Ditulis oleh planetmiring di/pada Maret 31, 2008
Hidup adalah pilihan. Yup, tampaknya ini adalah salah satu motto yang kerap menggiring saya hingga hela napas di detik ini hingga detik ke depan. Mempunyai pilihan hidup berarti siap menuai resiko. Itulah yang tengah saya hadapi sekarang. Setelah menggeluti dunia kewartawanan selama lebih dari tiga tahun, toh tiba pada masanya saya meninggalkan profesi ini. Ya, tepatnya sekarang.
Terhitung sejak Kamis (27/3) saya sudah menempati kantor baru dimana profesi baru akan saya geluti : copywriting di sebuah agensi. Setelah mendapatkan pengalaman di ranah jurnalisme dan sempat memenangkan sebuah award penulisan berita dari salah satu operator, saya rasa sudah saatnya saya keluar dari “zona aman” yang selama ini telah mempertemukan saya dengan beragam peristiwa dan manusia.
Awalnya ada semacam keraguan menggantung di pilihan saya ini. Namun setelah yakin bahwa pilihan saya adalah benar, maka saya harus menjalaninya untuk saat ke depan. Apa yang saya geluti sekarang ini tidak lain karena ingin adanya perubahan. Saya ingin mencoba sesuatu yg baru—meski tidak terlepas dari kemampuan saya dalam bidang tulis-menulis—sekalipun itu tetap beresiko.
Saya enggan bicara mengenai perubahan dari nilai penghasilan. Tapi jika ditilik dari kemauan saya untuk berubah, yang paling utama adalah, saya ingin pola hidup yang teratur : pagi-pagi jalan ke kantor, pulang sore/malam, nonton tv sebentar, tidur. Berbeda dengan pola hidup sebelumnya dimana antara jam tidur, jam kerja, dan jam rekreasi sangat tidak menentu. Awalnya mungkin ini mengasyikan, terutama di tempat media terakhir saya bekerja, dimana pola kerjanya sangat PNS (Pegawai Negeri Sipil) sekali; datang dan pulang semaunya yang pada akhirnya saya bakal ditimbun pekerjaan ketika deadline menjelang. Bahkan saya pernah tidur menjelang adzan subuh selama seminggu berturut-turut demi mengejar target deadline yang awalnya terabaikan.
Namun sekalipun begitu pola hidup yg pernah saya alami, bukan berarti menjadi indikator gaya hidup seorang jurnalis. Saya rasa itu tergantung dari medianya juga. Meski harus diakui seorang wartawan itu harus siap menjalani pola hidup “jungkir-balik” alias jam kerja yang tak beraturan, terutama mereka yang bekerja di harian.
Perubahan ini memang sebuah awal yang sedang berjalan. Meski harus diakui tampaknya cepat atau lambat saya bakal merindukan sebuah suasana peliputan. Karena bagaimanapun juga saya sangat mencintai dunia jurnalistik dan saya merasa beruntung sempat mencicipinya meskipun hanya beberapa tahun saja. Itu adalah bagian dari resiko pilihan saya : merindukan dunia jurnalistik.
Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: copywriting, jurnalistik, profesi | 2 Komentar »
Ditulis oleh planetmiring di/pada Maret 28, 2008
Ah, lega banget rasanya setelah 29 x cicilan, akhirnya Si Mio jadi milik saya sepenuhnya. Gak kebayang betapa ngos-ngosan rasanya nafas ini kalo inget gimana usaha membagi gaji saya yang tidak terlalu besar ini untuk mencicil Si Mio. Apalagi kalo inget bagaimana sebalnya diperingatkan oleh bagian penagihan jika saya lupa membayar 1-2 hari saja. Tapi sekarang ngos-ngosan itu udah berlalu.
Sekedar membalik cerita, saya memutuskan utk nekat membeli Si Mio karena terdesak oleh pekerjaan saya sebagai reporter yang tentu saja mobilitasnya tinggi. Apalagi jarak antara rumah dan kantor redaksi tempat saya dulu bekerja sangat jauh sekali. Saya tinggal di sekitar Harmoni, Kota sedangkan kantor saya di bilangan Pondok Gede. Kalo naik angkutan umum bisa mencapai 1 jam perjalanan. Itupun kalo tidak macet. Apalagi waktu itu dengan bengisnya pemerintah menaikkan harga BBM hingga seratus persen yang tentunya berdampak pada kenaikan tariff angkutan umum. Jika dihitung-hitung, membayar cicilan Si Mio beda-beda tipis dengan berapa ongkos yang mesti saya keluarkan setiap harinya untuk menuju kantor atau berbagai tempat peliputan.
Menunggang Si Mio sendiri awalnya memang bukan tanpa cobaan. Saya ingat banget saat itu banyak yang mencela pilihan saya. Maklum, Mio sebenarnya motor skutermatik untuk perempuan. Ketika liputan sebuah peluncuran produk, ketika berpapasan dgn seorang teman di area parkir, seorang teman pernah meledek saya, “Chan, buruan pulangin motor nyokap lo. Kasian, ntar dia mau ke pasar naik apan.” Bahkan ada pula yang meledek : “Ya elah, motor mainan dibeli. Paling baru setahun udah jadi rongsokan.” Yang terparah adalah : “Ya ampun, homo banget sih motor lo!”
Tapi percaya apa enggak, 8 dari 10 orang pernah mencela saya malah sekarang ikutan menunggang Mio. Sampai ada yang rela menukar motor sport jantannya. Tampaknya mereka terprovokasi dengan pilihan “aneh” saya tersebut. Ini memang tidak seperti yang saya harapkan. Saya mengendarai Mio, selain karena mudah dikendarai (jujur saja…saya dulu gak bisa naik motor hehehe), saya juga pengen beda saja sama anak2 motor yang kebanyakan memuja maskulinitas. Ternyata, sekarang Mio malah jadi mainstream. Hampir di setiap jalan saya selalu berpapasan dengan pengendara Mio. Memang sih ada keuntungannya semakin banyak penunggang Mio. Setidaknya setiap saya mengalami ban bocor karena kena ranjau paku, saya bakal gampang menjumpai tukang tambal ban yang trampil mengganti atau menambal ban dalam Mio. Kalo dulu, susahnya bukan main. Untuk setel velg aja mereka tidak ada yang berani. Imbasnya, nilai unik yang tadinya menempel pada saya otomatis memudar dengan semakin banyaknya penunggang Mio. Makanya, di saat teman2 saya ribet mendandani motornya dengan aksesoris ini-itu, saya sih cukup anteng aja. Saya malas merubah tampilan Mio saya. Kalo pun berubah itu pun Cuma mencabut stiker bodi dan mengganti kaca spion orisinal dengan model vespa (itu juga hadiah dari temen). Soalnya, saya sendiri membeli motor karena memang butuh, bukan karena ini bergaya. Apalagi dalam hal bergaya, saya juga enggak pintar-pintar amat hehehe
Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: BBM, kredit, mio | Leave a Comment »
Ditulis oleh planetmiring di/pada Maret 24, 2008

Bagi penggemar komik dewasa, City Hunter mungkin bukanlah bacaan yg langka. Sekitar akhir 90an komik ini sempat booming di kalangan pembaca komik. Meski banyak memuat gambar seksi dan ketelanjangan, tapi dari sisi cerita City Hunter merupakan bacaan yg menghibur dan jenaka. Saya ingat ketika itu masih duduk di bangku SMP, sempet bela-belain irit jajan cuma hanya membeli komik ini. Nah, dikarenakan saya memang kurang rajin menabung, akhirnya saya cuma bisa pinjam2 edisi terbarunya dari seorang teman yg sangat fanatik dgn Ryo Saeba, tokoh dalam komik ini yg jago nembak, bela diri, ganteng, tapi sayangnya berotak mesum.
Tapi siapa sangka di balik kemesumannya ini ternyata sosok Ryo sangat beradab sekali. Dia gak bakal mau menjual dirinya ke dalam kejahatan. Dia menjadi semacam detektif hanya untuk membantu orang, meskipun terkadang klien yg dia pilih harus cantik dan seksi. Sepak terjangnya dgn partnernya yg galak dan posesif, Kaori, cukup menggelitik. Apalagi dalam cara menangani kasus kejahatan sangat tidak biasa. Nah, meski komik ini bisa dibilang komik dewasa yg menawarkan cerita detektif, tapi jangan menyangka pembaca bakal dijejali cerita investigasi yg berat. Jika dibandingkan komik Detektif Conan, cerita City Hunter justru lebih “kekanak2an”.
Gemerlap film Hongkong pun pernah mengangkatnya ke dalam sebuah film dengan pemeran utama Jacky Chan dan beberapa bintang besar lainnya. Meski secara fisik Jacky Chan jauh dari tokoh komiknya, tetap saja saya tidak bosan2nya menyaksikan film ini. Bahkan sekarang pun jika ditayangkan kembali oleh salah satu stasiun TV, saya menyempatkan diri utk menontonnya.
Sekalipun sekarang ini di rumah saya sudah tidak ada satu pun seri dari komik tersebut–hilang karena dipinjam, kena banjir, dsb–saya masih menyimpan beberapa ceritanya di dalam otak saya. Toh akhirnya sebuah nostalgia saya alami ketika minggu lalu mampir ke Pinangsia Plaza, Glodok utk membeli beberapa kebutuhan komputer. Di jejeran counter penjaja DVD bajakan, saya melihat “bundel” DVD City Hunter. Satu bundel berisi 6 CD dengan harga 30 ribu rupiah.
Dengan hati senang saya melenggang pulang dan langsung menyetel DVD itu. Tapi…….ternyata film kartun City Hunter tidak sesuai dengan ekspetasi saya. Tadinya saya berharap kartun ini lebih seksi dan hidup. Nyatanya, beberapa adegan yang sedikit ngeres dihilangkan di versi kartunnya ini. Begitupun dengan gambar yg masih kaku. Ini benar2 kealpaan saya, karena City Hunter merupakan kartun yg diproduk pada tahun 1987. Jadi sangat jelas dari kualitas animasi jauh dari ekpetasi saya. Meskipun begitu, untungnya dari sisi cerita versi kartunnya tidak jauh berbeda dengan komik. Saya pun bisa bernostalgia dengan klimaksnya….
Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: anime, city hunter, jacky chan, kartun, manga, ryo saeba | 2 Komentar »