Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘BBM’

Akhirnya (Si Mio) Lunas Juga

Ditulis oleh planetmiring di/pada Maret 28, 2008

Ah, lega banget rasanya setelah 29 x cicilan, akhirnya Si Mio jadi milik saya sepenuhnya. Gak kebayang betapa ngos-ngosan rasanya nafas ini kalo inget gimana usaha membagi gaji saya yang tidak terlalu besar ini untuk mencicil Si Mio. Apalagi kalo inget bagaimana sebalnya diperingatkan oleh bagian penagihan jika saya lupa membayar 1-2 hari saja. Tapi sekarang ngos-ngosan itu udah berlalu.

Sekedar membalik cerita, saya memutuskan utk nekat membeli Si Mio karena terdesak oleh pekerjaan saya sebagai reporter yang tentu saja mobilitasnya tinggi. Apalagi jarak antara rumah dan kantor redaksi tempat saya dulu bekerja sangat jauh sekali. Saya tinggal di sekitar Harmoni, Kota sedangkan kantor saya di bilangan Pondok Gede. Kalo naik angkutan umum bisa mencapai 1 jam perjalanan. Itupun kalo tidak macet. Apalagi waktu itu dengan bengisnya pemerintah menaikkan harga BBM hingga seratus persen yang tentunya berdampak pada kenaikan tariff angkutan umum. Jika dihitung-hitung, membayar cicilan Si Mio beda-beda tipis dengan berapa ongkos yang mesti saya keluarkan setiap harinya untuk menuju kantor atau berbagai tempat peliputan.

Menunggang Si Mio sendiri awalnya memang bukan tanpa cobaan. Saya ingat banget saat itu banyak yang mencela pilihan saya. Maklum, Mio sebenarnya motor skutermatik untuk perempuan. Ketika liputan sebuah peluncuran produk, ketika berpapasan dgn seorang teman di area parkir, seorang teman pernah meledek saya, “Chan, buruan pulangin motor nyokap lo. Kasian, ntar dia mau ke pasar naik apan.” Bahkan ada pula yang meledek : “Ya elah, motor mainan dibeli. Paling baru setahun udah jadi rongsokan.” Yang terparah adalah : “Ya ampun, homo banget sih motor lo!”

Tapi percaya apa enggak, 8 dari 10 orang pernah mencela saya malah sekarang ikutan menunggang Mio. Sampai ada yang rela menukar motor sport jantannya. Tampaknya mereka terprovokasi dengan pilihan “aneh” saya tersebut. Ini memang tidak seperti yang saya harapkan. Saya mengendarai Mio, selain karena mudah dikendarai (jujur saja…saya dulu gak bisa naik motor hehehe), saya juga pengen beda saja sama anak2 motor yang kebanyakan memuja maskulinitas. Ternyata, sekarang Mio malah jadi mainstream. Hampir di setiap jalan saya selalu berpapasan dengan pengendara Mio. Memang sih ada keuntungannya semakin banyak penunggang Mio. Setidaknya setiap saya mengalami ban bocor karena kena ranjau paku, saya bakal gampang menjumpai tukang tambal ban yang trampil mengganti atau menambal ban dalam Mio. Kalo dulu, susahnya bukan main. Untuk setel velg aja mereka tidak ada yang berani. Imbasnya, nilai unik yang tadinya menempel pada saya otomatis memudar dengan semakin banyaknya penunggang Mio. Makanya, di saat teman2 saya ribet mendandani motornya dengan aksesoris ini-itu, saya sih cukup anteng aja. Saya malas merubah tampilan Mio saya. Kalo pun berubah itu pun Cuma mencabut stiker bodi dan mengganti kaca spion orisinal dengan model vespa (itu juga hadiah dari temen). Soalnya, saya sendiri membeli motor karena memang butuh, bukan karena ini bergaya. Apalagi dalam hal bergaya, saya juga enggak pintar-pintar amat hehehe

 

 

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Tahu-tempe Diganti Belalang dan Belatung?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 16, 2008

Hari sabtu (12/1), bisa jadi merupakan hari terakhir saya menyantap tempe sebagai penganan sehari-hari. Bagaimana tidak, makanan yang setidaknya tiga kali seminggu mampir ke perut saya, produksinya sementara dihentikan. Ini terkait dengan aksi mogok yang dijalani oleh produsen dan pedagang tahu dan tempe karena melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku utama. Ibu saya sendiri beberapa hari ini mengeluh karena susahnya mendapatkan kedua penganan tersebut di pasar-pasar.

Sangat masuk akal, jika mereka melakukan aksi mogok yang berlanjut pada aksi demonstrasi di Istana Presiden dan Gedung DPR (14/1). Mereka yang terdiri sekitar 7000 produsen dan pedagang Jabodetabek tumpah ruah menyuarakan derita mereka akibat melonjaknya harga kedelai yang mencapai 150 persen dalam setahun terakhir. Akibatnya, pada produsen tahu yang gulung tikar dan berimbas pada pedagang tahu-tempe yang kehilangan mata pencaharian. Sungguh sebuah babak gejolak ekonomi yang lebih ‘seru’ dengan fenomena melonjaknya harga BBM beberapa tahun lalu.

Memang sungguh tidak masuk diakal. Indonesia sebagai negara yang tanah yang kaya akan hasil buminya, mempunyai kedelai sebagai komoditi yang mahal. Katanya sih, jumlah hasil panen kedelai tidak sebanding dengan jumlah perminataan. Ah masa sih? Ironis! Sementara di berbagai mal dan pusat perbelanjaan lainnya restoran maupun kafe impor semakin menjamur, eh makanan pribumi kian tersudut. Tak hanya dari segi gengsi, tahu dan tempe pun ‘keok’ berproduksi.

Kalau dibiarkan begini terus, bagaimana kelangsungan stamina dan pertumbuhan raga rakyat kecil. Karena kedua makanan tersebut merupakan sumber gizi yang murah sekaligus nikmat. Meski tidak sebanding dengan regukan satu gelas susu, gizi tahu tempe setidaknya cukup memenuhi kebutuhan asupan protein bagi mereka yang tidak sanggup membeli susu, keju, ataupun telur yang harganya juga kian meroket.

Setelah minyak tanah, minyak goreng, menyusul tahu dan tempe, entah bagaimana nasib kalangan tak berpunya dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Mau bercocok tanam, lahan mereka tidak punya. Krisis minyak tanah mungkin bisa tergantikan dengan kayu bakar. Namun bagaimana dengan krisis tahu tempe? Setahu saya, tidak ada penganan murah dan bergizi yang senikmat tahu tempe. Masak sih kita harus menyantap belalang dan belatung sebagai makanan alternatif. Sungguh menyeramkan dan sangat primitif.

Duh, semoga saja kerinduan saya akan tahu tempe tidak berlangsung lama. Tidak kebayang, bagaimana sarapan dengan nasi uduk tanpa sepotong tempe goreng berbalut tepung terigu. Atau menikmati suasana santai di sore hari tanpa renyahnya tempe goreng dan lembutnya tahu isi. Wah…sungguh sebuah paradoks baru dalam dunia kuliner rakyat jelata.

 

 

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Benarkah Sabar Masih Bisa diandalkan jadi solusi?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

“Orang sabar disayang Tuhan”. Sepertinya kata2 bijak ini merupakan salah satu petuah yang paling populer bagi seluruh umat manusia selain “Hemat Pangkal Kaya” atau “Kebersihan itu sebagian dari Iman”. Saya sebagai manusia tentu sangat percaya dan yakin kalo Yang Maha Kuasa itu gak bakal melupakan kaum yang sabar. Udah banyak cerita sampai ke telinga saya mengenai orang yang ‘dibesarkan’ dari rasa sabarnya. Setiap hari, entah di koran, radio, buku, atau tivi, dipublikasikan sedemikian rupa bagaimana kesabaran itu sebagai salah satu kunci sukses seseorang dalam mengarungi kehidupan. Sinetron kita yg terkenal ‘ngehe’ aja selalu menempatkan orang yg sabar sebagai objek hiburan yg menjual (bukan mendidik), dimana tokoh protagonisnya selalu bersabar sekalipun dianiaya sedemikian rupanya. Sehingga digambarkan, orang sabar itu melulu tertampil sebagai sosok yg tidak berdaya, lemah, dan cenderung penakut.

Menurut saya, udah saatnya orang sekarang ini — khususnya di Indonesia, dimana para pemimpinnya reinkarnasi dari iblis terjahat—mengkaji ulang apa itu sabar dan sampai dimana batasnya. Dalam menghadapi ujian Tuhan, sabar itu seharusnya merupakan reaksi pertama begitu kita mendapatkan cobaan bukan mendominasi sikap kita. Jadi, selain ‘dilapisi’ rasa sabar manusia harus bertindak dan mencari jawaban siapa yang paling dan patut disalahkan atas terjadinya cobaan tersebut yang tentunya bukan berarti kita harus menggugat Tuhan. Disamping jangan menyalahkan org yang tidak bersalah tentunya. Dengan begitu solusi pasti ditemukan. Misalnya, jika seorang anak yang menjadi yatim karena ayahnya telah dibunuh oleh orang yg dikenalnya, apakah dia harus bersabar dan berharap mata hati si pembunuh akan terbuka dan mengakui kesalahannya? Idealnya, si anak harus berupaya menggiring si pelaku ke meja peradilan, baik itu bekerja sama dengan polisi atau dengan tangan sendiri.

Sama halnya, jika seorang siswa tidak lulus ujian, apakah dengan bersabar cukup menggiringnya lulus di ujian mendatang? Sama sekali tidak. Dia akan lulus ujian kalo berupaya sebaik mungkin dengan persiapan dan ‘amunisi’ yang memadai di ujian selanjutnya. Jadi, sabar bukan berarti menyerah. Mungkin, jika jalan keluar yang diharapkan menjadi buntu, barulah kita menyerahkan atau bertawakal kepada Allah. Ini pun tidak berhenti untuk berusaha, berusaha, dan berusaha.

Sayangnya, kalo saya lihat2 sih kebanyakan masyarakat kita masih menempatkan rasa sabar sebagai solusi. Gak salah deh, kita selalu dibodohi pemerintah yang selalu menyuruh kita untuk bersabar ketika menghadapi kenaikan harga, peraturan yg hanya menyenangkan beberapa golongan, dan beberapa kebijakan ‘jahat’ lainnya. Masih ingat salah satu iklan layanan masyarakat yg cukup populer pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu? Ya, dimana salah satu kyai kondang berlogat sunda dan pelaku poligami ini ‘dipasang’ sebagai bintang iklan yang menyerukan masyarakat untuk sabar dan tawakal menghadapi kenaikan BBM yang diberlakukan pemerintah.

Ironis memang. Seharusnya, di iklan tersebut, si AA meminta pemerintah memperhatikan nasib rakyat kecil yg terkena imbas dari kenaikan BBM tersebut dan menolak BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebagai subsidi bagi mereka karena udah dipastikan bakal tidak tepat sasaran dan rentan dengan kecurangan, bukan malah nyuruh2 orang untuk bersabar. Intinya, kenaikan BBM harus ditolak. Dus, benar saja kan. Gak lama setelah iklan itu beredar, masyarakat garis keras menanggapinya dengan dingin dan mengganggap si AA itu tidak mewakili suara umat. Tapi lagi-lagi, si AA malah tetap bersiteguh bahwa di kondisi sekarang masyarakat kita harus bersabar. Entah ke arah mana konotasi sabar yang dilontakan AA, yang jelas ini sama saja pembodohan.

Nah, begitu pun peristiwa yang baru2 ini menimpa saudara2 kita yang tengah menjalankan ibadah haji, dimana mereka dilanda kelaparan karena pasokan makanan tidak sampai kepada mereka hingga berhari-hari. Lagi-lagi, kesabaran adalah sesuatu yang diminta kepada pemerintah oleh mereka. Kedatangan Menteri Agama sama sekali tidak membantu karena cuma ‘membujuk’ mereka untuk selalu bersabar terhadap ‘cobaan’ tersebut. Coba, dipikir2, apakah kita harus bersabar terus, sementara kinerja pelayanan haji bangsa ini terkenal sangat amburadul dan tidak pernah belajar dari kejelekan pelayanan haji pada sebelumnya? Jadi, kita selama ini dibodohi untuk selalu bersabar, sementara mereka para pembuat kebijakan tidak melakukan perbaikan dan pembenahan. Sama halnya ketika beberapa ‘pahlawan devisa’ mengutarakan unek2nya kepada lembaga terkait mengenai beberapa pungli dan intimidasi yg dihadapi mulai dari keberangkatan hingga sampai lagi ke tanah air, cuma wejangan ‘harap sabar’ yang diperoleh mereka. Pemerintah sepertinya sangat lihai mempropagandakan rasa sabar sebagai solusi terhadap mereka kaum kecil yang terbiasa hidup apa adanya dan selalu menerima cobaan ini.

Yang tergres adalah mengenai banjir. Saya paling gedek dah sama pendapat beberapa orang yang menganggap banjir adalah siklus tahunan dan merupakan bencana yang wajar. Busyet deh, sabar apa bego ya masyarakat kita ini? Dikasih bencana kok mahfum sih? Mustinya, kita harus menggugat pemerintah terkait penanganan banjir yang gak pernah beres meskipun beberapa rezim telah berganti. Gobloknya, pemerintah kita kalo udah kejadian, baru deh ribut2 cari solusi. Nah, memangnya pas musim kemarau pada kemana aja? Molor apa sibuk latah bikin video porno buat disebar? Saya mah gak rela kalo musibah banjir dianggap kewajaran. Mungkin mereka para pembuat kebijakan gak ngerti rasanya gmana mengungsi dan berhari-hari terendam banjir. Sementara saya, rakyat kecil, sangat menderita dengan adanya bencana tersebut. Hal ini tentunya dirasakan oleh kebanyakan masyarakat kita yan jadi korban.

Dengan adanya kenyataan tersebut, sepertinya bangsa ini harus melenyapkan stigma sabar sebagai solusi. Karena sekarang ini sabar tidak sekedar disayang Tuhan, tetapi juga ‘disayang’ pemerintah. Ibaratnya, bangsa yg sabar bakal dijajah pemimpinnya sendiri. Masih mau terus bersabar? No way! Mari satukan kepalan gugat pemerintah agar melakukan perbaikan2! Karena gaji mereka berasal dari pajak yang kita bayar!!!

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »