RSS

Arsip Kategori: Movie n’ Music

Clash of The Titans: Konflik Para Dewa

Mitologi Yunani bisa dibilang sebagai literatur yang paling sering diangkat ke dalam layar lebar. Tak terhitung berapa produksi film yang menyisipkan mitologi populer ini ke dalam beberapa genre, baik action, drama, animasi, bahkan juga (maaf) film porno. Sudut pandangnya pun dari berbagai tokoh, seperti Hercules, Zeus, Athenna, maupun Poseidon. Yang teranyar, Warner Bros mempersembahkan Clash of the Titans, yang digadang-gadang sebagai film fantasi paling ditunggu tahun ini sebagai  proyek remake dari film berjudul sama di tahun 1981 ini dengan Perseus sebagai tokoh sentralnya.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 26, 2010 in Article, Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , ,

Adegan Kematian Paling Seksi

Adegan kematian untuk sebagian orang merupakan babak yang paling ‘mengganggu’ dari sebuah film. Tidak heran, ada kalanya adegan kematian dilewati dengan mata tertutup selama durasi berlangsung. Tapi, di balik adegan mengerikan tersebut terselip refleksi keindahan. Siapkan tensi Anda, karena daftar yang saya buat ini menghadirkan beberapa adegan kematian yang mengasyikan untuk ditonton berdasarkan kolaborasi dua elemen berbeda: sensualitas dan kematian. Jadi, jangan biarkan kedua tangan menghalangi mata Anda dalam menikmati adegan-adegan ini. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 26, 2010 in Article, Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , ,

My Bloody Valentine 3D, Teknologi Real-ID 3D Membuatnya Lebih Mencekam

my_bloody_valentine_3d_ver2Kekerasan, ketegangan, dan nudity adalah sebuah intisari atau pakem yang dianggap penting dalam sebuah film suspence thriller di lini horor. Ketika pakem ini mulai dikemas dalam layar bioskop berteknologi tiga dimensi (3D), apa yang terjadi? sudah tentu film semakin mencekam. Begitulah yang saya rasakan ketika menonton film My Bloody Valentine 3D kemarin malam.

Sebagai pecinta film horor, menonton dalam format 3D tentu menambah kenikmatan tersendiri. Apalagi format 3D yang disajikan sangat jauh berbeda ketika ketika teknologi ini pernah booming di awal tahun 90an di kancah pertelevisian lokal. Kacamata yang digunakan bukan kacamata plastik warna merah-biru yang rapuh, melainkan kacamata dengan frame ala geek yang sedang dicemari tren masa kini.

Film My Bloody Valentine 3D disebut-sebut sebagai film horor pertama yang mengadopsi teknologi 3D, setelah sebelumnya format yang sama dibesut oleh film-film animasi. Di putar di 3D Blitz Megaplex yang menghadirkan film dengan teknologi RealID–kabarnya yang pertama di Asia Tenggara–sudah tentu tampilan 3D lebih canggih dibandingkan dengan 3D versi salah satu layar televisi tempo dulu.
Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 8, 2009 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , , , , ,

The Cottage: Tertawalah di Atas Darah

the-cottage-poster-largeSebenarnya film ini pernah saya tonton tahun lalu ketika hajat ScreamFestIndo 2008 digelar. Nah, berhubung ternyata film ini kembali diputar di jaringan bioskop Blitz. Tidak ada salahnya saya publikasikan kesan saya terhadap film horror asal Inggris ini.

Film horror? Eit, sebaiknya jangan terlalu antipati dulu. Meskipun di tengah cerita film ini bakal mengobrak-abrik andrenaline, justru keistimewaan film ini terletak dari sisi humor kelamnya.

Opening credit dan music score dari film ini sungguh di luar kebiasaan. Lupakan alunan mistik dan gelap string-section orchestra yang mencabik-cabik durasi. Di film ini, justru komposisi musik mengalun bagaikan arena sirkus atau carnaval. Sungguh riang dan lucu.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 23, 2009 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , ,

Australia: Ketika Durasi Panjang Menjadi Bumerang

australiaposter1Sejak film Titanic memborong piala Oscar pada Academy Award tahun 1997,  seperti ada sebuah pakem baru di kancah penghargaan perfilman internasional. Hampir semua film yang berlaga di  ajang Golden Globe, Palm D’or, maupun Academy Award kebanyakan adalah film berdurasi lebih dari 2 jam.  Tapi tidak sedikit pula film berdurasi panjang hanya cukup puas menembus box office atau malah jeblok di pasaran.

Durasi yang panjang memang memungkinkan pembuat film lebih bebas berkreasi membangun sebuah alur cerita. Namun tidak sedikit pula yang lupa akan konsistensi. Kecerobohan dari para pembuat film dengan durasi panjang kebanyakan lebih kepada cerita yang bertele-tele, konflik yang dipaksakan, dan hilang fokus pengakhiran cerita.  Contoh teranyarnya ada di film Australia, yang dibintangi Nicole  Kidman (Lady Sarah Ashley) dan Hugh Jackman (Drover).

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by pada Desember 23, 2008 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , , , ,

The Day The Earth Stood Still: Bikin Kapok Nonton Film Remake!

daytheearthstoodstillposter1When remake goes bad!! Begitulah sekiranya gambaran betapa film ini merusak ekspetasi saya akan sebuah film bergenre sci-fi sekelas Independence Day yang tidak pernah bosan untuk ditonton berkali-kali.

The Day The Earth Stood Still (TDTESS) tampaknya melengkapi pengalaman saya sebagai yang “tertipu” dari sebuah film sci-fi remake seperti War of The World, dimana nama besar Steven Spielberg sebagai sutradara dan Tom Cruise sebagai aktor utamanmya, tidak mampu membuat film tersebut menarik bagi yang berakal sehat.

Begitupun The Day The Earth Stood Still. Sekalipun penonton “diiming-imingi” penampilan Keanu Reeves, film ini tidak berdaya di alur cerita. Untuk 30 menit pertama memang saya terpana, selebihnya saya lebih suka menyelonjorkan badan di kursi bioskop sambil berharap plot cerita berkembang lebih baik. Nyatanya, hingga akhir dari 30 pertama itu, film ini sangat membosankan.

Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada Desember 16, 2008 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , , , ,

To Die For Screamfest O8 (Tak Gentar Melawan Hujan)

Tadi pagi, bangun tidur saya merasa pegal-pegal. Mungkin ini efek dari gejala flu yang untungnya langsung ketangkal berkat vitamin C 500 mg yang saya minum sebelum dan sesudah tidur. Percaya deh, buat penyakit-penyakit ringan seperti ini saya lebih yakin dengan sebutir kapsul vitamin daripada obat warung.

Pegalnya saya bukan karena hari minggu saya harus bekerja keras, meskipun Sabtu pagi saya mesti ke Bandung dan kembali lagi pada sore harinya karena harus meliput sebuah even yang dihadiri Wapres JK. Jadi, badan pegal saya lebih kepada kerasnya ‘perjuangan’ saya demi menonton The Cottage, film perdana dalam rangkaian Indonesia International Fantastic Film Festival (INAFF’08) yang disebut sebagai edisi kedua Screamfestindo (saya lebih suka menyebut festival ini Screamfest, kesannya lebih horror he-he-he).

Kesibukan saya minggu ini yang gila-gilaan memang tidak memungkinkan saya datang ke pembukaan festival ini pada 14 November lalu. Makanya, begitu membeli tiket paketan pre-sale, saya memilih film yang diputar pada hari Minggu, yakni The Cottage, The Screen, Hansel & Gretel, dan Saw V (ketiga film terakhir saya nonton secara marathon pada 22 November di Blitz MOI besok!). Takutnya, jika pesan tiket untuk hari kerja, saya malah tidak bisa datang. Saya putuskan jika ingin nonton film di hari kerja, beli daily pass aja. Biar tiketnya gak hangus karena saya tidak jadi datang, seperti pengalaman saya tahun lalu: beli tiket 10, tapi yang ditonton cuma 6 film. Sayang kan..

Sebenarnya saya nonton dengan salah seorang teman saya. Sayangnya, begitu rencana berangkat sudah mulai, dia urung datang karena khawatir kosannya kebanjiran, mengingat hujan sudah menunjukkan awal kekuatannya dengan memamerkan awan gelap plus petir yang sangar.Pertanda ini alamat buruk buat rencana nonton. Tapi boleh buat, the show must go on! Saya tetap nekat berangkat dengan atau tanpa teman. Alhasil ada teman saya yang lain yang bersedia. Secara tiketnya gratis gitu dari saya he-he-he. Lagian, dia juga mungkin sedang bête di rumahnya.

Eng ing eng…saya pun meluncur dengan motor masing-masing. Rute yang salah pilih adalah Kemayoran trus ke Sunter. Biasanya rute ini bebas macet kalo ingin menuju Kelapa Gading. Apesnya, begitu sampai di Kemayoran, hujan sudah beraksi. Deras pula. Ditambah kebiasaan buruk saya, selalu tampil di tengah hujan tanpa jas hujan.. Saya sih nekat aja terobos hujan, sampai kelupaan bawa saya mengajak teman.

Udah setengah basah, saya berhenti sejenak. “Eh, kita terobos aja apa neduh dulu?” tawar saya.

Dengan mimik penuh yakin teman saya angguk, “Ya udah, siapa takut! Hajar aja.”  Bodohnya, dia malah lepas jaketnya terus dititipkan ke saya. Benar-benar siap tempur nih orang.

Jreng, saya pun ngebut menuju Sunter. Tanpa diduga di daerah sekitar sini banjir. Selain hujan-hujanan, saya juga rela jadi bulan-bulanan mobil yang melintas di atas banjir yang airnya menerjang motor saya. Basah udah pasti merayap hingga ke celana dalam.

Ketika sampai di MOI Kelapa Gading, ujan agak reda. Tapi itu tidak mengobati basah di tubuh saya. Di area parkir, saya bersama teman saya itu akhirnya buka baju dan jaket masing-masing. Meski area parkir tidak bisa dibilang sepi, entah kenapa rasa malu saya hilang. Dengan cueknya saya buka baju terus memeras air hujan yang membuat volume kaos dan jaket saya bertambah berat.

Selama masuk dalam mall, saya tidak memusatkan perhatian dari orang-orang yang memperhatikan kekacauan kami berdua. Saya sempat deg-degan, jangan-jangan pihak Blitz tidak ingin kursinya dibasahi oleh kami. Toh, akhirnya bisa juga nonton.Tapi penderitaan saya bukan sampai di situ saja. Selama film berlangsung, sudah dapat dibayangkan betapa dinginnya AC di dalam bioskop.

Untung filmnya bagus. Jadi saya berusaha menghangatkan diri dengan alur film tersebut. Sementara teman saya tampak menggigil. Gokilnya, dia sesekali ‘membakar’ dirinya sendiri dengan korek api gas yang dibawanya. Aksinya ini tentu saja jadi perhatian penonton lain. Malah ada sepasang cowok-cewek yang langsung pergi meninggalkan bioskop karena tingkahnya he-he-he..

Wah, mudah-mudahan di putaran film selanjutnya, hujan tak lagi pamer kekuatan. Jujur saja, Minggu itu serasa pembantaian. Hujan bener-bener ngerjain. Tapi, kecintaan terhadap film horror rupanya membuat saya tidak gentar menghadapi horrornya hujan, halah!

 
2 Comments

Posted by pada November 18, 2008 in Movie n' Music, Social

 

Kaitkata: , , , , , ,

Rob Zombie Mengacaukan Halloween?

Rob Zombie memang eksentrik. Saking eksentriknya semua film besutan performer band cadas White Zombie ini memadukan seksualitas dalam gelimangan darah. Sadomasochist? Entahlah. Yang jelas di setiap film Zombie, sebut saja “House of 1000 Corps” dan “The Devil’s Rejects”, semua perempuan adalah objek pembunuhan yang mengasyikan dan menggairahkan: hampir semua yang terbunuh dalam keadaan bugil.

Seperti halnya Marylin Manson, tampaknya Zombie sangat terobesi dengan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan. Sekalipun sang istri, Sheri Moon Zombie, selalu dilibatkan dalam film-film sadisnya, itu juga tak jauh dari peran-peran bitchy! Makanya setiap orang geleng-geleng kebingungan begitu proyek reboot “Halloween” yang legendaris itu diserahkan oleh Zombie. Padahal sutradara kawakan seperti Ridley Scott (Alien, Gladiator, Hannibal, Body of Lies) sudah cukup napsu mau menggarapnya.

Burukkah hasilnya? Ehem, secara penggarapan, Zombie memang sudah dibilang cukup berhasil menterjemahkan Halloween yang pernah diproduksi tahun 1978 ini dengan versinya sendiri. Pada bagian awal film, Zombie setidaknya ingin sedikit sentimentil dengan mengangkat penderitaan batin Michael Myers, seorang bocah produk broken home yang akhirnya menjadi psikopat. Sayangnya, penggarapan disini kurang mengangkat emosi penonton, sekalipun adegan-adegan yang ditampilkan cukup mewakili kekelaman masa kecil Michael. Mungkin Zombie tak ingin melupakan pakem that’s my thriller movie. Sentimentil yang berlebihan memang bukan gayanya.

Yang sedikit agak lucu mungkin Zombie terlalu menekankan ‘perempuan bitchy memang pantas dibunuh’ dalam film ini. Tak heran, setiap korban-korban Michael Myers–perempuan muda–selalu dibunuh dalam kondisi topless dan sehabis esek-esek alias berbuat mesum. Setidaknya ada tiga scene adegan seperti ini. Be creative, Zombie! Untuk adegan-adegan seperti ini, seorang teman saya merasa keheranan: kenapa Michael itu niat banget bunuh cewek-cewek, sampe dikejar-kejar segala? Sementara kalo cowok dibunuh seketemunya aja. I dunno…

Sekalipun film ini dibanding-bandingkan dengan versi John Carpenter, setidaknya Zombie telah membuktikan bahwa dia adalah sutradara yang bercita rasa. Halloween 2007 memang sangat identik sekali dengan film-film karya dia sebelumnya. Yang patut diuji dari film ini adalah kemampuannya mempertahankan tensi ketegangan hingga pada puncaknya.

Jika ada orang yang bilang Zombie telah menghancurkan Halloween, saya pun kurang lebih setuju. Namun, yang mencengangkan film garapannya ini berhasil menembus box office di musim panas tahun lalu, bersaing bersama film-film wahid seperti Pirates Caribian. Sungguh langkah yang gagah berani, mengingat film horror beresiko keok jika bertengger dalam summer movie. Namun, ada yang menilai pemutaran lebih awal film ini karena Halloween enggan bersaing dengan Saw IV yang dirilis tepat pada malam Halloween tahun lalu. 

Namun, bagi yang menggemari film slasher movie atau pengggemar film Halloween-nya John Carpenter, saya sangat merekomendasikan film ini. Bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk setidaknya menikmati bahwa Michael Myers adalah sebuah legenda dari icon film horror paling populer hingga saat ini. Saya pun tidak malu mengaku perlu waktu setahun menunggu film ini beredar di bioskop dan tidak tergoda dengan DVD bajakannya yang sudah lama beredar di lapak-lapak.

 
4 Comments

Posted by pada November 4, 2008 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , , , , , ,

P2, Teror Berdarah Di Gedung Parkir

LOL

her boobs so entertaining :LOL

 Membangun ketegangan dalam sebuah film gak perlu dalam bentuk setting yang rumit dan bombastis. Salah satu contohnya di film ini. Mengambil setting sebuah lahan parkir di dalam gedung perkantoran sungguhan di Toronto, Kanada, P2 benar2 sebuah thriller yg mampu membangun ketegangan.

Di samping setting yg tidak membutuhkan riset besar2an, tema film ini tergolong sederhana yakni tentang seorang wanita karir Angela (Rachel Nichols) yang terperangkap di dalam gedung parkir kantornya sendiri ketika pulang lembur di malam natal. Perangkap ini dirancang oleh Thomas (Wes Bentley), seorang sekuriti kesepian yg memiliki kecenderungan psikopat. Thomas rupanya sudah lama memendam obsesi terhadap Angela (either her boobs! :-P ). Lewat CCTV yg dibawah pengawasannya, Thomas setiap waktu memantau keseharian Angela. Termasuk di bagian ketika perempuan berdada montok ini (percaya deh) mengalami pelecehan seksual oleh Mr Harper (Simon Renold), atasannya.
Dari sini pula, Thomas berinisiatif membalas perlakuan Harper dengan menabraknya dengan mobil dalam posisi terikat hingga ke tembok. Bisa ditebak, Harper mati dengan kondisi tubuh hancur. Sementara di bawah teror Thomas, Angela dipaksa menyaksikan adegan sadis ini.
Sebenarnya, film P2 cukup menarik, baik dari alur maupun penggarapan sinematografi. Tak perlu hitung2an matematis, penonton pun bakal tahu berapa modal yg dikeluarkan dari produksi film ini. Sayangnya, sang sutradara kurang menggali latar belakang kondisi kejiwaan Thomas, disamping akting Bentley yg kurang greget. Sehingga alasan kecenderungan psikopat Thomas yg kesepian sepertinya kurang kuat dalam membangun sisi kelamnya. Termasuk obsesinya terhadap Angela pun kurang tergarap.
Namun, bagi penggemar film thriller psikopat seperti Red Eye, Black Christmas, sama American Psycho, sepertinya film ini wajib ditonton. Adegan kejar-mengejarnya cukup membuat tensi meninggi. Jangan lupa, bersiap2 terpana dengan body seksi Angela :-P
*di forum2 film justru boops Rachel Nichols jadi pembicaraan…wooow
 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 27, 2008 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , , , , , ,

Tiada Lagi Siaran Astro Di Rumah

“Chan, Astro udah gak siaran lagi ya?” begitu SMS salah satu teman saya tadi sore. Sesama pelanggan Astro, memang kadang-kadang saya SMS-an sama dia tentang Astro, mulai dari program-programnya, sampai cewek-cewek cantik yang muncul di salah satu programnya. Kebetulan, dia berlangganan Astro juga atas rekomendasi saya. Jadi, membaca SMS yang dikirim tersebut, selain membuat dahi saya berkenyit kebingungan juga menduga-duga: apa mungkin?

Begitu sampai di rumah, langsung aja saya switch siaran TV lokal ke Astro. Ternyata benar, di layar TV tertampil tulisan notifikasi yang kira-kira berisi: Mohon maap kepada seluruh pelanggan Astro, Anda tidak dapat menikmati siaran kami hingga pemberitahuan selanjutnya. Untuk pelanggan yang sudah melakukan pembayaran di muka, akan dihubungi untuk proses refund.

Notifikasi tadi tentu saja bernuansa ambigu.: apakah siaran Astro akan terhenti selamanya atau sementara saja? Akhirnya begitu saya coba mengunjungi situs Astro di www.astro.co.id, ternyata langsung dialihkan ke situs PT. Direct Vision, selaku operator Astro. Pada halaman muka situs itu tertulis informasi yang hampir sama dengan notifikasi yang ada di layar TV.

Lemas. Itulah ritmik tubuh saya merespon apa yang saya baca dari notifikasi tersebut. Bukan karena saya terlanjut membayar iuran untuk bulan ini, tetapi sedih juga rasanya membayangkan hari-hari saya tanpa siaran Astro. Harus saya akui, terlepas dari sekelumit permasalah PT. Direct Vision dengan negara ini, siaran Astro menurut saya lebih baik dibandingkan operator TV berlangganan lainnya, baik dari program, kualitas gambar, penagihan, hingga pelayanan customer service-nya yang sangat responsif. Kalaupun ada gangguan, biasanya siaran Astro sedikit terganggu kalau cuaca buruk. Saya sih cukup maklum saja, karena berdasarkan informasi yang saya tahu dari beberapa pengamat frekuensi, satelit KU-Band yang menjadi perantasa pengiriman sinyal Astro memang tidak tahan terhadap cuaca buruk. Tetapi untuk kualitas gambar sangat baik dibandingkan satelit CU-Band yang dipakai operator TV berlangganan lainnya, karena pengiriman byte-rate-nya lebih banyak. Inilah yang menyebabkan saya bertahan sebagai pelanggan Astro sejak dua tahun lalu.

Selain tidak dapat menikmati siaran Astro–meskipun rata-rata nonton TV saya per hari tidak lebih dari 3 jam–masalah lain yang cukup saya sayangkan adalah keberlangsungan karyawan PT Direct Vision itu sendiri dan para reseller Astro. Kebayang dibenak saya adalah PHK besar-besaran efek dari penghentian siaran. Waduh, mudah-mudahan kekhawatiran saya ini tidak terbukti. Kalaupun Astro tidak dapat siaran lagi, sepertinya saya mesti siap-siap cari provider TV berlangganan lain. Tentunya saya kumpulkan dulu rekomendasi dari sana-sini. Mungkin ada yang mau rekomendasikan saya?

*Bye-Bye Astro….

 
8 Comments

Posted by pada Oktober 21, 2008 in Movie n' Music

 

Kaitkata: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.