Kepintaran manusia sebagai makluk bumi ternyata mengundang rasa benci dari para alien. Kebencian itu diwujudkan lewat sebuah pesan yang sudah sampai dan diterima oleh Pemprov Riau. Menindaklanjuti pesan alien tersebut, akhirnya pihak Pemprov membuat pengumuman tercetak di sebuah media terbitan Batam.
Arsip untuk Agustus, 2008
Pesan Dari Alien
Ditulis oleh planetmiring di/pada Agustus 28, 2008
Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: alien, Batam, pendidikan, perpustakaan, teknologi | 5 Komentar »
Kepercayaan Lebih Penting Dari Kesempatan
Ditulis oleh planetmiring di/pada Agustus 28, 2008
Pepatah “kesempatan tidak datang dua kali” memang benar adanya. Namun, bagaimana dengan kesempatan yang datang secara beruntun? Apakah kita harus menanggapi semuanya? Bagi orang yang terjebak dengan anggapan tersebut, kesempatan yang beruntun pastinya akan digubris seluruhnya tanpa memikirkan bahwa semua itu akan memakan waktu dan pikiran. Niatnya mau aji mumpung malah bikin buntung.
Saya termasuk orang yang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dimana dan kapan pun kesempatan itu datang, pasti dihajar aja. Mudah bagi saya mengiyakan kesempatan yang datang tanpa berpikir bahwa saya belum tentu bisa menjalaninya. Contohnya ya baru-baru ini. Tawaran menulis berbagai buku proyek dari departemen tertentu datang dengan mudahnya kepada saya. Di saat yang bersamaan, saya juga mendapatkan tawaran untuk menulis biografi seorang tokoh pendidikan dan juga diminta untuk menyadur beberap buku ilmiah miliknya yang akan dipublikasikan.
Sebenarnya sih, kalau saja deadline dari tawaran tersebut tidak berdekatan, saya mau saja menggarapnya. Masalahnya, untuk penulisan isi buku direktori sebuah instansi, saya harus menjabaninya akhir bulan September. Sementara proyek biografi bulan Desember, dan untuk saduran buku ilmiah pada November. Sedangkan rata-rata ketebalan buku tersebut di atas 200 halaman.
Meskipun saya ragu akan menyelesaikan dua tawaran terakhir dengan tepat waktu, entah kenapa saya tidak mengiyakan dan tidak juga menolak tawaran yang dihitung-hitung secara rupiah tentu saja menggiurkan. “Besok lusa aja deh, pak saya beri jawaban. Soalnya saya mesti hitung-hitung waktu tempuhnya nih,” janji saya waktu itu kepada si pemberi tawaran.
Di tengah kegamangan antara “ditolak sayang, diterima nendang” ini, sebenarnya secara sadar, tidur yang kenyang akhir-akhir ini menjadi barang yang mahal bagi saya. Bagaimana tidak. Selain berkutat di majalah bulanan, saya juga harus menyusun konsep dan isi dari buku direktori yang akan terbit bulan depan. Otomatis, siang hari saya habiskan untuk liputan, sedang sore atau malamnya saya mulai utak-atik konsep.
Sampai akhirnya, saya mendapat sebuah inspirasi yang mengharuskan saya untuk berkata tidak untuk dua tawaran terakhir itu. Inspirasi ini datang dari seorang bos wedding organizer (WO) yang bakal menangani pernikahan abang saya awal tahun depan. Kebetulan saat itu saya sedang ikutan antar abang saya dan tunangannya untuk brainstorming mengenai konsep acara pernikahannya.
Kepada kami, Mas Jim–begitu dia dipanggil–mengatakan, dirinya sangat menjaga kepercayaan klien. Saking seriusnya, dia sampai enggan menerima tawaran lebih dari dua hajatan dalam sehari. Menurutnya, jika pekerjaan itu diforsir, hasilnya akan tidak maksimal karena konsentrasi akan terpecah. Jika sudah begini, klien tentu akan kecewa. Dampaknya udah jelas: klien bakal komplain. “Ini merupakan promosi yang buruk buat usaha saya. Makanya, jangan pernah deh ngambil banyak job di luar kemampuan. Mending sedikit, tapi klien puas. Kepercayaan klien itu mahal,” tandasnya.
Dus, kalimat terakhir ini begitu mengena di otak saya. Benar juga: kepercayaan klien itu mahal. Jika saja saya ambil proyek penulisan buku itu semua, bisa jadi hasilnya bakal semrawut. Kalo saja si empu proyek tidak puas, tentu dia tidak akan merekomendasikan saya kepada orang lain. Otomatis, jangan ngimpi deh dapat proyekan lagi. Makanya, besok saja akan mantapkan langkah untuk mengatakan “tidak” untuk dua tawaran terakhir itu.
Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: biografi, kepercayaan, tulisan | Leave a Comment »
Tanpa Laptop Bikin ‘Sengsara’
Ditulis oleh planetmiring di/pada Agustus 12, 2008
Fiuhh..akhirnya sampai juga di Jakarta. Setelah 6 hari ngetem di Batam, rasa kangen akan Jakarta gak terbendung lagi. Makanya, begitu pesawat landing dengan selamat, saya hanya bisa mengucap, “Alhamdulillah, Jakarta here I am,” sambil jejingkrakan dalam hati. Padahal dua hari sebelum saya berangkat ke Batam, saya sempat mencaci kota tempat kelahiran saya ini, karena kemacetan yang seolah gak pernah mengenal kata khatam dan ego masyarakat setempat. Namun, sejelek-jeleknya tanah kelahiran, tampaknya kecintaan saya tak pudar dimakan kegemilangan suasana Kota Batam.
Sebenarnya lewat posting ini saya ingin banyak cerita-cerita tentang pengalaman peliputan saya di Batam. Tapi berhubung badan masih capek, terpaksa saya belum bisa membagi apa-apa. Sedikit saja informasinya, saya ke Batam karena media tempat saya bekerja dipercayai sebagai penyelenggara Indonesia ICT Expo 2008 yang digelar 6-10 Agustus lalu, dengan pembagian venue Hotel Planet Holiday untuk seremoni pembukaan dan seminar “Tips dan Trik Penerapan TIK”; Kampus Universitas International Batam untuk workshop “IT Security”, dan Mega Mal Batam untuk pameran serta kompetisi games.
Mengenai rasa capeknya ya jangan ditanya. Selain berperan sebagai panitia, saya juga bertanggungjawab penuh terhadap rubrik laporan utama baik mengenai acara tersebut maupun perintisan Batam Digital Island, yang dirilis oleh Pemkot setempat.
Sebenarnya sih banyak banget cerita yang ingin saya bagi, semenjak saya sampai di Kota Batam. Sayangnya, saya lupa membawa laptop–bisa ditebak betapa ‘menderitanya saya–sehingga gak sempat ketak-ketik maupun browsing internet. Padahal, kota ini sudah memiliki beberapa kawasan yang sudah terkontaminasi hotspot. Yang paling dasyat adalah Taman Internet yang gak jauh dari Kantor Walikota. Selain lokasinya nyaman, akses disini juga lumayan cepat. Tapi saya cuma bisa gigit jari. Pengen pinjam laptop sama yang lain, sungkannya minta ampun. Jadi, terpaksa bagi-bagi ceritanya di posting selanjutnya aja…
Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: Batam, IT, laptop, teknologi | 2 Komentar »
Wartawan (Mendadak) Ngeband
Ditulis oleh planetmiring di/pada Agustus 6, 2008
Setelah melalui proses perekrutan seadanya, proyek band dadakan bertitel Warteg—singkatan dari Wartawan TeknoloGi–*maksa gak sih?*akhirnya jadi juga latihan. Sesuai rapat singkat kemarin malam di sebuah foodcourt, dipilihlah jadwal dan tempat latihan malam ini di sebuah studio di bilangan Senopati. Ide awal pembentukan band ini sebenarnya datang dari Salma (Investor Daily)*gila lo, bu!* yang kebetulan in charge untuk acara Pesta Iptek yang akan digelar 9-10 Agustus nanti di Kantor Kementerian Ristek. Dia merasa belum komplit rasanya acara tersebut kalo teman-teman wartawan—khususnya di desk TI dan telko—tidak ikut berpartisipasi.
“Jangan mau kalah dong sama pakar-pakar TI,” ujarnya mengompori saya ketika menghadiri ultah Betty Alisjahbana di sebuah klub di Permata Hijau malam minggu kemarin. Pakar-pakar TI yang dimaksud Salma adalah Budi Rahardji Cs yang membentuk BandIT, alias band IT, yang udah lama wara-wiri di pentas komunitas TI maupun umum.
Dari bincang-bincang itu akhirnya disepakatilah personil yang bakal mengawaki band ini, yaitu : Yuni (Gadget), Oni (Portable), dan Dika (Newsponsel) untuk posisi vocal; Renggo (Neraca) drum; Achoy (Investor Daily) gitar, Andri (Biskom) bass, dan saya untuk pemantik kibor. Dari nama-namanya memang saya udah mengenal malah cukup akrab. Tapi, jujur saja saya sama sekali tidak tahu musik favorit masing-masing. Maka udah dipastikan aliran atau genre bukanlah hal yang penting dalam band dadakan ini. Dibutuhkan kompromi yang tinggi dalam pemilihan lagu dan juga konsep pentas yang bakal ‘dijual’ tentunya.
Saya memang sudah hampir 10 tahun mengawaki sebuah band indie untuk posisi kibordis. Tapi sepertinya malam tadi saya merasa baru ngeband. Maklum, lagu-lagu yang dibawakan tergolong Top 40 ‘serius’, seperti I Will Survive (Cake);There She Goes (Sixpences Non The Richter); Irish (Go Go Dolls), sedangkan saya kebanyakan membawakan lagu rekaan sendiri. Kalaupun bawakan lagu orang, ya paling juga band-band indie yang minimalis. Bisa ditebak, saya tadi kebanyakan cuma ‘meraba-raba’ tuts kibor saja hehehe.
Sayangnya, tadi Yuni gak datang. Katanya sih ada rapat redaksi dadakan. Duh, padahal saya pengen banget lihat dia nyanyi, soalnya isu yang bilang dia “Ratu Karaoke” cukup santer terdengar di kalangan wartawan. Salma gak bisa nyanyi sih, jadi dia lebih semangat manajerin kita-kita aja. Sementara Afrin yang ikutan Renggo Cuma bisa nonton aja*goyang dong, neng hehehe..*
Kondisi sound-system yang gak mumpuni, tentu mengacaukan mood. Beginilah kondisi latihan tadi malam. Akhirnya kita sepakat latihan ulang hari kamis di studio lain. Jam tetap disesuaikan dengan waktu kerja. Apalagi beberapa teman juga udah digeret deadline. Termasuk saya yang tidak bisa datang nanti karena besok harus liputan ke Batam. Mudah-mudahan proyek spontanitas ini bisa lancar. Sekarang udah hampir jam 3 pagi, saya langsung tidur deh. Soalnya besok pagi kejar pesawat. Mudah-mudahan Warteg sukses di pentas. Doakan aja…
Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: band, iptek, musik, wartawan | 2 Komentar »
Waspadai Tukang Nasi Goreng Di Pinggir Jalan
Ditulis oleh planetmiring di/pada Agustus 1, 2008
Nasi goreng memang makanan paling cihuy dan Indonesia banget. Bohong aja kalo ada yang ngaku gak doyan nasi berkecap ini. Meski sebenarnya gampang dibikin, tapi kebanyakan orang justru lebih milih beli di tukang nasi goreng pinggir jalan. Setiap orang pasti udah punya tukang nasi goreng idolanya masing-masing. Dari yang gerobaknya minimalis keliling jalan dengan kaca dicat “ojolali”, sampai yang udah mapan dengan tenda-tenda seadanya.
Kelezatan aroma dan uap berbau bumbu saat nasi digoreng dalam wajan panas, siapa yang tak dibuat lapar. Tapi, tahu gak, ternyata aroma ini sangat berbahaya sekali dan bisa mengancam keselamatan jiwa orang lain. Saya baru saja mengalami kejadian yang cukup membuat nyawa saya satu-satunya ini melayang.
Jadi begini ceritanya. Sepulang ngantor dari arah tebet menuju karet, saya yang kebetulan ngantuk berat karena tidak sempat tidur tadi malam cukup tahu diri dengan memicu tarikan motor seadanya. Selain pelan, motor juga saya lintaskan di samping kiri jalan. Biasanya sih, nyelip-nyelip maut dah.
Karena kondisi malam temaram yang membuat pandangan saya gak jelas, saya buka kaca helm half face saya (bukan pengen tebar pesona lho). Saat berada di pinggir jalan itulah ternyata maut mengintai. Saya melintas di tukang nasi goreng yang tampak asyik oseng-oseng wajannya. Tampak uap dan aroma menyengat langsung tercium. Saking ganasnya, aroma tadi juga menyengat mata saya.
Bisa ditebak, mata saya langsung perih seperti disemprot uap panas dan pedas. Kondisi ini membuat pandangan kabur dan kemudi motor jadi gak stabil. Sampai akhirnya…TWEWEW..GUBRAK!!!
“Aduh, bego banget sih nih anak nyelonong aja!! Hampir aja gue mampus elo tabrak!” Seorang mbak-mbak beralis botak ngomel dengan parahnya. Saya hampir gak mendengar apa ucapan bahasa binatang selanjutnya. Kayaknya sih, dia sempat menyebut beberapa anatomi tubuh pria yang paling vital dengan lugas dan tegas.
Dia pantas marah. Mungkin disangkanya saya menyetir dalam kondisi mabok. Dia sendiri juga gak peduli, justru sayalah yang nyungsep ke dalam galian jalan dengan posisi menggemaskan. Sementara saya hanya menyenggol tangannya dengan pelan. Jangankan lecet, bentol pun sepertinya kulit dia gak bakalan.
*Untung motor gue gak kenapa-kenapa* Saya lega melihat kondisi mio saya masih tetap tegak lurus berdiri, sementara si empunya udah ngangkang dengan posisi manis. *Untung gue gak luka* Ajaib, saya hampir tidak merasakan sakit sedikitpun. Justru, saya ketawa kecil melihat alis mbak-mbak yang seperti kail pancingan membentuk wajahnya yang sangar.
“Duh, maaf deh, Mbak. Mata saya kelilipan,” saya berusaha membungkukan badan.
“Ah, tai lo. Mang badan gue segede apan sih, masa gak liat?!”
*Jah, cape deh. Nih orang gak ngerti banget kalo saya tadi bilang kelilipan. Jangankan bodi dia yang kerempeng twiggy, gudukan galian jalan aja gak seolah gak eksis*
“Ya, maaf deh.”
“$gF%r&..*&5tE#!@##e!!!” Si Mbak ngeloyor nyebrang jalan. *Mohon terjemahkan sendiri ya*
Nah, dari cerita tadi ngerti kan betapa bahayanya tukang nasi goreng di pinggir jalan. Buat yang berkendara motor dengan helm half face atau cetok, jangan coba-coba deh pede melintas di gerobak yang kebetulan lagi beroperasi memasak. Kalo gak pengen ‘buta mendadak’. Jujur aja, ini kejadian kedua kalinya menimpa saya. Sebelumnya, saya sempat ngalamin ketika melintas di pinggir jalan Roxy. Tau sendiri deh, disana banyak gerobak nasi goreng menebar ‘ranjau’. Makanya, waspadalah! Waspadalah!
Foto : http://www.flickr.com/photos/26465124@N03/2665272268/
Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: masakan, motor, nasi goreng | 4 Komentar »






