Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Arsip untuk ‘RevieW’ Kategori

My Bloody Valentine 3D, Teknologi Real-ID 3D Membuatnya Lebih Mencekam

Ditulis oleh planetmiring di/pada Mei 8, 2009

my_bloody_valentine_3d_ver2Kekerasan, ketegangan, dan nudity adalah sebuah intisari atau pakem yang dianggap penting dalam sebuah film suspence thriller di lini horor. Ketika pakem ini mulai dikemas dalam layar bioskop berteknologi tiga dimensi (3D), apa yang terjadi? sudah tentu film semakin mencekam. Begitulah yang saya rasakan ketika menonton film My Bloody Valentine 3D kemarin malam.

Sebagai pecinta film horor, menonton dalam format 3D tentu menambah kenikmatan tersendiri. Apalagi format 3D yang disajikan sangat jauh berbeda ketika ketika teknologi ini pernah booming di awal tahun 90an di kancah pertelevisian lokal. Kacamata yang digunakan bukan kacamata plastik warna merah-biru yang rapuh, melainkan kacamata dengan frame ala geek yang sedang dicemari tren masa kini.

Film My Bloody Valentine 3D disebut-sebut sebagai film horor pertama yang mengadopsi teknologi 3D, setelah sebelumnya format yang sama dibesut oleh film-film animasi. Di putar di 3D Blitz Megaplex yang menghadirkan film dengan teknologi RealID–kabarnya yang pertama di Asia Tenggara–sudah tentu tampilan 3D lebih canggih dibandingkan dengan 3D versi salah satu layar televisi tempo dulu.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

The Cottage: Tertawalah di Atas Darah

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 23, 2009

the-cottage-poster-largeSebenarnya film ini pernah saya tonton tahun lalu ketika hajat ScreamFestIndo 2008 digelar. Nah, berhubung ternyata film ini kembali diputar di jaringan bioskop Blitz. Tidak ada salahnya saya publikasikan kesan saya terhadap film horror asal Inggris ini.

Film horror? Eit, sebaiknya jangan terlalu antipati dulu. Meskipun di tengah cerita film ini bakal mengobrak-abrik andrenaline, justru keistimewaan film ini terletak dari sisi humor kelamnya.

Opening credit dan music score dari film ini sungguh di luar kebiasaan. Lupakan alunan mistik dan gelap string-section orchestra yang mencabik-cabik durasi. Di film ini, justru komposisi musik mengalun bagaikan arena sirkus atau carnaval. Sungguh riang dan lucu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Australia: Ketika Durasi Panjang Menjadi Bumerang

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 23, 2008

australiaposter1Sejak film Titanic memborong piala Oscar pada Academy Award tahun 1997,  seperti ada sebuah pakem baru di kancah penghargaan perfilman internasional. Hampir semua film yang berlaga di  ajang Golden Globe, Palm D’or, maupun Academy Award kebanyakan adalah film berdurasi lebih dari 2 jam.  Tapi tidak sedikit pula film berdurasi panjang hanya cukup puas menembus box office atau malah jeblok di pasaran.

Durasi yang panjang memang memungkinkan pembuat film lebih bebas berkreasi membangun sebuah alur cerita. Namun tidak sedikit pula yang lupa akan konsistensi. Kecerobohan dari para pembuat film dengan durasi panjang kebanyakan lebih kepada cerita yang bertele-tele, konflik yang dipaksakan, dan hilang fokus pengakhiran cerita.  Contoh teranyarnya ada di film Australia, yang dibintangi Nicole  Kidman (Lady Sarah Ashley) dan Hugh Jackman (Drover).

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , | 2 Komentar »

The Day The Earth Stood Still: Bikin Kapok Nonton Film Remake!

Ditulis oleh planetmiring di/pada Desember 16, 2008

daytheearthstoodstillposter1When remake goes bad!! Begitulah sekiranya gambaran betapa film ini merusak ekspetasi saya akan sebuah film bergenre sci-fi sekelas Independence Day yang tidak pernah bosan untuk ditonton berkali-kali.

The Day The Earth Stood Still (TDTESS) tampaknya melengkapi pengalaman saya sebagai yang “tertipu” dari sebuah film sci-fi remake seperti War of The World, dimana nama besar Steven Spielberg sebagai sutradara dan Tom Cruise sebagai aktor utamanmya, tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.

Begitupun The Day The Earth Stood Still. Sekalipun penonton “diiming-imingi” penampilan Keanu Reeves, film ini tidak berdaya di alur cerita. Untuk 30 menit pertama memang saya terpana, selebihnya saya lebih suka menyelonjorkan badan di kursi bioskop sambil berharap plot cerita berkembang lebih baik. Nyatanya, hingga akhir dari 30 pertama itu, film ini sangat membosankan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , | 4 Komentar »

Rob Zombie Mengacaukan Halloween?

Ditulis oleh planetmiring di/pada November 4, 2008

Rob Zombie memang eksentrik. Saking eksentriknya semua film besutan performer band cadas White Zombie ini memadukan seksualitas dalam gelimangan darah. Sadomasochist? Entahlah. Yang jelas di setiap film Zombie, sebut saja “House of 1000 Corps” dan “The Devil’s Rejects”, semua perempuan adalah objek pembunuhan yang mengasyikan dan menggairahkan: hampir semua yang terbunuh dalam keadaan bugil.

Seperti halnya Marylin Manson, tampaknya Zombie sangat terobesi dengan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Sekalipun sang istri, Sheri Moon Zombie, selalu dilibatkan dalam film-film sadisnya, itu juga tak jauh dari peran-peran bitchy! Makanya setiap orang geleng-geleng kebingungan begitu proyek reboot “Halloween” yang legendaris itu diserahkan oleh Zombie. Padahal sutradara kawakan seperti Ridley Scott (Alien, Gladiator, Hannibal, Body of Lies) sudah cukup napsu mau menggarapnya.

Burukkah hasilnya? Ehem, secara penggarapan, Zombie memang sudah dibilang cukup berhasil menterjemahkan Halloween yang pernah diproduksi tahun 1978 ini dengan versinya sendiri. Pada bagian awal film, Zombie setidaknya ingin sedikit sentimentil dengan mengangkat penderitaan batin Michael Myers, seorang bocah produk broken home yang akhirnya menjadi psikopat. Sayangnya, penggarapan disini kurang mengangkat emosi penonton, sekalipun adegan-adegan yang ditampilkan cukup mewakili kekelaman masa kecil Michael. Mungkin Zombie tak ingin melupakan pakem that’s my thriller movie. Sentimentil yang berlebihan memang bukan gayanya.

Yang sedikit agak lucu mungkin Zombie terlalu menekankan ‘perempuan bitchy memang pantas dibunuh’ dalam film ini. Tak heran, setiap korban-korban Michael Myers–perempuan muda–selalu dibunuh dalam kondisi topless dan sehabis esek-esek alias berbuat mesum. Setidaknya ada tiga scene adegan seperti ini. Be creative, Zombie! Untuk adegan-adegan seperti ini, seorang teman saya merasa keheranan: kenapa Michael itu niat banget bunuh cewek-cewek, sampe dikejar-kejar segala? Sementara kalo cowok dibunuh seketemunya aja. I dunno…

Sekalipun film ini dibanding-bandingkan dengan versi John Carpenter, setidaknya Zombie telah membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang bercita rasa. Halloween 2007 memang sangat identik sekali dengan film-film karya dia sebelumnya. Yang patut diuji dari film ini adalah kemampuannya mempertahankan tensi ketegangan hingga pada puncaknya.

Jika ada orang yang bilang Zombie telah menghancurkan Halloween, saya pun kurang lebih setuju. Namun, yang mencengangkan film garapannya ini berhasil menembus box office di musim panas tahun lalu, bersaing bersama film-film wahid seperti Pirates Caribian. Sungguh langkah yang gagah berani, mengingat film horror beresiko keok jika bertengger dalam summer movie. Namun, ada yang menilai pemutaran lebih awal film ini karena Halloween enggan bersaing dengan Saw IV yang dirilis tepat pada malam Halloween tahun lalu. 

Namun, bagi yang menggemari film slasher movie atau pengggemar film Halloween-nya John Carpenter, saya sangat merekomendasikan film ini. Bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk setidaknya menikmati bahwa Michael Myers adalah sebuah legenda dari icon film horror paling populer hingga saat ini. Saya pun tidak malu mengaku perlu waktu setahun menunggu film ini beredar di bioskop dan tidak tergoda dengan DVD bajakannya yang sudah lama beredar di lapak-lapak.

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , , , | 4 Komentar »

P2, Teror Berdarah Di Gedung Parkir

Ditulis oleh planetmiring di/pada Oktober 27, 2008

LOL

her boobs so entertaining :LOL

 Membangun ketegangan dalam sebuah film gak perlu dalam bentuk setting yang rumit dan bombastis. Salah satu contohnya di film ini. Mengambil setting sebuah lahan parkir di dalam gedung perkantoran sungguhan di Toronto, Kanada, P2 benar2 sebuah thriller yg mampu membangun ketegangan.

Di samping setting yg tidak membutuhkan riset besar2an, tema film ini tergolong sederhana yakni tentang seorang wanita karir Angela (Rachel Nichols) yang terperangkap di dalam gedung parkir kantornya sendiri ketika pulang lembur di malam natal. Perangkap ini dirancang oleh Thomas (Wes Bentley), seorang sekuriti kesepian yg memiliki kecenderungan psikopat. Thomas rupanya sudah lama memendam obsesi terhadap Angela (either her boobs! :-P ). Lewat CCTV yg dibawah pengawasannya, Thomas setiap waktu memantau keseharian Angela. Termasuk di bagian ketika perempuan berdada montok ini (percaya deh) mengalami pelecehan seksual oleh Mr Harper (Simon Renold), atasannya.
Dari sini pula, Thomas berinisiatif membalas perlakuan Harper dengan menabraknya dengan mobil dalam posisi terikat hingga ke tembok. Bisa ditebak, Harper mati dengan kondisi tubuh hancur. Sementara di bawah teror Thomas, Angela dipaksa menyaksikan adegan sadis ini.
Sebenarnya, film P2 cukup menarik, baik dari alur maupun penggarapan sinematografi. Tak perlu hitung2an matematis, penonton pun bakal tahu berapa modal yg dikeluarkan dari produksi film ini. Sayangnya, sang sutradara kurang menggali latar belakang kondisi kejiwaan Thomas, disamping akting Bentley yg kurang greget. Sehingga alasan kecenderungan psikopat Thomas yg kesepian sepertinya kurang kuat dalam membangun sisi kelamnya. Termasuk obsesinya terhadap Angela pun kurang tergarap.
Namun, bagi penggemar film thriller psikopat seperti Red Eye, Black Christmas, sama American Psycho, sepertinya film ini wajib ditonton. Adegan kejar-mengejarnya cukup membuat tensi meninggi. Jangan lupa, bersiap2 terpana dengan body seksi Angela :-P
*di forum2 film justru boops Rachel Nichols jadi pembicaraan…wooow

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , , , , , | Leave a Comment »

The Dark Knight : Membangkitkan Cinta Lama

Ditulis oleh planetmiring di/pada Juli 18, 2008

Film The Dark Knight (TDK) memang keren! Saking kerennya, sanggup membuat seorang Chandra mau posting blog di pagi sebuta ini hanya untuk sedikit bercuap-cuap tentang film yang dibesut Christopher Nolan ini. Saya memang salah satu dari sekian juta penggemar Batman yang sudah lama menantikan film ini. Bedanya, tingkat fanatik saya mungkin masih di bawah mereka.

 

Tingkat fanatik saya terhadap alter ego dari Bruce Wayne ini sempat hilang begitu penokohannya pada Batman & Robin diberikan kepada George Clooney. Film tersebut, menurut saya merupakan franchise terburuk dari film Batman yang pernah ada. Selain faktor cengos dan tebar pesona Clooney, penggarapan scene yang tidak kelam dan terlalu berwarna-warni, menjadikan saya hampir percaya bahwa tidak akan lagi Batman yang keren selain dalam racikan Tim Burton (Batman, Batman Returns).

 

Akibat rasa percaya itu, saya hampir saja melewati Batman Begins (BB) yang merupakan debut Nolan dalam film Batman. Memasang aktor Christian Bale, menurut Ryan, teman saya yang menggilai Batman, sikuel ini merupakan riwayat Batman yang sangat kelam. Malah dibilang, BB merupakan antidot dari kerusakan penokohan Batman oleh Clooney. Tak heran, untuk The Dark Knight penyutradaraan kembali diserahkan kepada Nolan.

 

Mengacu pada gembar-gembor media dan review majalah hingga pemberitaan keterkaitan tewasnya Heath Ledger dengan peran Joker yang dimainkannya, membuat rasa penasaran saya terhadap TDK semakin menjadi. Toh, akhirnya rasa itu terbalaskan malam tadi, meskipun harus dilalui sedikit perjuangan.

 

Dari rencana awal ingin menonton di Platinum FX, saya dan Ryan harus berputar otak, mencari bioskop mana yang juga memutar film ini. Karena, meski menyediakan dua layar untuk TDK, ternyata kami tetap gak kebagian kursi strategis. Toh, pilihan akhirnya tertuju pada Planet Hollywood yang jaraknya hanya sekian kilometer dari bioskop tersebut.

 

Sesampai disana, ternyata dari dua layar yang ada hanya pemutaran di pukul 21.45 saja yang masih menyediakan lahan strategis. Padahal, kami sampai disana pukul 19.00. Mau gak mau ya, kami harus rela menunggu 2 jam menonton TDK, sambil mengisi perut di Hokben yang posisinya gak jauh dari bioskop. *Biarin, yang penting dapet tempat duduk yang asik* saya bersyukur dalam hati.

 

Perjuangan saya ternyata sangat sangat sangat tidak sia-sia. Harus diakui, TDK merupakan sikuel terbaik dari film Batman yang pernah ada. Selesainya film, saya dan Ryan hampir tidak habis-habisnya berceloteh tentang betapa kerennya film ini. Betapa tidak, mengingat Nolan berhasil membuat terobosan dengan menampilkan scene siang hari. Biasanya, kebanyakan film Batman diambil pada malam hari. Itu pun settingnya sangat studio sekali. Meskipun cukup banyak pengambilan gambar di siang hari, TDK tidak kehilangan sisi kelamnya. Justru film yang berdurasi hampir 3 jam ini menjanjikan banyak kejutan. Dari pemilihan konflik dan dialog-dialog cerdas, hingga karakter yang penuh greget. Yang paling menonjol adalah karakter Joker yang diperankan mendiang Heath Ledger.

 

Harus saya akui, Joker dalam TDM merupakan tokoh psikopat terbaik yang pernah saya tonton (we’ll be missing  you Heath!). Banyak kejengkelan-kejengkelan yang dipertontonkan lewat aksi Joker. Sebaliknya, kita juga dibuat simpati dengan tokoh Harvey Two Face yang awalnya merupakan sosok sempurna dan mendekati karakter pahlawan sejati, namun harus menjadi penjahat karena kehilangan Rachel Dawes yang ternyata keduanya saling mencintai.

 

Dari sisi music score, Henz Zimmer patut diacungi jempol. Banyak irama monoton yang sanggup membuat kita dibuat penasaran aksi apa yang terjadi selanjutnya. Sungguh pemicu adrenalin yang baik di sepanjang film.

 

Sungguh rasanya kantuk saya hampir hilang dengan menuliskan kesan saya terhadap TDK. Tapi, berhubung saya berjanji akan menelpon teman saya pagi ini, terpaksa posting ini saya akhiri untuk beberapa karakter huruf lagi. Sepertinya, saya pun akan menceritakan kesan yang sama dengan teman saya ini. TDK benar-benar membuat saya kembali mencintai Batman!

 

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Remake Film Horor Asia Versi Hollywood Lebih Baik?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Juni 18, 2008

 

 

 

Meski pernah sesumbar bahwa Hollywood gak bakal daur ulang (remake) film horror Asia lagi tahun ini akibat beberapa remake film horror Jepang-nya seperti Dark Water dan Pulse gagal secara komersil, toh akhirnya para sineas di sana menjilat ludahnya sendiri. Jika mengingat sukses The Grudge (Ju-On) dan The Ring, tampaknya mereka tergoda untuk remake beberapa horror Asia, dengan harapan bakal dulang sukses yang sama. Kali ini gak hanya horror Jepang yang di-remake. Mereka mulai melirik Thailand dan China yang belakangan ini memang berhasil membuat film-film horror yang menggebrak.

 

Tapi benarkah alih produksi film sineas Asia ke kreator Hollywood yang notabene lebih “hebat” dan “canggih” bakal menghasilkan sebuah karya yang lebih baik? Kalo dari sisi teknis gambar dan sinematografi memang sepertinya Hollywood berhasil membuat The Grudge dan The Ring lebih “ringan” dari orsinilnya yang memiliki cerita agak “ngawur” dengan kualitas gambar yang kadang-kadang buram dan tidak fokus.

 

 

Namun, jika membangun kengerian yang sama, tampaknya Hollywood keteteran dalam hal ini. Maklum, mereka terbiasa dengan genre horror yang plot-nya cepat. Itulah sebabnya di beberapa remake, mereka seolah memaksakan film horror itu harus memberikan ketegangan dari awal hingga akhir cerita. Padahal, kebiasaan di Asia, film horrornya lebih “alon-alon kelakon” alias diam-diam mengerikan. Seperti yang pernah diutarakan Rob Zombie (sutradara Devil Reject, House of 1000 corps, dan reboot Halloween), bahwa film horror Asia sensasinya sangat berbeda dengan horror negara barat. “Jika di awal tampang anteng-anteng saja, film horror Asia pada bagian akhirnya bakal membuat orang ketakutan setengah mati,” ujar Rob dalam sebuah interview di televisi.

 

Nah, aksi “jilat ludah” sineas Hollywood tahun ini diwakili lewat remake One Missed Call (Chakhusin Ari/Jepang), The Eye (Gin Gwai/Hongkong), dan Shutter (Thailand). Sayangnya, remake tersebut tidak membuatkan sensasi baru dengan taste Hollywood. Dari ketiga film itu terlihat jelas bahwa improvisasi yang dilakukan Hollywood tidak berhasil “mengelabui” penontonnya bahwa film yang dibuat hanya “copy-paste” versi orsinilnya. Yang paling kentara adalah film Shutter. Film yang masih berkibar di bioskop Jakarta ini bisa dibilang tak memberikan sesuatu yang baru, terkecuali karakter para tokohnya. Kalaupun ada sesuatu yang baru, malah menjelaskan bahwa film ini lebih buruk dari versi Thailand.

 

Lewat karakter tulisan yang malas saya perpanjang ini, saya memang enggan menjelaskan detil keburukan dari film remake tersebut. Jika ingin jelas, coba deh buru DVD Shutter versi Thailand dan segeralah nonton Shutter versi Hollywood. Kemudian, dengan berbondong-bondongnya penonton yang memenuhi ruang bioskop yang memutar film Shutter, saya yakin kebanyakan mereka hanya ingin membandingkan film tersebut dengan versi aslinya. Atau bisa juga mereka menonton dulu versi remake-nya kemudian segera datang ke toko penjual DVD untuk membeli versi aslinya dan langsung membandingkan. Hasilnya, two thumbs up buat sineas Thailand. Mereka berhasil mencundangi sineas Hollywood dengan film tersebut.

 

Nah, ribut-ribut soal ramainya Hollywood melakukan remake film horror Asia terutama Thailand yang bisa dibilang sebagai negara tetangga dekat, membuat saya iri luar biasa. Bagaimana tidak. Sukses remake Shutter membuat Thailand kian dikenal sebagai negara pembuat film horror berkualitas dari Asia Tenggara. Kalo Indonesia?

 

Jujur aja, negara kita memang didominasi produksi film horror. Tapi dari yang banyak itu cuma beberapa saja yang pantas dibilang bagus, meskipun kebanyakan juga belum pantas jika di-remake oleh Hollywood. Kebanyakan horror Indo lebih sekedar menampilkan penampakan hantu tapi malah mengesampingkan kualitas cerita. Lelah rasanya mata ini jika setiap saat dijejali penampakan hantu tapi ceritanya ngawur. Apalagi kalo hantunya ‘necis” dengan tampilan gaun putih bersih dan rambut lurus seperti di-rebounding (pasti keramasnya pake shampoo Rejoice hehehe…).

 

Padahal negara kita punya Suzanna yang dijuluki sebagai “Ratu Horror” yang saya rasa di negara mana pun belum memiliki sosok seperti dia. Jaman dulu pun, horror-horror lokal sanggup membuat saya ketakutan setengah mati hingga sekarang. Selain itu, negara kita memiliki banyak cerita rakyat yang penuh misteri. Sayangnya, film sekarang malah menghancurkan mitos-mitos tersebut lewat penggarapan yang asal-asalan.

 

Saya memang sudah terlanjur menggemari film horror western yang berdarah-darah, bukan film yang memfokuskan diri pada sosok hantu seperti horror Asia. Meski begitu saya tetap berharap kualitas film horror lokal semakin baik seiring membaiknya film-film lokal dengan genre lain. Bagaimanapun sebagai warga negara asli, akan bangga rasanya jika hasil karya bangsa diadaptasi oleh negara lain. Apalagi negara itu dikenal lebih “hebat” dan “canggih” seperti Amerika.

 

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Jenifer : Mencekam Dalam Durasi Singkat

Ditulis oleh planetmiring di/pada April 3, 2008

jenifer.jpg

Membuat film horror bermutu tidak perlu durasi yg panjang, budget besar, dan judul yang bombastis. Setidaknya Dario Argento membuktikan hal ini dlm film tv-nya yg berjudul Jenifer. Master film horror asal Italia ini membuktikan, dengan durasi 58 menit di pemutar DVD player, Jenifer tetap pantas disejajarkan film horror berbudget besar.

Cerita bermula dari aksi penyelamatan polisi terhadap seorang gadis bernama Jenifer yg hampir dibunuh oleh seorang lelaki. Dalam menyelamatkan Jenifer, dia terpaksa menembak mati si pelaku yg berkata, “She’s an evil”, sembari menghembuskan nafas terakhir.

Sekilas, Jenifer punya body dan rambut yg aduhai. Tapi jika melihat wajahnya, wow cukup mengerikan. Yup, selain matanya besar, doi juga punya bibir memble ditambah gigi yg besar dan tajam.

Selama kasus Jenifer dalam penanganan, Steven bersedia menampungnya di rumah utk sementara. Nah, disinilah masalah bermuara. Di rumah ini, Jenifer mulai berulah. Korban pertamanya adalah kucing peliharaan keluarga polisi tsb. Dgn santainya Jenifer memakan isi perut kucingnya di kamar mandi.

Melihat kelainan Jenifer, Steven dipaksa istrinya utk membuang Jenifer. Dalam perjalanan menuju tempat pembuangan, Steven malah terintimidasi secara seksual. Steven benar2 mengalami pengalaman seks yg tidak pernah diperoleh dari istrinya. Steven pun luluh dan membawa Jenifer kembali. Bisa ditebak, istri Steven marah dan minggat dari rumah.

Sepeninggal istri Steven, Jenifer kian ganas. Selain kerap menjadikan Steven sebagai objek seksnya, doi terus membunuh orang2 dgn cara memakannya. Steven pun kalang-kabut. Entah demi cinta atau apa, Steven rela meninggalkan pekerjaan n menyendiri bersama Jenifer di sebuah hutan. Sambil berharap Jenifer berhenti membunuh.

Cinta dan pengorbanan Steven berakhir dgn matinya dia ditangan seorang pemburu ketika berusaha membunuh Jenifer yg tdk bisa berhenti membunuh. Kondisi ini sama dgn seorang lelaki yg pernah ditembaknya ketika ingin menyelamatkan Jenifer..

Ditulis dalam RevieW, Uncategorized | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Film Ayat-Ayat Cinta : Jangan Bandingkan Dengan Novelnya…

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 11, 2008

 ayat1.jpg

Begitu mendengar novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El Shirazy akan difilmkan, ada semacam perasaan senang bercampur risau. Senang karena akhirnya perfilman nasional berani menampilkan romantisme berbalut religi yang akan menambah warna poster-poster film di bioskop yang selama ini didominasi oleh film horor, komedi konyol dan drama remaja yang gak penting. Kemudian, risau karena griya film yang membuatnya adalah MD Entertainment.

Lho? Iya, sebab jujur saja saya tidak suka dengan produk sinema elektronik yang diproduksi PH yang merupakan klan Punjabi ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa PH ini kerap menayangkan produk yang jauh dari manfaat dan cenderung melecehkan moralitas dan logika. PH ini juga jelas-jelas diperbudak rating dengan menempatkan seluruh sinetronnya dalam format striping yang akhirnya membuat ibu-ibu atau remaja putri terjerumus untuk selalu setia di depan televisi setiap harinya. Saya adalah salah satu korbannya. Setiap lepas maghrib hingga jelang tengah malam, TV di rumah dikuasai oleh ibu dan kakak-kakak saya. Sehingga kumpulan channel asing yang lebih bermutu yang ingin saya tonton (kebetulan saya berlangganan Astro TV) tidak berdaya di jam-jam ini.

Untungnya, MD menjaga amanah Kang Abik (panggilan penulis novel AAC) yang berharap film AAC yang dibuat lebih bagus dari novelnya, seperti yang tertuang dalam ucapan terima kasih di halaman belakang novel yang telah berkali-kali dicetak ulang ini. Saya sangat beruntung sekali mendapatkan kesempatan pertama—dapat undangan dari seorang teman—untuk menyaksikan film tersebut di kantor MD sebelum rilis di bioskop. Tapi apa memang betul filmnya lebih bagus daripada novelnya?

Sebenarnya sih bisa dibilang film ini lumayan mencerminkan isi novelnya. Jika awalnya saya mencurigai peran Fahri akan ‘dirusak’ oleh cast yang asal-asalan, ternyata tidak begitu kenyataannya. Ferdi Nuril ternyata cukup cocok memerankan Fahri yang notabene berkarakter tiada cela. Ferdi rupanya berhasil melakukan lompatan besar dalam akting ketika memerankan tokoh ini, mengingat peran-peran dia di beberapa film dan sinetron tergolong chessy. Begitupun dengan Riyanti Cartwright yang memerankan tokoh Aisyah. Lewat perannya itu, VJ MTV ini sanggup melepaskan streotipnya sebagai akrtis yang memerankan cewek gaul.

Dari segi cerita memang setiap durasi kita seolah membuka lembar demi lembar halaman novelnya. Namun sayang, Hanung, sang sutradara kurang mengekploitasi kehidupan masyarakat Mesir dan keindahan pemandangannya, seperti yang tergambar dalam novel. Saya tidak menyangka, flat yang ditinggali oleh Fahri dan keluarga Maria berada divisualkan dalam lingkungan yang kumuh dan gelap. Begitu pun dengan suasana lingkungan masyarakat Mesir yang tidak lebih dari sebuah suasana di dalam studio film. Dalam hal ini, bisa dibilang novel AAC lebih imajinatif dibandingkan filmnya. Kondisi yang sama juga pernah ditemui ketika novel The Da Vinci Code dibuatkan versi layar lebarnya. Memang sih, dalam urusan memindahkan sudut pandang penulis ke dalam film akan menjadi sebuah hal yang subjektif. Karena belum tentu si pembuat film memiliki isi otak yang sama dengan si pembuat novelnya. Jadi, masalah properti dan teknis artistik seperti ini bisa dimaafkan.

Jika di novelnya kita merasa hangat dengan keramahan Tuan Boutros dan Yousef yang merupakan ayah dan adik Maria, jangan harap kedua tokoh ini akan tampil di dalam film. Begitu pun juga seorang professor dan rekan-rekan sesama tahanan di dalam sel ketika Fahri ditangkap atas tuduhan perkosaan. Sulit rasanya menerima bahwa tokoh-tokoh penting seperti ini ditiadakan di dalam film. Dengan adanya pemangkasan tokoh tentu saja berimbas pada pemangkasan cerita. Misalnya saja undangan makan malam keluarga Maria ke sebuah restoran mewah, peristiwa sakitnya Fahri akibat kelelahan, hingga cerita penting seperti pencarian orangtua kandung Noura hanya terwakili dalam plot-plot yang singkat.

Hal yang saja juga dialami kisah pertemuan antara Aisyah dan Fahri di dalam sebuah kereta kurang tergarap secara detil. Sehingga bagi yang belum membaca novelnya mungkin akan bertanya-tanya, kenapa begitu mudah Aisyah dan Fahri berjodoh dan menikah. Karena memang chemistry keduanya kurang tergarap maksimal. Yang mengecewakan, tokoh Alicia, reporter kebangsaan Amerika yang tertarik dengan Islam juga dibiarkan menghilang begitu saja dan tampil tanpa durasi yang berarti. Padahal, di akhir cerita seharusnya ditampilkan Alicia yang memakai jilbab karena telah memeluk agama Islam.

Meski memiliki kekurangan di sana-sini, dari keseluruhan cerita, film ini cukup konsisten menjaga keorisinalan isi novelnya. Sedikit kreativitas pembuat film ini juga patut diacungi jempol. Tokoh Aisyah yang pada novelnya digambarkan cerdas dan penyabar, di dalam film ini malah cenderung sinis dan pencemburu. Karakter inilah yang membuat konflik dirinya dengan Fahri—yang dicintai banyak perempuan—menjadi semakin asyik untuk ditonton. Begitu pun dengan flash-back perjumpaan Fahri dengan Maria yang dibuat sangat romantis namun tetap dalam pakem novel.

Mungkin poin yang tidak dijumpai dalam novel di film ini adalah kehidupan rumah tangga poligamis antara Fahri, Aisya, dan Maria yang digambarkan cukup jenaka dengan porsi yang lumayan berisi. Melihat adegan ini saya jadi teringat dengan film seri Big Love yang tayang di HBO, dimana seorang pengusaha memiliki tiga orang istri yang saling cemburu dan bersaing merebut perhatian sang suami.

Menonton film ini secara keseluruhan kita akan disajikan kesegaran cerita yang cukup membuat hati pilu pada akhirnya. Jika dibandingkan dengan versi novelnya, film AAC memang bukan apa-apa. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan beberapa film lokal yang sedang beredar di beberapa bioskop ibukota, tampaknya film ini jauh lebih baik karena menawarkan cerita dan setting yang lebih segar dari yang ada. Hingga saat rilisnya nanti di bioskop, saya pun berniat menontonnya kembali. Salut untuk MD entertainment, semoga sinetron-sinetronnya bisa seperti ini….

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , | 14 Komentar »