Pagi tadi mata saya terbelalak tajam ketika membaca sebuah berita dari sebuah koran yang memuat headline kedekatan Maia Estianti dengan Prabowo, pentolan Partai Gerindra. Apa yang membuat mata saya bereaksi berlebihan tentu saya bukan berita gosip kedekatan ketua figur publik ini, tapi justu kepada celotehan Maia dalam kampanye partai tersebut di suatu daerah.
Arsip Kategori: Politic
Sosialisasi Pemilu 2009, KPU Rambah Youtube
Agar penyelenggara pemilu, baik masyarakat pemilih, peserta, dan stakeholder lainnya memiliki pemahaman yang seragam dalam mengikuti pelaksanaan dan pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS), baru-baru ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) bekerjasama dengan United Nation Development Programme (UNDP) melalui Project Election-MDP, meluncurkan “Buku Pintar KPPS, Modul PPK, dan video KPPS.
Evaluasi Eksistensi DPD-RI: Belum Tampil ‘Garang’ di Parlemen
Hadirnya Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) di jajaran parlemen Indonesia sudah tentu membawa angin segar dalam kancah perpolitikan di Tanah Air. Terutama, masyarakat yang kadung apatis dengan kinerja parlemen yang selama ini dianggap hanya kepanjangan tangan dari partai politik. Namun, apakah kinerjanya dinilai sudah sesuai harapan?
Pesan Dari Alien
Kepintaran manusia sebagai makluk bumi ternyata mengundang rasa benci dari para alien. Kebencian itu diwujudkan lewat sebuah pesan yang sudah sampai dan diterima oleh Pemprov Riau. Menindaklanjuti pesan alien tersebut, akhirnya pihak Pemprov membuat pengumuman tercetak di sebuah media terbitan Batam.
WNI menjadi tentara bayaran di negeri orang, salah siapa?
Belakangan ini kita dikejutkan oleh pemberitaan seputar perekrutan WNI sebagai tentara bayaran di Malaysia dan ada juga yang mengikuti program wajib militer (wamil) di Singapura. Mengetahui kenyataan yang sempat membuat kuping para pejabat militer di negeri ini merah, pemerintah mengeluarkan ancaman permanent resident atau pencabutan kewarganegaraan bagi WNI yang mengikuti program militer di Singapura dan Malaysia.
Dengan ada berita sensasional ini, seharusnya pemerintah jangan buru-buru mengeluarkan tindakan permanent resident. Seharusnya pemerintah mengkoreksi diri dan melakukan pembenahan perekrutan tenaga militer di negeri sendiri. Karena sudah menjadi rahasia umum, perekrutan sebagai anggota militer, kepolisian, kejaksaan, maupun PNS, terjadi praktek pencaloan dan penyogokan yang melibatkan internal instansi yang bersangkutan.
Untuk lolos sebagai abdi negara, WNI harus mengeluarkan uang yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini bukan kabar burung, karena banyak teman dan kerabat saya yang mengalami hal ini. Sangat ironis sekali, ingin mengabdi kepada negara kok mesti bayar. Herannya praktek ini sudah berlangsung sejak lama dan kita terlalu bosan dengan berita-berita penyelewengan seperti ini namun tidak ada tindakan nyata.
Apa jadinya mental aparat dan pamong di negeri ini kalau perekrutannya saja sudah berbau KKN. Tampaknya hal ini pula yang menjadi indikator kinerja tenaga aparat pemerintah yang amburadul itu. Mereka menjadi aparat bukan karena cita-cita dan ingin mengabdi kepada negara, namun dikarenakan memang instansi ini dilihat sebagai lahan yang ‘basah’ untuk materi maupun kekuasaan. Perekrutan seperti ini jelas merusak mental.
Jadi, jangan salahkan mereka yang menjadi tentara bayaran di Singapura dan Malaysia, karena toh menjadi tentara di negeri sendiri harus merogoh kocek yang dalam. Cari kerja sudah sulit, kenapa mengabdi kepada negara juga dipersulit. Kalaupun nanti kewarganegaraan mereka dicabut, sepertinya mereka sendiri juga tidak peduli mengingat pemerintah di negeri ini juga tidak peduli dengan mereka.
Negara ini hanya dipimpin oleh sekumpulan badut-badut yang rakus kekuasaan dan materi. Mereka seolah melupakan petuah Haji Agus Salim bahwa memimpin adalah sebuah jalan derita. Sekarang ini, justru memimpin adalah sumber kenikmatan. Menulis ini kerinduan saya akan pemimpin bersih dan berani seperti Bung Karno dan Moh Hatta kembali bergelora di hati. Namun, melihat kebejatan yang terus terjadi di dunia kepemimpinan negeri ini, tampaknya harapan pupus harapan ini. Revolusi adalah solusi!
