan bersaing dengan Saw IV yang dirilis tepat pada malam Halloween tahun lalu. 

Namun, bagi yang menggemari film slasher movie atau pengggemar film Halloween-nya John Carpenter, saya sangat merekomendasikan film ini. Bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk setidaknya menikmati bahwa Michael Myers adalah sebuah legenda dari icon film horror paling populer hingga saat ini. Saya pun tidak malu mengaku perlu waktu setahun menunggu film ini beredar di bioskop dan tidak tergoda dengan DVD bajakannya yang sudah lama beredar di lapak-lapak.

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , , , | 4 Komentar »

Halloween is Coming! Persiapkan Kengerianmu

Ditulis oleh planetmiring di/pada November 1, 2008

Sedap dah…akhirnya reboot film Halloween udah diputer di bioskop. Gilingan, setahun saya nunggu nih film diputer disini. Akankah reboot a la Rob Zombie ini bakal lebih bagus dibandingkan versi orginalnya (John Carpenter/1978)?

Halloween kayaknya tontonan wajib bagi yg doyan hiburan penuh darah tanpa ledakan-ledakan mesiu yg berlebihan. Sejak dirilis tahun 1978, film yg diproduseri Mustapha Akkad (trust me he’s a good moeslem who produced “The Messengge, story of Muhammad SAW) ini langsung mencetak box office fantastis di jamannya, yakni menembus jutaan dollar. Padahal film ini dibuat dengan dana yg cekak yakni sekitar US$ 300.000. Malah Jamie Lee Curtis, si pemeran utama ela merogoh koceknya sendiri untuk wardrobe-nya.
 
Menyusul suksesnya tersebut, Halloween menjadi salah satu film horror legendaris yg mempopulerkan tokoh psikopat haus darah Michael Myer, yg popularitasnya hingga sekarang tak tergeres oleh Hanibal Lecter (Silence of The Lambs dan franchise-nya), dan John Jigsaw (Saw). Halloween juga menjadi trensetter bagi para pembuat film horror dalam menampilkan tokoh psikopat seperti Jason Vorhess (Friday the 13th) yg kerap dibanding-bandingkan dengan Michael Myer.

Produksi Halloween (2007) merupakan reboot dari Halloween yg telah berhasil membangun sikuel hingga delapan seri yg merupakan titik balik dari perjalanan psikologis Michael Myer. Sikuel Halloween yg terakhir dirilis adalah Halloween:Resurection (2002) yg dibintangi rapper Busta Rhymes dan model yahud Tyra Banks. Seri ini diperkirakan menjadi penampilan terakhir Jamie Lee Curtis sebagai Laurie Stode, tokoh yg diincar Michael, setelah kembalinya dia ke film ini di Halloween H20 (2000).

Kemudian, mengenai sukses Halloween versi Rob Zombie. Wah, ternyata boleh juga nih mantan performer band rock cadas White Zombie ini beralih ke film, setelah film debut horrornya House of 1000 corps laris gila2an. Halloween buatannya, diklaim sebagai fim horror yg berhasil menembus box office di hari pertama pemutarannya, dengan pemasukan US$ 26,5 juta. Sukses ya Om Rob…

Waduh, jadi gak sabaran pengen melangkahkan kaki ke gedung bioskop. Biasanya, saya selalu menonton fim genre seperti ini sendirian. Tapi kebetulan salah satu teman saya ada yg khilaf, mengajak saya nonton film. Ya udah, meluncur….

Oh ya, mudah2an setelah ini Saw IV langsung diputer juga. Di Amrik aja udah maen Saw V tgl 24 Oktober kemaren.

Payah nih jaringan bioskop Indonesia terlalu diskriminasi sama film-film genre beginian…

I love slasher/gory Movie!

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

P2, Teror Berdarah Di Gedung Parkir

Ditulis oleh planetmiring di/pada Oktober 27, 2008

LOL

her boobs so entertaining :LOL

 Membangun ketegangan dalam sebuah film gak perlu dalam bentuk setting yang rumit dan bombastis. Salah satu contohnya di film ini. Mengambil setting sebuah lahan parkir di dalam gedung perkantoran sungguhan di Toronto, Kanada, P2 benar2 sebuah thriller yg mampu membangun ketegangan.

Di samping setting yg tidak membutuhkan riset besar2an, tema film ini tergolong sederhana yakni tentang seorang wanita karir Angela (Rachel Nichols) yang terperangkap di dalam gedung parkir kantornya sendiri ketika pulang lembur di malam natal. Perangkap ini dirancang oleh Thomas (Wes Bentley), seorang sekuriti kesepian yg memiliki kecenderungan psikopat. Thomas rupanya sudah lama memendam obsesi terhadap Angela (either her boobs! :-P ). Lewat CCTV yg dibawah pengawasannya, Thomas setiap waktu memantau keseharian Angela. Termasuk di bagian ketika perempuan berdada montok ini (percaya deh) mengalami pelecehan seksual oleh Mr Harper (Simon Renold), atasannya.
Dari sini pula, Thomas berinisiatif membalas perlakuan Harper dengan menabraknya dengan mobil dalam posisi terikat hingga ke tembok. Bisa ditebak, Harper mati dengan kondisi tubuh hancur. Sementara di bawah teror Thomas, Angela dipaksa menyaksikan adegan sadis ini.
Sebenarnya, film P2 cukup menarik, baik dari alur maupun penggarapan sinematografi. Tak perlu hitung2an matematis, penonton pun bakal tahu berapa modal yg dikeluarkan dari produksi film ini. Sayangnya, sang sutradara kurang menggali latar belakang kondisi kejiwaan Thomas, disamping akting Bentley yg kurang greget. Sehingga alasan kecenderungan psikopat Thomas yg kesepian sepertinya kurang kuat dalam membangun sisi kelamnya. Termasuk obsesinya terhadap Angela pun kurang tergarap.
Namun, bagi penggemar film thriller psikopat seperti Red Eye, Black Christmas, sama American Psycho, sepertinya film ini wajib ditonton. Adegan kejar-mengejarnya cukup membuat tensi meninggi. Jangan lupa, bersiap2 terpana dengan body seksi Angela :-P
*di forum2 film justru boops Rachel Nichols jadi pembicaraan…wooow

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

The Dark Knight: Nonton Lagi Ah

Ditulis oleh planetmiring di/pada Juli 23, 2008

Jika yakin suatu film yang ditonton akan bagus, sebaliknya siapkan tenaga untuk kunjungan berikutnya. Inilah sebuah perilaku yang kembali terulang, setelah satu tahun terakhir saya tidak menggelutinya. Maafkan saya, jika postingan ini membuat Anda bosan, karena isinya hampir sama dengan posting dua tema sebelumnya.

 

Apalagi sih? Ya, apalagi kalo bukan film The Dark Night (TDK). Setelah sempat berjuang untuk mendapatkan tiket premiere-nya bersama Ryan, saya putuskan kembali menonton film itu kemaren malam. Tapi, berhubung kemaren di FX kurang mendapat bangku strategis, akhirnya saya putuskan kembali mengajak salah satu teman saya untuk menontonnya tadi malam di Planet Hollywood. Itupun tanpa perjuangan yang berarti: on schedule jam 19.00, seat yang strategis, serta tanpa kemacetan yang berarti (bandingkan pengorbanan saya pertama kali nonton film ini. Maksudnya: baca posting saya sebelumnya hehehe…).

 

TDK memang film superhero paling yahud yang pernah saya tonton. Menonton film ini saya seolah mendapatkan ketentraman baru dari film superhero yang pernah ada. Film ini melengkapi daftar ‘kunjungan kembali ke bioskop’ saya, untuk berbagai film seperti Scream (trilogy), Urban Legend : Final Cut, SAW, House on Terror Track, Hell Raiser : Inferno, dan apa ya? Lupa!

 

Alasannya sih tidak sepele. Saya merasa TDK ini merupakan tolak balik dari sikuel Batman yang pernah ada, terutama Batman & Robin yang jeblok itu. Tangan dingin Christopher Nolan memang sanggup membuat image Batman terasa berbeda, hal ini mulai disadurnya dari Batman Begins yang merupakan debutnya dalam ‘seri’ Batman. Dia membuat TDK terasa lebih manusiawi namum kelam dengan menciptakan karakter jagoan dan pejahat yang eksentrik, alur cerita yang unpredictable, dan quote-quote yang bisa jadi ‘siraman rohani’ yang bisa mendorong kita untuk menjadi baik atau malah sebaliknya hehehe…*Mati Sebagai Pahlawan Lebih Baik Dibandingkan Berumur Panjang, Tapi Akan Menjadi Penjahat*

 

Dengan menonton film berulang, terkadang kita bisa mendapatkan bagian yang miss di saat kita nonton pertama kali. Begitu pun kali ini. Saya baru ngeh kalo ternyata selepas kematian Rachel Dawes, Bruce merasa terpukul karena tidak sempat memberi tahu Harvey Dent kalo Rachel akan menikahinya. Padahal, sebelum tewas diledakkan, Rachel justru mengaku kepada Harvey bahwa dia bersedia menjadi istrinya dan tidak bisa hidup tanpanya. Sebenarnya almarhumah*halah*sempat memberitahukan hal ini kepada Bruce lewat surat yang dititipkan kepada Alfred. Tapi, surat itu dibakar Alfred karena tidak ingin menyakiti perasaan Bruce, majikannya. Aih, kenapa bisa terlewatkan kan scene kayak gini? Payah nih…

 

Sebenarnya sih, saya tadinya ngajak Ryan—we are couple of freaks—nonton film ini, secara dia lebih ngerti karakter si Batman ini daripada orang lain yang kebanyakan mengganggap Batman itu ‘sekedar jagoan’. Tapi karena dia udah niat pengen lanjutin nonton DVD Smallville yang dipinjamkan temannya, ya apa boleh buat, dia akhirnya cuma nitip supaya saya nonton ending title-nya sampai habis. Biasanya, untuk beberapa film superhero, di bagian ini suka diselipkan adengan tambahan, seperti Spiderman dan Iron Man.

 

Sayangnya, untuk ketiga kalinya saya melewatkan seperti apa yang dititipkan Ryan kali ini. Padahal, dia penasaran banget pengen tau ada adegan apa. Soalnya, kata temannya yang nonton sampai film ini mentok banget, ada adegan tambahan. Bisa gak tidur dia pasti malam ini hehehe. Sebenarnya tadi kans saya menonton sampai mentok cukup terbuka lebar. Tapi, petugas kebersihannya bikin salting. Akhirnya pas detik-detik ending title-nya habis, saya putuskan keluar bioskop. Ternyata, pas melangkah di luar, saya mendengar music theme yang agak mencurigakan. Pengen balik lagi ke dalam, takut petugasnya jutek. Jadi ya sudah, cukup dibuat penasaran aja deh.

 

Jadi, begitulah saudara-saudara, petulangan kecil saya hari ini. Kalo ada yang menonton film ini sampai mentok banget di credit tittle-nya, tolong dong kasih tau bocoran adegan tambahannya. Itu juga kalo ada sih. Mau nunggu DVD-nya pasti lama betol. Kalo yang bajakan sih, udah pasti gak terjamin. Secara film baru dirilis bareng di seluruh dunia.

 

Foto: Canmag.com

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »