Mitologi Yunani bisa dibilang sebagai literatur yang paling sering diangkat ke dalam layar lebar. Tak terhitung berapa produksi film yang menyisipkan mitologi populer ini ke dalam beberapa genre, baik action, drama, animasi, bahkan juga (maaf) film porno. Sudut pandangnya pun dari berbagai tokoh, seperti Hercules, Zeus, Athenna, maupun Poseidon. Yang teranyar, Warner Bros mempersembahkan Clash of the Titans, yang digadang-gadang sebagai film fantasi paling ditunggu tahun ini sebagai proyek remake dari film berjudul sama di tahun 1981 ini dengan Perseus sebagai tokoh sentralnya.
Arsip Kategori: Movie n’ Music
Clash of The Titans: Konflik Para Dewa
Adegan Kematian Paling Seksi
Adegan kematian untuk sebagian orang merupakan babak yang paling ‘mengganggu’ dari sebuah film. Tidak heran, ada kalanya adegan kematian dilewati dengan mata tertutup selama durasi berlangsung. Tapi, di balik adegan mengerikan tersebut terselip refleksi keindahan. Siapkan tensi Anda, karena daftar yang saya buat ini menghadirkan beberapa adegan kematian yang mengasyikan untuk ditonton berdasarkan kolaborasi dua elemen berbeda: sensualitas dan kematian. Jadi, jangan biarkan kedua tangan menghalangi mata Anda dalam menikmati adegan-adegan ini. Read the rest of this entry »
My Bloody Valentine 3D, Teknologi Real-ID 3D Membuatnya Lebih Mencekam
Kekerasan, ketegangan, dan nudity adalah sebuah intisari atau pakem yang dianggap penting dalam sebuah film suspence thriller di lini horor. Ketika pakem ini mulai dikemas dalam layar bioskop berteknologi tiga dimensi (3D), apa yang terjadi? sudah tentu film semakin mencekam. Begitulah yang saya rasakan ketika menonton film My Bloody Valentine 3D kemarin malam.
Sebagai pecinta film horor, menonton dalam format 3D tentu menambah kenikmatan tersendiri. Apalagi format 3D yang disajikan sangat jauh berbeda ketika ketika teknologi ini pernah booming di awal tahun 90an di kancah pertelevisian lokal. Kacamata yang digunakan bukan kacamata plastik warna merah-biru yang rapuh, melainkan kacamata dengan frame ala geek yang sedang dicemari tren masa kini.
Film My Bloody Valentine 3D disebut-sebut sebagai film horor pertama yang mengadopsi teknologi 3D, setelah sebelumnya format yang sama dibesut oleh film-film animasi. Di putar di 3D Blitz Megaplex yang menghadirkan film dengan teknologi RealID–kabarnya yang pertama di Asia Tenggara–sudah tentu tampilan 3D lebih canggih dibandingkan dengan 3D versi salah satu layar televisi tempo dulu.
Read the rest of this entry »
The Cottage: Tertawalah di Atas Darah
Sebenarnya film ini pernah saya tonton tahun lalu ketika hajat ScreamFestIndo 2008 digelar. Nah, berhubung ternyata film ini kembali diputar di jaringan bioskop Blitz. Tidak ada salahnya saya publikasikan kesan saya terhadap film horror asal Inggris ini.
Film horror? Eit, sebaiknya jangan terlalu antipati dulu. Meskipun di tengah cerita film ini bakal mengobrak-abrik andrenaline, justru keistimewaan film ini terletak dari sisi humor kelamnya.
Opening credit dan music score dari film ini sungguh di luar kebiasaan. Lupakan alunan mistik dan gelap string-section orchestra yang mencabik-cabik durasi. Di film ini, justru komposisi musik mengalun bagaikan arena sirkus atau carnaval. Sungguh riang dan lucu.
Australia: Ketika Durasi Panjang Menjadi Bumerang
Sejak film Titanic memborong piala Oscar pada Academy Award tahun 1997, seperti ada sebuah pakem baru di kancah penghargaan perfilman internasional. Hampir semua film yang berlaga di ajang Golden Globe, Palm D’or, maupun Academy Award kebanyakan adalah film berdurasi lebih dari 2 jam. Tapi tidak sedikit pula film berdurasi panjang hanya cukup puas menembus box office atau malah jeblok di pasaran.
Durasi yang panjang memang memungkinkan pembuat film lebih bebas berkreasi membangun sebuah alur cerita. Namun tidak sedikit pula yang lupa akan konsistensi. Kecerobohan dari para pembuat film dengan durasi panjang kebanyakan lebih kepada cerita yang bertele-tele, konflik yang dipaksakan, dan hilang fokus pengakhiran cerita. Contoh teranyarnya ada di film Australia, yang dibintangi Nicole Kidman (Lady Sarah Ashley) dan Hugh Jackman (Drover).
The Day The Earth Stood Still: Bikin Kapok Nonton Film Remake!
When remake goes bad!! Begitulah sekiranya gambaran betapa film ini merusak ekspetasi saya akan sebuah film bergenre sci-fi sekelas Independence Day yang tidak pernah bosan untuk ditonton berkali-kali.
The Day The Earth Stood Still (TDTESS) tampaknya melengkapi pengalaman saya sebagai yang “tertipu” dari sebuah film sci-fi remake seperti War of The World, dimana nama besar Steven Spielberg sebagai sutradara dan Tom Cruise sebagai aktor utamanmya, tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.
Begitupun The Day The Earth Stood Still. Sekalipun penonton “diiming-imingi” penampilan Keanu Reeves, film ini tidak berdaya di alur cerita. Untuk 30 menit pertama memang saya terpana, selebihnya saya lebih suka menyelonjorkan badan di kursi bioskop sambil berharap plot cerita berkembang lebih baik. Nyatanya, hingga akhir dari 30 pertama itu, film ini sangat membosankan.
Rob Zombie Mengacaukan Halloween?
Rob Zombie memang eksentrik. Saking eksentriknya semua film besutan performer band cadas White Zombie ini memadukan seksualitas dalam gelimangan darah. Sadomasochist? Entahlah. Yang jelas di setiap film Zombie, sebut saja “House of 1000 Corps” dan “The Devil’s Rejects”, semua perempuan adalah objek pembunuhan yang mengasyikan dan menggairahkan: hampir semua yang terbunuh dalam keadaan bugil.
Seperti halnya Marylin Manson, tampaknya Zombie sangat terobesi dengan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Sekalipun sang istri, Sheri Moon Zombie, selalu dilibatkan dalam film-film sadisnya, itu juga tak jauh dari peran-peran bitchy! Makanya setiap orang geleng-geleng kebingungan begitu proyek reboot “Halloween” yang legendaris itu diserahkan oleh Zombie. Padahal sutradara kawakan seperti Ridley Scott (Alien, Gladiator, Hannibal, Body of Lies) sudah cukup napsu mau menggarapnya.
Burukkah hasilnya? Ehem, secara penggarapan, Zombie memang sudah dibilang cukup berhasil menterjemahkan Halloween yang pernah diproduksi tahun 1978 ini dengan versinya sendiri. Pada bagian awal film, Zombie setidaknya ingin sedikit sentimentil dengan mengangkat penderitaan batin Michael Myers, seorang bocah produk broken home yang akhirnya menjadi psikopat. Sayangnya, penggarapan disini kurang mengangkat emosi penonton, sekalipun adegan-adegan yang ditampilkan cukup mewakili kekelaman masa kecil Michael. Mungkin Zombie tak ingin melupakan pakem that’s my thriller movie. Sentimentil yang berlebihan memang bukan gayanya.
Yang sedikit agak lucu mungkin Zombie terlalu menekankan ‘perempuan bitchy memang pantas dibunuh’ dalam film ini. Tak heran, setiap korban-korban Michael Myers–perempuan muda–selalu dibunuh dalam kondisi topless dan sehabis esek-esek alias berbuat mesum. Setidaknya ada tiga scene adegan seperti ini. Be creative, Zombie! Untuk adegan-adegan seperti ini, seorang teman saya merasa keheranan: kenapa Michael itu niat banget bunuh cewek-cewek, sampe dikejar-kejar segala? Sementara kalo cowok dibunuh seketemunya aja. I dunno…
Sekalipun film ini dibanding-bandingkan dengan versi John Carpenter, setidaknya Zombie telah membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang bercita rasa. Halloween 2007 memang sangat identik sekali dengan film-film karya dia sebelumnya. Yang patut diuji dari film ini adalah kemampuannya mempertahankan tensi ketegangan hingga pada puncaknya.
Jika ada orang yang bilang Zombie telah menghancurkan Halloween, saya pun kurang lebih setuju. Namun, yang mencengangkan film garapannya ini berhasil menembus box office di musim panas tahun lalu, bersaing bersama film-film wahid seperti Pirates Caribian. Sungguh langkah yang gagah berani, mengingat film horror beresiko keok jika bertengger dalam summer movie. Namun, ada yang menilai pemutaran lebih awal film ini karena Halloween enggan bersaing dengan Saw IV yang dirilis tepat pada malam Halloween tahun lalu.
Namun, bagi yang menggemari film slasher movie atau pengggemar film Halloween-nya John Carpenter, saya sangat merekomendasikan film ini. Bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk setidaknya menikmati bahwa Michael Myers adalah sebuah legenda dari icon film horror paling populer hingga saat ini. Saya pun tidak malu mengaku perlu waktu setahun menunggu film ini beredar di bioskop dan tidak tergoda dengan DVD bajakannya yang sudah lama beredar di lapak-lapak.
P2, Teror Berdarah Di Gedung Parkir
Membangun ketegangan dalam sebuah film gak perlu dalam bentuk setting yang rumit dan bombastis. Salah satu contohnya di film ini. Mengambil setting sebuah lahan parkir di dalam gedung perkantoran sungguhan di Toronto, Kanada, P2 benar2 sebuah thriller yg mampu membangun ketegangan.
Tiada Lagi Siaran Astro Di Rumah
“Chan, Astro udah gak siaran lagi ya?” begitu SMS salah satu teman saya tadi sore. Sesama pelanggan Astro, memang kadang-kadang saya SMS-an sama dia tentang Astro, mulai dari program-programnya, sampai cewek-cewek cantik yang muncul di salah satu programnya. Kebetulan, dia berlangganan Astro juga atas rekomendasi saya. Jadi, membaca SMS yang dikirim tersebut, selain membuat dahi saya berkenyit kebingungan juga menduga-duga: apa mungkin?
Begitu sampai di rumah, langsung aja saya switch siaran TV lokal ke Astro. Ternyata benar, di layar TV tertampil tulisan notifikasi yang kira-kira berisi: Mohon maap kepada seluruh pelanggan Astro, Anda tidak dapat menikmati siaran kami hingga pemberitahuan selanjutnya. Untuk pelanggan yang sudah melakukan pembayaran di muka, akan dihubungi untuk proses refund.
Notifikasi tadi tentu saja bernuansa ambigu.: apakah siaran Astro akan terhenti selamanya atau sementara saja? Akhirnya begitu saya coba mengunjungi situs Astro di www.astro.co.id, ternyata langsung dialihkan ke situs PT. Direct Vision, selaku operator Astro. Pada halaman muka situs itu tertulis informasi yang hampir sama dengan notifikasi yang ada di layar TV.
Lemas. Itulah ritmik tubuh saya merespon apa yang saya baca dari notifikasi tersebut. Bukan karena saya terlanjut membayar iuran untuk bulan ini, tetapi sedih juga rasanya membayangkan hari-hari saya tanpa siaran Astro. Harus saya akui, terlepas dari sekelumit permasalah PT. Direct Vision dengan negara ini, siaran Astro menurut saya lebih baik dibandingkan operator TV berlangganan lainnya, baik dari program, kualitas gambar, penagihan, hingga pelayanan customer service-nya yang sangat responsif. Kalaupun ada gangguan, biasanya siaran Astro sedikit terganggu kalau cuaca buruk. Saya sih cukup maklum saja, karena berdasarkan informasi yang saya tahu dari beberapa pengamat frekuensi, satelit KU-Band yang menjadi perantasa pengiriman sinyal Astro memang tidak tahan terhadap cuaca buruk. Tetapi untuk kualitas gambar sangat baik dibandingkan satelit CU-Band yang dipakai operator TV berlangganan lainnya, karena pengiriman byte-rate-nya lebih banyak. Inilah yang menyebabkan saya bertahan sebagai pelanggan Astro sejak dua tahun lalu.
Selain tidak dapat menikmati siaran Astro–meskipun rata-rata nonton TV saya per hari tidak lebih dari 3 jam–masalah lain yang cukup saya sayangkan adalah keberlangsungan karyawan PT Direct Vision itu sendiri dan para reseller Astro. Kebayang dibenak saya adalah PHK besar-besaran efek dari penghentian siaran. Waduh, mudah-mudahan kekhawatiran saya ini tidak terbukti. Kalaupun Astro tidak dapat siaran lagi, sepertinya saya mesti siap-siap cari provider TV berlangganan lain. Tentunya saya kumpulkan dulu rekomendasi dari sana-sini. Mungkin ada yang mau rekomendasikan saya?
*Bye-Bye Astro….
