Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Arsip untuk Juni, 2008

Maklumat Habib Rizieq Syihab Tentang SKB Ahmadiyah

Ditulis oleh planetmiring di/pada Juni 18, 2008

Siang tadi, sekelar mewawancarai salah satu narsum di gedung indosat, ada keramaian yg menyebabkan jalan menuju ke Harmoni atau sebaliknya macet tak terkira. Yang saya lihat, keramaian datangnya dari beberapa orang yg mengenakan pakaian muslim. Mereka adalah FPI (Front Pembela Islam?), Atena (Anak Tenabang) dan FBR. Pengerahan ratusan massa di depan istana pejabat eh negara ternyata merupakan aksi atas reaksi ketidakpuasan terhadap SKB Ahmadiyah yg dirilis pemerintah beberapa hari lalu.

Dari lokasi, saya mendapatkan selebaran yg berisi maklumat Habib Rizieq yg menentang SKB Ahmadiyah. Nah, berhubung saya masih punya sedikit waktu luang. Gak ada salahnya saya coba membagi isi dari selebaran tersebut sebagai berikut :

Didahului tulisan huruf Arab bismillahiromahmanirohim

Maklumat Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab “SKB Ahmadiyah adalah SKB Banci”, karena

1. SKB tersebut hnya SKB PERINGATAN

2. SKB tersebut MULTITAFSIR sehingga mengambang dan tidak jelas, baik terkait jenis kegiatan maupun  sanksinya.

3. SKB tersebut hanya tertuju kepada JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), padahal GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) SAMA SESATNYA.

4. SKB tersebut hanya untuk golongan bernama JAI, artinya jika ke depan JAI berganti nama lain maka tidak terkena SKB.

5. SKB tersebut justru menjadi legitimasi sekaligus LEGALISASI bagi eksistensi Ahmadiyah, karena tidak ada larangan terhadap keberadaannya.

6. SKB tersebut justru dengan licik menjadikan Ahmadiyah sebagai umat beragama yang harus dihormati dan tidak boleh diganggu, sebagaimana dipahami dari Diktum keempat SKB.

7. SKB tersebut justru secara terang-terangan mengancam umat Islam yang mengganggu Ahmadiah, sebagai tertera dalam Diktum kelima SKB.

Dari siaran radio yang baru saya dengar, tampaknya jumlah demonstran sudah mencapai ribuan orang dan memutus jalan arah ke thamrin, karena mereka berusaha menuju ke Polda Metro. Wah, mudah-mudahan tidak ada insiden berdarah. Mudah-mudahan pula aksi ini murni penolakan terhadap eksistensi Ahmadiyah, bukan pengalihan isu kenaikan BBM yang baru saja diberlakukan.

Jujur aja, meskipun saya tidak suka dengan keberadaan FPI, tapi demi aksi anti penistaan agama, saya tampaknya bisa kompromi dalam hal ini. Bagaimanapun aksi penolakan harus dijalankan, itu tetap tertib dan tanpa kekerasan. Ahmadiyah boleh eksis di negeri ini, tapi jangan gunakan embel-embel Islam. Buat FPI, jangan sok punya kewenangan melebihi polisi…

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Remake Film Horor Asia Versi Hollywood Lebih Baik?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Juni 18, 2008

 

 

 

Meski pernah sesumbar bahwa Hollywood gak bakal daur ulang (remake) film horror Asia lagi tahun ini akibat beberapa remake film horror Jepang-nya seperti Dark Water dan Pulse gagal secara komersil, toh akhirnya para sineas di sana menjilat ludahnya sendiri. Jika mengingat sukses The Grudge (Ju-On) dan The Ring, tampaknya mereka tergoda untuk remake beberapa horror Asia, dengan harapan bakal dulang sukses yang sama. Kali ini gak hanya horror Jepang yang di-remake. Mereka mulai melirik Thailand dan China yang belakangan ini memang berhasil membuat film-film horror yang menggebrak.

 

Tapi benarkah alih produksi film sineas Asia ke kreator Hollywood yang notabene lebih “hebat” dan “canggih” bakal menghasilkan sebuah karya yang lebih baik? Kalo dari sisi teknis gambar dan sinematografi memang sepertinya Hollywood berhasil membuat The Grudge dan The Ring lebih “ringan” dari orsinilnya yang memiliki cerita agak “ngawur” dengan kualitas gambar yang kadang-kadang buram dan tidak fokus.

 

 

Namun, jika membangun kengerian yang sama, tampaknya Hollywood keteteran dalam hal ini. Maklum, mereka terbiasa dengan genre horror yang plot-nya cepat. Itulah sebabnya di beberapa remake, mereka seolah memaksakan film horror itu harus memberikan ketegangan dari awal hingga akhir cerita. Padahal, kebiasaan di Asia, film horrornya lebih “alon-alon kelakon” alias diam-diam mengerikan. Seperti yang pernah diutarakan Rob Zombie (sutradara Devil Reject, House of 1000 corps, dan reboot Halloween), bahwa film horror Asia sensasinya sangat berbeda dengan horror negara barat. “Jika di awal tampang anteng-anteng saja, film horror Asia pada bagian akhirnya bakal membuat orang ketakutan setengah mati,” ujar Rob dalam sebuah interview di televisi.

 

Nah, aksi “jilat ludah” sineas Hollywood tahun ini diwakili lewat remake One Missed Call (Chakhusin Ari/Jepang), The Eye (Gin Gwai/Hongkong), dan Shutter (Thailand). Sayangnya, remake tersebut tidak membuatkan sensasi baru dengan taste Hollywood. Dari ketiga film itu terlihat jelas bahwa improvisasi yang dilakukan Hollywood tidak berhasil “mengelabui” penontonnya bahwa film yang dibuat hanya “copy-paste” versi orsinilnya. Yang paling kentara adalah film Shutter. Film yang masih berkibar di bioskop Jakarta ini bisa dibilang tak memberikan sesuatu yang baru, terkecuali karakter para tokohnya. Kalaupun ada sesuatu yang baru, malah menjelaskan bahwa film ini lebih buruk dari versi Thailand.

 

Lewat karakter tulisan yang malas saya perpanjang ini, saya memang enggan menjelaskan detil keburukan dari film remake tersebut. Jika ingin jelas, coba deh buru DVD Shutter versi Thailand dan segeralah nonton Shutter versi Hollywood. Kemudian, dengan berbondong-bondongnya penonton yang memenuhi ruang bioskop yang memutar film Shutter, saya yakin kebanyakan mereka hanya ingin membandingkan film tersebut dengan versi aslinya. Atau bisa juga mereka menonton dulu versi remake-nya kemudian segera datang ke toko penjual DVD untuk membeli versi aslinya dan langsung membandingkan. Hasilnya, two thumbs up buat sineas Thailand. Mereka berhasil mencundangi sineas Hollywood dengan film tersebut.

 

Nah, ribut-ribut soal ramainya Hollywood melakukan remake film horror Asia terutama Thailand yang bisa dibilang sebagai negara tetangga dekat, membuat saya iri luar biasa. Bagaimana tidak. Sukses remake Shutter membuat Thailand kian dikenal sebagai negara pembuat film horror berkualitas dari Asia Tenggara. Kalo Indonesia?

 

Jujur aja, negara kita memang didominasi produksi film horror. Tapi dari yang banyak itu cuma beberapa saja yang pantas dibilang bagus, meskipun kebanyakan juga belum pantas jika di-remake oleh Hollywood. Kebanyakan horror Indo lebih sekedar menampilkan penampakan hantu tapi malah mengesampingkan kualitas cerita. Lelah rasanya mata ini jika setiap saat dijejali penampakan hantu tapi ceritanya ngawur. Apalagi kalo hantunya ‘necis” dengan tampilan gaun putih bersih dan rambut lurus seperti di-rebounding (pasti keramasnya pake shampoo Rejoice hehehe…).

 

Padahal negara kita punya Suzanna yang dijuluki sebagai “Ratu Horror” yang saya rasa di negara mana pun belum memiliki sosok seperti dia. Jaman dulu pun, horror-horror lokal sanggup membuat saya ketakutan setengah mati hingga sekarang. Selain itu, negara kita memiliki banyak cerita rakyat yang penuh misteri. Sayangnya, film sekarang malah menghancurkan mitos-mitos tersebut lewat penggarapan yang asal-asalan.

 

Saya memang sudah terlanjur menggemari film horror western yang berdarah-darah, bukan film yang memfokuskan diri pada sosok hantu seperti horror Asia. Meski begitu saya tetap berharap kualitas film horror lokal semakin baik seiring membaiknya film-film lokal dengan genre lain. Bagaimanapun sebagai warga negara asli, akan bangga rasanya jika hasil karya bangsa diadaptasi oleh negara lain. Apalagi negara itu dikenal lebih “hebat” dan “canggih” seperti Amerika.

 

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »