Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Arsip untuk April, 2008

Ada “Kont*l” di Stardut

Ditulis oleh planetmiring di/pada April 25, 2008

Beberapa bulan belakang ini ada kebiasaan baru pada diri saya. Jika biasanya pada malam hari saya kerap ‘mengejek’ tayangan sinetron yang ibu saya tonton, kali ini justru saya sangat ‘akur’ berbagi ruang televisi untuk acara yang sama. Yang pasti bukan untuk menonton sinetron, tetapi program Mamamia di Indosiar.

 

Reality show ajang pencarian bakat menyanyi ini merupakan acara yang mencuri perhatian saya dan mungkin jutaan mata di seluruh Indonesia. Kemasannya sangat merakyat dan malah sekarang terkesan ‘ngaco’ karena diselingi oleh guyonan-guyonan spontan dan konyol oleh para komentator dan presenternya.

 

Saking larisnya acara ini, Indosiar sepertinya tidak ingin perhatian pemirsa beralih ke stasiun lain. Makanya, menyusul sukses Mamamia, dibuat pula Star Soulmate, Selebshow, dan Stardut, yang konsepnya hampir sama dengan Mamamia namun dengan peserta dan kemasan yang berbeda. Kesemuanya itu diputar hampir setiap hari secara bergantian dan durasi yang panjang.

 

Saking seringnya saya menyaksikan semua acara tersebut, saya baru sadar ternyata musik dan lagu musisi Indonesia juga banyak yang bagus. Maklum, selama ini saya hanya mau mendengar lagu-lagu indie-rock yang berseberangan dengan pakem mainstream dan menganggap tren musik di Indonesia kian kacau dengan tampilnya beberapa band dengan konsep yang menjenuhkan telinga dan mata.

 

Dengan adanya acaranya seperti ini setiap orang yang berbakat memiliki kesempatan untuk tampil di TV dan menjadi idola baru. Lihat saja salah satu peserta Mamamia yang bernama Ajeng. Dia awalnya hanya mengamen bersama orang tuanya di bus-bus kota dan ngetem di Komdak. Siapa sangka, begitu mengikuti Mamamia dia masuk di empat besar dan kini sering dikontrak untuk tampil di beberapa daerah. Senang rasanya melihat salah satu bagian dari kaum yang tersisihkan berhasil merubah nasibnya.

 

Belakangan ini harus diakui konsep Mamamia dan klannya sedikit ngawur dan asal, karena hampir semuanya berjalan spontan dan tidak ada ‘batasan’. Presenter dan komentator dibuat bebas berbuat ‘semaunya’. Tapi disinilah nilai jual acara ini dan menjadi daya tarik agar pemirsa terjaga untuk menyaksikan acara ini hingga selesai sekalipun jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

 

Begitupun pada malam tadi (24/4) ketika salah satu ibu peserta Stardut Cabut 2 jadi bahan bulan-bulannya salah satu presenternya. Si ibu yang ternyata pengidap latah kronis ini dikagetkan dengan musik yang tiba-tiba menggema. Bisa ditebak, si ibu pun terkaget-kaget dan langsung latah. Parahnya lagi, dengan latahnya si ibu mengucapkan “kont*l” di hadapan penonton. Kejadian ini benar-benar tanpa sensor karena memang disiarkan secara langsung.

 

Terlepas dari kata-kata kotor yang dilontarkan si ibu tadi, tentu saja kejadian ini membuat saya sakit perut terpingkal-pingkal. Begitupun dengan penonton di studio. Tampaknya sebuah batasan baku dalam dunia siaran kita telah diloncati dengan adanya insiden yang tidak disengaja ini. Kapan lagi sih bisa menyaksikan seorang ibu latah bicara kotor dan disiarkan secara langsung? Untungnya, si ibu langsung mengkoreksi kesalahannya itu dengan sikapnya yang lucu. Kepolosan si ibu ini dan celotehan-celotehan logat betawi yang dikeluarkan membuat saya simpati dan menjagokan dia serta anaknya untuk masuk di babak selanjutnya. Dugaan saya tidak meleset, dia terpilih sebagai peserta dengan nilai tertinggi.

 

Dengan insiden di atas, jelas sekali bahwa acara ini dijalankan benar-benar penuh spontanitas dan alur seadanya. Tidak ada yang salah dalam hal ini, namun sepertinya pihak pengisi acara harus pintar-pintar mengambil bahan lelucon agar tidak menyinggung orang lain. Karena bisa saja akibat insiden ini penonton malah tidak simpati dan beralih ke acara lain. Tapi, bagaimana pun ‘rusaknya’ acara ini, saya tetap mendaftarnya sebagai siaran wajib tonton. Selamat datang di era baru reality show Indonesia…

 

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Copywriting VS Jurnalism

Ditulis oleh planetmiring di/pada April 25, 2008

Sebagai orang yang hanya mengandalkan kemampuan mengasah aksara, bidang tulis-menulis sudah tentu menjadi pijakan karir dalam hidup saya. Itulah sebabnya begitu lulus kuliah saya memantapkan diri di dunia jurnalistik sebagai wartawan desk kriminal di sebuah surat kabar lima besar di Jakarta. Setelah itu saya migrasi ke sebuah majalah bulanan yang concern dengan perkembangan dan implementasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di masyarakat dan pemerintahan (e-government)

 

Dua tahun berselang, saya kemudian menerima tawaran dari seorang kenalan untuk bekerja sebagai redaktur pelaksana media in-house salah satu instansi pemerintah. Itu juga tidak lama, hanya sekitar satu tahun saja.

 

Bergulat di dunia jurnalitik sekian tahun ternyata belum cukup memuaskan saya yang memang suka dengan tantangan baru. Demi mengejar tantangan baru ini, akhirnya bekerja sebagai copy writer di sebuah communication agency, namun tetap sebagai kontributor beberapa artikel di media tempat saya bekerja sebelumnya.

 

Tadinya saya pikir copywriting tidak seruwet jurnalistik yang aktivitasnya kebanyakan di lapangan atau luar kantor. Rupanya dugaan saya salah. Meskipun 80% aktivitas saya berada di dalam kantor—keluar kantor hanya untuk meeting dengan klien—ternyata copywriting benar-benar menguras tenaga dan khususnya pikiran.

 

Berbeda dengan jurnalistik yang selalu mengedepankan objektivitas, aktualitas, dan kedalaman isi berita, copywriting harus benar-benar mempertimbangkan kemauan klien. Meskipun dari sisi karakter tulisan lebih sedikit, tetapi copywriting benar-benar memusingkan. Katanya sih, jika jurnalistik mengandalkan kuantitas tulisan, copywriting menyender pada kualitas. Nah, barometer ‘kualitas’ ini berada di keputusan klien. Diistilahkan, isi kepala saya harus benar-benar sama dengan klien jika mau tulisan saya dibilang ‘berkualitas’.

 

Di bidang ini saya harus bisa mengiyakan sesuatu yang buruk dari klien, sementara saya harus rela sesuatu yang bagus menurut saya ‘diberangus’ oleh kemauan klien karena dibilang jelek. Terkadang saya juga dipusingkan oleh salah satu klien rewel. Setiap waktu saya harus sigap dengan pikiran dan konsep klien yang berubah-ubah. Sekalipun saya sering menelan ludah, menghujat dalam hati sambil mengusap-usap dada sendiri, inilah konsekuensi yang harus saya terima. Saya bekerja untuk klien dan sebisa mungkin harus memberikan service terbaik bagi mereka. Idealisme serasa fatamorgana saja.

 

Terkadang ada semacam perasaan rindu akan ‘bau’ lapangan dan medan peliputan. Terutama kerinduan dengan teman-teman wartawan yang selalu mengiringi saya di desk yang sama. Ketika ada suatu keputusan kontroversi pemerintah terkait dengan TIK, naluri kewartawanan saya bangkit. Gregetan rasanya ketika pemerintah memblokir beberapa situs pasca rilis UU ITE, tapi saya tidak bisa ‘berbuat’ apa-apa. 

 

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , | Leave a Comment »

UU ITE BIKIN PARNO + CARA MENGUNJUNGI SITUS YG DIBLOKIR

Ditulis oleh planetmiring di/pada April 9, 2008

Memasuki masa rilisnya yg ke minggu pertama, UU ITE sudah makan korban. Yups, setidaknya 7 situs telah diblog beberapa ISP seperti myspace, youtube, multiply, liveleak, rapidshare, dan lainnya yg diduga pemerintah menjadi penyalur fim Fitna yg menghebohkan itu.

Membabi butanya kebijakan pemerintah itu tentunya mengesalkan pihak yg mengakrabi situs-situs tersebut, seperti halnya saya yang setahun belakangan ini sering memburu beberapa videoklip band-band ljadul yang tak saya lihat sebelumnya di televisi. Sementara myspace digunakan untuk kepentingan promosi band saya, selain friendster dan beberapa milis. Malah situs-situs itu berkontribusi besar terhadap order atau job tampil band saya di beberapa pentas.

Nah, dengan diblokirnya myspace tentu menyulitkan saya untuk memberitahukan jadwal penampilan terdekat band saya. Padahal setidaknya ada 2 pentas yang cukup besar untuk band indie sekelas band saya di bulan ini. Untungnya, seorang teman memberi tahu saya kalo sebenarnya kita masih bisa membuka situs-situs yang diblokir tersebut lewat htpp://www.netunlocker.com. Tetapi bagaimana bagi orang yg tidak tahu situs ini?

Selain itu, UU ITE juga membuat saya parno untuk mengisi konten blog ini. Salah seorang teman saya yg blogger aktif  memperingatkan saya untuk tidak memposting muatan yang menyinggung orang lain. Menurutnya ada beberapa posting yang ada di blog ini menyinggung orang lain. Di antaranya postingan dalam kategori “wawancara imajiner”.

Padahal tadinya kategori ini saya maksudkan sebagai ajang kritisi saya terhadap berbagai fenomena yang ada di negeri ini bukan menyinggung karakter orang secara frontal. Tidak perlu dalam muatan bahasa politik yang berat, toh “wawancara” ini dimaksudkan sebagai sentilan. B

Sayangnya, baru dua tulisan yang saya posting, eh ternyata diperingatkan oleh teman. Jujur aja, saya ketakutan. Secara 1 miliar denda lho ganjarannya. Kerja seumur hidup juga belum tentu saya bisa menghasilkan uang segitu banyaknya. Ya sudah terpaksa hasil “wawancara” saya dengan dua tokoh di planet ini sementara saya proteksi agar tidak bisa dibuka oleh setiap orang.  Cari aman dulu lah. Toh saya yakin UU ITE hanya pasal karet yang nanti bakal berakhir seperti peraturan-peraturan lainnya, seperti larangan merokok di tempat umum dan penggunaan lampu sorot untuk kendaraan bermotor di siang hari. Kalo pun UU ITE “serius”, waduh sepertinya ini langkah terbaru pembredelan atas kebebasan berekspresi. Order baru bangkit? Wallahualam….

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Jenifer : Mencekam Dalam Durasi Singkat

Ditulis oleh planetmiring di/pada April 3, 2008

jenifer.jpg

Membuat film horror bermutu tidak perlu durasi yg panjang, budget besar, dan judul yang bombastis. Setidaknya Dario Argento membuktikan hal ini dlm film tv-nya yg berjudul Jenifer. Master film horror asal Italia ini membuktikan, dengan durasi 58 menit di pemutar DVD player, Jenifer tetap pantas disejajarkan film horror berbudget besar.

Cerita bermula dari aksi penyelamatan polisi terhadap seorang gadis bernama Jenifer yg hampir dibunuh oleh seorang lelaki. Dalam menyelamatkan Jenifer, dia terpaksa menembak mati si pelaku yg berkata, “She’s an evil”, sembari menghembuskan nafas terakhir.

Sekilas, Jenifer punya body dan rambut yg aduhai. Tapi jika melihat wajahnya, wow cukup mengerikan. Yup, selain matanya besar, doi juga punya bibir memble ditambah gigi yg besar dan tajam.

Selama kasus Jenifer dalam penanganan, Steven bersedia menampungnya di rumah utk sementara. Nah, disinilah masalah bermuara. Di rumah ini, Jenifer mulai berulah. Korban pertamanya adalah kucing peliharaan keluarga polisi tsb. Dgn santainya Jenifer memakan isi perut kucingnya di kamar mandi.

Melihat kelainan Jenifer, Steven dipaksa istrinya utk membuang Jenifer. Dalam perjalanan menuju tempat pembuangan, Steven malah terintimidasi secara seksual. Steven benar2 mengalami pengalaman seks yg tidak pernah diperoleh dari istrinya. Steven pun luluh dan membawa Jenifer kembali. Bisa ditebak, istri Steven marah dan minggat dari rumah.

Sepeninggal istri Steven, Jenifer kian ganas. Selain kerap menjadikan Steven sebagai objek seksnya, doi terus membunuh orang2 dgn cara memakannya. Steven pun kalang-kabut. Entah demi cinta atau apa, Steven rela meninggalkan pekerjaan n menyendiri bersama Jenifer di sebuah hutan. Sambil berharap Jenifer berhenti membunuh.

Cinta dan pengorbanan Steven berakhir dgn matinya dia ditangan seorang pemburu ketika berusaha membunuh Jenifer yg tdk bisa berhenti membunuh. Kondisi ini sama dgn seorang lelaki yg pernah ditembaknya ketika ingin menyelamatkan Jenifer..

Ditulis dalam RevieW, Uncategorized | Bertanda: , , , | 2 Komentar »