RSS

Arsip Kategori: Politic

Indonesia Masih Butuh Presiden Ganteng (Lagi)???

Pagi tadi mata saya terbelalak tajam ketika membaca sebuah berita dari sebuah koran yang memuat headline kedekatan Maia Estianti dengan Prabowo, pentolan Partai Gerindra. Apa yang membuat mata saya bereaksi berlebihan tentu saya bukan berita gosip kedekatan ketua figur publik ini, tapi justu kepada celotehan Maia dalam kampanye partai tersebut di suatu daerah.

Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by pada April 1, 2009 in Politic

 

Kaitkata: , , , , , , , ,

Sosialisasi Pemilu 2009, KPU Rambah Youtube

kpu-youtubeAgar penyelenggara pemilu, baik masyarakat pemilih, peserta, dan stakeholder lainnya memiliki pemahaman yang seragam dalam mengikuti pelaksanaan dan pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS), baru-baru ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) bekerjasama dengan United Nation Development Programme (UNDP) melalui Project Election-MDP, meluncurkan “Buku Pintar KPPS, Modul PPK, dan video KPPS.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 29, 2009 in Politic

 

Kaitkata: , , , , , ,

Evaluasi Eksistensi DPD-RI: Belum Tampil ‘Garang’ di Parlemen

dpd_logo1Hadirnya Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) di jajaran parlemen Indonesia sudah tentu membawa angin segar dalam kancah perpolitikan di Tanah Air. Terutama, masyarakat yang kadung apatis dengan kinerja parlemen yang selama ini dianggap hanya kepanjangan tangan dari partai politik. Namun, apakah kinerjanya dinilai sudah sesuai harapan?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 27, 2009 in Politic

 

Kaitkata: , , , ,

Pesan Dari Alien

Kepintaran manusia sebagai makluk bumi ternyata mengundang rasa benci dari para alien. Kebencian itu diwujudkan lewat sebuah pesan yang sudah sampai dan diterima oleh Pemprov Riau. Menindaklanjuti pesan alien tersebut, akhirnya pihak Pemprov membuat pengumuman tercetak di sebuah media terbitan Batam. 

 
5 Comments

Posted by pada Agustus 28, 2008 in Politic

 

Kaitkata: , , , ,

WNI menjadi tentara bayaran di negeri orang, salah siapa?

Belakangan ini kita dikejutkan oleh pemberitaan seputar perekrutan WNI sebagai tentara bayaran di Malaysia dan ada juga yang mengikuti program wajib militer (wamil) di Singapura. Mengetahui kenyataan yang sempat membuat kuping para pejabat militer di negeri ini merah, pemerintah mengeluarkan ancaman permanent resident atau pencabutan kewarganegaraan bagi WNI yang mengikuti program militer di Singapura dan Malaysia.
Dengan ada berita sensasional ini, seharusnya pemerintah jangan buru-buru mengeluarkan tindakan permanent resident. Seharusnya pemerintah mengkoreksi diri dan melakukan pembenahan perekrutan tenaga militer di negeri sendiri. Karena sudah menjadi rahasia umum, perekrutan sebagai anggota militer, kepolisian, kejaksaan, maupun PNS, terjadi praktek pencaloan dan penyogokan yang melibatkan internal instansi yang bersangkutan.
Untuk lolos sebagai abdi negara, WNI harus mengeluarkan uang yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini bukan kabar burung, karena banyak teman dan kerabat saya yang mengalami hal ini. Sangat ironis sekali, ingin mengabdi kepada negara kok mesti bayar. Herannya praktek ini sudah berlangsung sejak lama dan kita terlalu bosan dengan berita-berita penyelewengan seperti ini namun tidak ada tindakan nyata.
Apa jadinya mental aparat dan pamong di negeri ini kalau perekrutannya saja sudah berbau KKN. Tampaknya hal ini pula yang menjadi indikator kinerja tenaga aparat pemerintah yang amburadul itu. Mereka menjadi aparat bukan karena cita-cita dan ingin mengabdi kepada negara, namun dikarenakan memang instansi ini dilihat sebagai lahan yang ‘basah’ untuk materi maupun kekuasaan. Perekrutan seperti ini jelas merusak mental.
Jadi, jangan salahkan mereka yang menjadi tentara bayaran di Singapura dan Malaysia, karena toh menjadi tentara di negeri sendiri harus merogoh kocek yang dalam. Cari kerja sudah sulit, kenapa mengabdi kepada negara juga dipersulit. Kalaupun nanti kewarganegaraan mereka dicabut, sepertinya mereka sendiri juga tidak peduli mengingat pemerintah di negeri ini juga tidak peduli dengan mereka.
Negara ini hanya dipimpin oleh sekumpulan badut-badut yang rakus kekuasaan dan materi. Mereka seolah melupakan petuah Haji Agus Salim bahwa memimpin adalah sebuah jalan derita. Sekarang ini, justru memimpin adalah sumber kenikmatan. Menulis ini kerinduan saya akan pemimpin bersih dan berani seperti Bung Karno dan Moh Hatta kembali bergelora di hati. Namun, melihat kebejatan yang terus terjadi di dunia kepemimpinan negeri ini, tampaknya harapan pupus harapan ini. Revolusi adalah solusi!

 
7 Comments

Posted by pada Februari 24, 2008 in Politic

 

Kaitkata: , , , , ,

Benarkah Sabar Masih Bisa diandalkan jadi solusi?

“Orang sabar disayang Tuhan”. Sepertinya kata2 bijak ini merupakan salah satu petuah yang paling populer bagi seluruh umat manusia selain “Hemat Pangkal Kaya” atau “Kebersihan itu sebagian dari Iman”. Saya sebagai manusia tentu sangat percaya dan yakin kalo Yang Maha Kuasa itu gak bakal melupakan kaum yang sabar. Udah banyak cerita sampai ke telinga saya mengenai orang yang ‘dibesarkan’ dari rasa sabarnya. Setiap hari, entah di koran, radio, buku, atau tivi, dipublikasikan sedemikian rupa bagaimana kesabaran itu sebagai salah satu kunci sukses seseorang dalam mengarungi kehidupan. Sinetron kita yg terkenal ‘ngehe’ aja selalu menempatkan orang yg sabar sebagai objek hiburan yg menjual (bukan mendidik), dimana tokoh protagonisnya selalu bersabar sekalipun dianiaya sedemikian rupanya. Sehingga digambarkan, orang sabar itu melulu tertampil sebagai sosok yg tidak berdaya, lemah, dan cenderung penakut.

Menurut saya, udah saatnya orang sekarang ini — khususnya di Indonesia, dimana para pemimpinnya reinkarnasi dari iblis terjahat—mengkaji ulang apa itu sabar dan sampai dimana batasnya. Dalam menghadapi ujian Tuhan, sabar itu seharusnya merupakan reaksi pertama begitu kita mendapatkan cobaan bukan mendominasi sikap kita. Jadi, selain ‘dilapisi’ rasa sabar manusia harus bertindak dan mencari jawaban siapa yang paling dan patut disalahkan atas terjadinya cobaan tersebut yang tentunya bukan berarti kita harus menggugat Tuhan. Disamping jangan menyalahkan org yang tidak bersalah tentunya. Dengan begitu solusi pasti ditemukan. Misalnya, jika seorang anak yang menjadi yatim karena ayahnya telah dibunuh oleh orang yg dikenalnya, apakah dia harus bersabar dan berharap mata hati si pembunuh akan terbuka dan mengakui kesalahannya? Idealnya, si anak harus berupaya menggiring si pelaku ke meja peradilan, baik itu bekerja sama dengan polisi atau dengan tangan sendiri.

Sama halnya, jika seorang siswa tidak lulus ujian, apakah dengan bersabar cukup menggiringnya lulus di ujian mendatang? Sama sekali tidak. Dia akan lulus ujian kalo berupaya sebaik mungkin dengan persiapan dan ‘amunisi’ yang memadai di ujian selanjutnya. Jadi, sabar bukan berarti menyerah. Mungkin, jika jalan keluar yang diharapkan menjadi buntu, barulah kita menyerahkan atau bertawakal kepada Allah. Ini pun tidak berhenti untuk berusaha, berusaha, dan berusaha.

Sayangnya, kalo saya lihat2 sih kebanyakan masyarakat kita masih menempatkan rasa sabar sebagai solusi. Gak salah deh, kita selalu dibodohi pemerintah yang selalu menyuruh kita untuk bersabar ketika menghadapi kenaikan harga, peraturan yg hanya menyenangkan beberapa golongan, dan beberapa kebijakan ‘jahat’ lainnya. Masih ingat salah satu iklan layanan masyarakat yg cukup populer pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu? Ya, dimana salah satu kyai kondang berlogat sunda dan pelaku poligami ini ‘dipasang’ sebagai bintang iklan yang menyerukan masyarakat untuk sabar dan tawakal menghadapi kenaikan BBM yang diberlakukan pemerintah.

Ironis memang. Seharusnya, di iklan tersebut, si AA meminta pemerintah memperhatikan nasib rakyat kecil yg terkena imbas dari kenaikan BBM tersebut dan menolak BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebagai subsidi bagi mereka karena udah dipastikan bakal tidak tepat sasaran dan rentan dengan kecurangan, bukan malah nyuruh2 orang untuk bersabar. Intinya, kenaikan BBM harus ditolak. Dus, benar saja kan. Gak lama setelah iklan itu beredar, masyarakat garis keras menanggapinya dengan dingin dan mengganggap si AA itu tidak mewakili suara umat. Tapi lagi-lagi, si AA malah tetap bersiteguh bahwa di kondisi sekarang masyarakat kita harus bersabar. Entah ke arah mana konotasi sabar yang dilontakan AA, yang jelas ini sama saja pembodohan.

Nah, begitu pun peristiwa yang baru2 ini menimpa saudara2 kita yang tengah menjalankan ibadah haji, dimana mereka dilanda kelaparan karena pasokan makanan tidak sampai kepada mereka hingga berhari-hari. Lagi-lagi, kesabaran adalah sesuatu yang diminta kepada pemerintah oleh mereka. Kedatangan Menteri Agama sama sekali tidak membantu karena cuma ‘membujuk’ mereka untuk selalu bersabar terhadap ‘cobaan’ tersebut. Coba, dipikir2, apakah kita harus bersabar terus, sementara kinerja pelayanan haji bangsa ini terkenal sangat amburadul dan tidak pernah belajar dari kejelekan pelayanan haji pada sebelumnya? Jadi, kita selama ini dibodohi untuk selalu bersabar, sementara mereka para pembuat kebijakan tidak melakukan perbaikan dan pembenahan. Sama halnya ketika beberapa ‘pahlawan devisa’ mengutarakan unek2nya kepada lembaga terkait mengenai beberapa pungli dan intimidasi yg dihadapi mulai dari keberangkatan hingga sampai lagi ke tanah air, cuma wejangan ‘harap sabar’ yang diperoleh mereka. Pemerintah sepertinya sangat lihai mempropagandakan rasa sabar sebagai solusi terhadap mereka kaum kecil yang terbiasa hidup apa adanya dan selalu menerima cobaan ini.

Yang tergres adalah mengenai banjir. Saya paling gedek dah sama pendapat beberapa orang yang menganggap banjir adalah siklus tahunan dan merupakan bencana yang wajar. Busyet deh, sabar apa bego ya masyarakat kita ini? Dikasih bencana kok mahfum sih? Mustinya, kita harus menggugat pemerintah terkait penanganan banjir yang gak pernah beres meskipun beberapa rezim telah berganti. Gobloknya, pemerintah kita kalo udah kejadian, baru deh ribut2 cari solusi. Nah, memangnya pas musim kemarau pada kemana aja? Molor apa sibuk latah bikin video porno buat disebar? Saya mah gak rela kalo musibah banjir dianggap kewajaran. Mungkin mereka para pembuat kebijakan gak ngerti rasanya gmana mengungsi dan berhari-hari terendam banjir. Sementara saya, rakyat kecil, sangat menderita dengan adanya bencana tersebut. Hal ini tentunya dirasakan oleh kebanyakan masyarakat kita yan jadi korban.

Dengan adanya kenyataan tersebut, sepertinya bangsa ini harus melenyapkan stigma sabar sebagai solusi. Karena sekarang ini sabar tidak sekedar disayang Tuhan, tetapi juga ‘disayang’ pemerintah. Ibaratnya, bangsa yg sabar bakal dijajah pemimpinnya sendiri. Masih mau terus bersabar? No way! Mari satukan kepalan gugat pemerintah agar melakukan perbaikan2! Karena gaji mereka berasal dari pajak yang kita bayar!!!

 
1 Comment

Posted by pada Januari 4, 2008 in Politic

 

Kaitkata: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.