Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Arsip untuk Februari, 2008

Formasi Aneh “Duo Maia”

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 24, 2008

Setelah ditinggal Mulan Kwok yang kini menjadi Mulan Jameela, Maia rupanya ingin terus berkiprah di dunia musik dengan Ratu-nya. Sekalipun kisruh rumah tangganya sudah sampai pada tahap yang membingungkan, Maia tetap merilis sebuah album perkenalan dengan lead vokal terbarunya yang bernama Mey Chan dan mengganti nama Ratu dengan Duo Maia.
Entah karena ingin menyaingi Mulan yang lebih dulu merilis albumnya, tampaknya Maia di format terbarunya ini sepertinya terlalu memaksakan diri agar terlihat bisa bernyanyi. Padahal, dari beberapa penampilan live-nya di TV, saya melihat kualitas vokal Maia jauh dari bagus.
Lebih lucu lagi, sekalipun Mey Chan didapuk sebagai lead vocal, nyatanya di setiap show, cewek dengan tampilan ‘nakal’ ini malah perannya lebih mirip backing vocal. Sementara Maia yang porsi nyanyinya sedikit dan sekedar cuap-cuap malah tampil layaknya lead vocal. Cukup aneh, mengingat di format Ratu ibu-ibu ini justru tampil sebagai backing vocal sembari memencet kibor.
Memang sih, Duo Maia itu ya punya Maia. Tapi, kenapa sih porsi nyanyi Maia gak mendominasi lagu-lagunya? Malah Mey Chan dikesankan tampil hanya untuk menutupi suara Maia yang memang gak enak didengar. Sementara dalam beraksi di panggung seolah-seolah Mey diberi komando agar tidak terlalu mendominasi panggung. Jadi kelihatan betul kalau Mey Chan benar-benar tempelan belaka untuk menutupi falsnya suara Maia.
Kalau memang betul Mey hanya jadi tempelan, ya kenapa dari awal Maia gak bersolo aja. Sepertinya Maia mempunyai ambisi yang sama dengan Ahmad Dhani, yakni berupaya menjadi front-man di setiap proyek band yang dijalaninya. Atau, memang Maia gak mau kesaing dengan Mulan yang cukup sukses dengan image terbarunya. Kalau disuruh memilih antara Duo Maia dan solo Mulan Jameela, saya sih lebih memilih Mulan Jameela. Apalagi dengan tari perutnya itu :-p

==chandralagimemperhatikanmusiklokal===

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

Musibah di Konser Beside, Jangan Takuti Underground

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 24, 2008

Pemberitaan tewasnya 10 orang di konser band underground Beside di Braga, Bandung memang telah surut. Namun tampaknya efek dari pemberitaan tersebut yang cenderung menyalahkan attitude underground sebagai musik cadas tak bermoral terus mengusik saya. Kebanyakan media tidak menyorot tewasnya korban dikarenakan kapasitas gedung yang mempersulit asupan oksigen melainkan karena ‘kebrutalan’ konser itu. Padahal, sudah dikonfirmasi oleh panitia maupun pihak kepolisian bahwa kejadian ini murni kecelakaan bukan hal yang dipicu oleh suasana di dalam pentas. Beberapa media terlalu mengekspos pembagian bir kepada para penonton konser, head banger, dan moshing sebagai tindakan tercela yang jamak di pentas underground.

Kalau memang dari sisi tercela, memang harus diakui pentas musik apapun rentan terhadap kerusuhan dan minuman keras. Jangankan underground, untuk musik pop mendayu-dayu sekelas Ungu dan Sheila on 7 saja pernah rusuh dan memakan korban. Belum lagi pentas dangdut di kampung-kampung yang kadang berakhir dengan tawuran antar kampung. Saya yang sudah akrab dengan pentas underground sejak di bangku SMA tidak menutup mata memang ada semerbak alkohol di dunia ini. Tapi benarkah underground seburuk itu? Pendapat ini jelas salah. Dari pengalaman saya sendiri, sekalipun musik dipentaskan dalam level rock yang sangat cadas dan menyulut emosi agresif penontonnya, kebanyakan pentas berakhir tertib. Kalau ada anggapan underground hanya mencetak anak muda berperilaku menyimpang, hal ini sangat salah besar. Justru dari dunia ini banyak tercetak beberapa pemikir, seniman, maupun pemimpin yang idealis dan menjunjung tinggi nilai kebenaran. Karena memang underground lahir karena adanya rasa ketidakpuasan terhadap sistem negara yang carut-marut dan dominasi budaya yang membodohi, seperti budaya palsu, pergaulan berasas materi, dan sinetron busuk.

Selama ini saya melihat, underground kerap dijadikan lahan pendidikan politik yang paling menyenangkan. Berkecimpung di dunia underground membuat kita semakin peka terhadap kehidupan sosial dan permasalahannya. Kita seolah terdoktrin untuk berontak terhadap kemunafikan dan kejahatan sistem. Musik dan lirik yang dipersembahkan bukan nihilisme yang ada di dunia clubbing. Musik underground memiliki sebuah nilai dan pesan moral yang sangat tegas. Sebagai penikmat musik underground, apakah keseharian saya lekat dengan minuman keras dan narkoba? Hell No! Justru saya tampil tanpa rokok, narkoba, dan miras; sebuah nilai yang dianut oleh kebanyakan mereka yang menyebut dirinya bagian dari straight edge, meskipun saya bukan straight edge. Dan nilai ini lahir dari komunitas underground. Jadi, jangan takut jika saudara, kakak, adik, atau rekan Anda adalah penikmat underground. Cukup pastikan dia akan tumbuh dan berbeda dengan rekan di lingkungannya namun tetap di jalur yang positif dan berarti.

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , | Leave a Comment »

WNI menjadi tentara bayaran di negeri orang, salah siapa?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 24, 2008

Belakangan ini kita dikejutkan oleh pemberitaan seputar perekrutan WNI sebagai tentara bayaran di Malaysia dan ada juga yang mengikuti program wajib militer (wamil) di Singapura. Mengetahui kenyataan yang sempat membuat kuping para pejabat militer di negeri ini merah, pemerintah mengeluarkan ancaman permanent resident atau pencabutan kewarganegaraan bagi WNI yang mengikuti program militer di Singapura dan Malaysia.
Dengan ada berita sensasional ini, seharusnya pemerintah jangan buru-buru mengeluarkan tindakan permanent resident. Seharusnya pemerintah mengkoreksi diri dan melakukan pembenahan perekrutan tenaga militer di negeri sendiri. Karena sudah menjadi rahasia umum, perekrutan sebagai anggota militer, kepolisian, kejaksaan, maupun PNS, terjadi praktek pencaloan dan penyogokan yang melibatkan internal instansi yang bersangkutan.
Untuk lolos sebagai abdi negara, WNI harus mengeluarkan uang yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini bukan kabar burung, karena banyak teman dan kerabat saya yang mengalami hal ini. Sangat ironis sekali, ingin mengabdi kepada negara kok mesti bayar. Herannya praktek ini sudah berlangsung sejak lama dan kita terlalu bosan dengan berita-berita penyelewengan seperti ini namun tidak ada tindakan nyata.
Apa jadinya mental aparat dan pamong di negeri ini kalau perekrutannya saja sudah berbau KKN. Tampaknya hal ini pula yang menjadi indikator kinerja tenaga aparat pemerintah yang amburadul itu. Mereka menjadi aparat bukan karena cita-cita dan ingin mengabdi kepada negara, namun dikarenakan memang instansi ini dilihat sebagai lahan yang ‘basah’ untuk materi maupun kekuasaan. Perekrutan seperti ini jelas merusak mental.
Jadi, jangan salahkan mereka yang menjadi tentara bayaran di Singapura dan Malaysia, karena toh menjadi tentara di negeri sendiri harus merogoh kocek yang dalam. Cari kerja sudah sulit, kenapa mengabdi kepada negara juga dipersulit. Kalaupun nanti kewarganegaraan mereka dicabut, sepertinya mereka sendiri juga tidak peduli mengingat pemerintah di negeri ini juga tidak peduli dengan mereka.
Negara ini hanya dipimpin oleh sekumpulan badut-badut yang rakus kekuasaan dan materi. Mereka seolah melupakan petuah Haji Agus Salim bahwa memimpin adalah sebuah jalan derita. Sekarang ini, justru memimpin adalah sumber kenikmatan. Menulis ini kerinduan saya akan pemimpin bersih dan berani seperti Bung Karno dan Moh Hatta kembali bergelora di hati. Namun, melihat kebejatan yang terus terjadi di dunia kepemimpinan negeri ini, tampaknya harapan pupus harapan ini. Revolusi adalah solusi!

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , , , | 7 Komentar »

Nihilisme di Balik Tren Kifayeh

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 14, 2008

Sekitar setahun lalu, saya pernah melihat sebuah peliputan berita TV sebuah pentas band punk rock di Amerika Serikat dan daratan Eropa. Sebenarnya bukan pementasan band itu yang membuat saya terkesima. Melainkan isi berita itu yang melaporkan atribut punk terbaru. Jika sebelumnya tampilan punker identik dengan jaket kulit, boots, baggy trouser, dan bretel. Namun waktu itu diberitakan, para punker juga membalut leher mereka dengan kifayeh—sejenis kain sorban yang biasa dikenakan para muslim di Timur Tengah—selain mengenakan atributnya. Alasan mereka menggunaakan kifayeh adalah untuk mempertegas ‘nilai pemberontakan’ yang selama ini dianutnya.

Kifayeh memang identik dengan para pejuang Intifada yang memerangi penjajahan Israel di Palestina. Inilah pula yang menjadi salah satu alasan mereka mengenakannya. Mereka menganggap Intifada adalah sekumpulan pejuang revolusi, seperti halnya mereka para punker sejati yang kerap meneriakan revolusi dan menentang rezim kapitalisme dan liberalisme yang menjajah. Meski berjuang di tujuan yang berbeda, para punker merasa satu nasib dengan Intifada. Uniknya, mereka yang merasa ’seperjuangan’ dengan Intifada adalah pemeluk agama kristen dan tidak sedikit yang atheis.

Dengan alasan yang menurut saya sangat ’suci’ tersebut, tak ada salahnya kifayeh menjadi atribut para punker. Sayangnya, para pemerhati fesyen tampaknya juga jeli melihat peluang di dalamnya. Dengan alasan modis dan trendy, maka sebuah griya fesyen di Amerika memproduksi berbagai corak dan warna kifayeh dengan tujuan komersil. Ternyata, sangat laris dan bahkan sempat merisaukan beberapa pemegang kepentingan, bahwa penggunaan kifayeh akan melahirkan sebuah sentimen terhadap pemerintahan Amerika yang notabene adalah penjajah bangsa lain. Maka setelah itu dilakukan penarikan besar-besaran dan penghentian produksi kifayeh.

Beberapa waktu belakangan, saya kembali dicengangkan oleh pemberitaan kifayeh. Kali ini di dalam negeri. Beberapa majalah gaul, televisi, dan radio sibuk ‘mempeributkan’ kifayeh sebagai aksesoris fesyen terkini dan tentu saja tergaul. Menonton sebuah acara infotainmen dan variety show di TV, hampir tak ada pengisi acaranya yang tampil tanpa kifayeh. Yang merisaukan, penggunaan kifayeh juga merambah para penggila clubbing dan pejelajah mal.

Saya sempat menonton sebuah peliputan klub malam tergaul di Jakarta yang menyajikan sexy dancer bergoyang erotis di atas meja bar. Goyangan cewek-cewek liar ini disambut histeria dan birahi para cowok yang asyik bergoyang sambil menunjukkan tampang mereka yang horni. Ironisnya, cowok-cowok dungu itu kebanyakan menggunakan kifayeh. Belum lagi penggunaan kifayeh dalam ajang permejengan cowok-cowok mal. Ya ampyun….

Apakah popularitas kifayeh di Indonesia dikarenakan negara ini sebagai negara pemeluk agama Islam terbesar di dunia dan mencerminkan semangat keislaman? Hell No! Lihat aja mesjid yang hanya ramai pada waktu sholat jumat saja. Maraknya anak muda negara ini yang mengenakan kifayeh bukan mencerminkan semangat keislaman, apalagi perjuangan. Kifayeh hanya mencerminkan sebuah icon fesyen terbaru. Tidak lebih.

Kenapa saya lebih merisaukan penggunaan kifayeh di negeri sendiri bukan para punker di barat sana? Indonesia kan negara dengan populasi muslim terbanyak? Seperti yang saya tulis di atas, kebanyakan punker barat menggunakan kifayah karena ada nilai yang diperjuangkan, sekalipun mereka bukan muslim. Jadi penggunaan kifayeh sebagai cerminan apa yang mereka perjuangkan, karena kifayeh identik dengan kostum para pejuang di Timur Tengah sana. Sementara di Indonesia? Jangan ditanya. Kifayeh hanya tren belaka.

Sungguh menyakitkan jika melihat kifayeh membalut leher para begundal-begundal hedonis yang hanya mengedepankan nihilisme. Apa yang mereka lakukan hanya apa yang bisa menyenangkan mereka. Termasuk menggunakan kifayeh supaya dibilang keren.

Melihat fenomena busuk seperti ini, akhirnya membuat saya urung untuk ikutan menggunakan kifayeh oleh-oleh pergi haji ayah saya yang selama lebih dari 15 tahun hanya tersimpan rapih di lemari pakaian. Saya memang orang yang terlambat tahu bahwa kifayeh menjadi icon fesyen paling gaul sekarang ini. Tapi pepatah terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali tampaknya berlaku dalam kasus ini. Coba, akan betapa dungunya saya menggunakan kifayeh sementara saya belum bisa berbuat apa-apa untuk negara ini dan juga agama Islam. Selain itu, keislaman saya juga jauh dari taraf muslim sejati. Tadinya, saya ingin menggunakan kifayeh untuk memperkaya nilai yang saya yakini seperti halnya para punker tersebut. Tapi, mengingat kifayeh di Indonesia hanya sekedar fesyen semata dan tidak bernilai apa-apa ya lebih baik gak usah. Karena penggunaan kifayeh hanya representasi faham nihilisme belaka. Saya lebih memilih jadi penjahat fesyen…

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Antara Bencana (Banjir) dan Bergaya…

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 11, 2008

 Berikut ini ada foto-foto suasana banjir di sekitar rumah saya. Untungnya saya mempunyai stok foto banjir tahun lalu. Jadi setidaknya kita bisa membandingkan, apakah banjir tahun lalu separah banjir edisi 1 februari tahun ini. Atau malah sebaliknya. Tapi, sesusah-susahnya bencana banjir, setidaknya masyarakat kita memang pandai menebar senyum. Lihat saja beberapa foto anggota keluarga saya dan para tetangga.p1010441.jpg

100_2602.jpg

Kalo saja, Bung Ical melihat foto ini, mungkin saja dijadikan dalih pembenaran atas statementnya yang paling menyakitkan tahun lalu, yang kira-kira seperti ini: “Siapa bilang rakyat kesusahan di saat banjir? Orang saya lihat di tivi malah pada tertawa-tawa kok”

Waduh, memalukan banget ya, mengingat doi menjabat sebagai Menteri Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat….dan orang terkaya di Indonesia. Jangan kan korban banjir dia peduli, korban lumpur di Sidoardjo yang diakibatkan dari perusahaannya—Lapindo–saja seolah tak berdaya. Jadi, selamat datang deh di Planet Miring….

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Film Ayat-Ayat Cinta : Jangan Bandingkan Dengan Novelnya…

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 11, 2008

 ayat1.jpg

Begitu mendengar novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El Shirazy akan difilmkan, ada semacam perasaan senang bercampur risau. Senang karena akhirnya perfilman nasional berani menampilkan romantisme berbalut religi yang akan menambah warna poster-poster film di bioskop yang selama ini didominasi oleh film horor, komedi konyol dan drama remaja yang gak penting. Kemudian, risau karena griya film yang membuatnya adalah MD Entertainment.

Lho? Iya, sebab jujur saja saya tidak suka dengan produk sinema elektronik yang diproduksi PH yang merupakan klan Punjabi ini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa PH ini kerap menayangkan produk yang jauh dari manfaat dan cenderung melecehkan moralitas dan logika. PH ini juga jelas-jelas diperbudak rating dengan menempatkan seluruh sinetronnya dalam format striping yang akhirnya membuat ibu-ibu atau remaja putri terjerumus untuk selalu setia di depan televisi setiap harinya. Saya adalah salah satu korbannya. Setiap lepas maghrib hingga jelang tengah malam, TV di rumah dikuasai oleh ibu dan kakak-kakak saya. Sehingga kumpulan channel asing yang lebih bermutu yang ingin saya tonton (kebetulan saya berlangganan Astro TV) tidak berdaya di jam-jam ini.

Untungnya, MD menjaga amanah Kang Abik (panggilan penulis novel AAC) yang berharap film AAC yang dibuat lebih bagus dari novelnya, seperti yang tertuang dalam ucapan terima kasih di halaman belakang novel yang telah berkali-kali dicetak ulang ini. Saya sangat beruntung sekali mendapatkan kesempatan pertama—dapat undangan dari seorang teman—untuk menyaksikan film tersebut di kantor MD sebelum rilis di bioskop. Tapi apa memang betul filmnya lebih bagus daripada novelnya?

Sebenarnya sih bisa dibilang film ini lumayan mencerminkan isi novelnya. Jika awalnya saya mencurigai peran Fahri akan ‘dirusak’ oleh cast yang asal-asalan, ternyata tidak begitu kenyataannya. Ferdi Nuril ternyata cukup cocok memerankan Fahri yang notabene berkarakter tiada cela. Ferdi rupanya berhasil melakukan lompatan besar dalam akting ketika memerankan tokoh ini, mengingat peran-peran dia di beberapa film dan sinetron tergolong chessy. Begitupun dengan Riyanti Cartwright yang memerankan tokoh Aisyah. Lewat perannya itu, VJ MTV ini sanggup melepaskan streotipnya sebagai akrtis yang memerankan cewek gaul.

Dari segi cerita memang setiap durasi kita seolah membuka lembar demi lembar halaman novelnya. Namun sayang, Hanung, sang sutradara kurang mengekploitasi kehidupan masyarakat Mesir dan keindahan pemandangannya, seperti yang tergambar dalam novel. Saya tidak menyangka, flat yang ditinggali oleh Fahri dan keluarga Maria berada divisualkan dalam lingkungan yang kumuh dan gelap. Begitu pun dengan suasana lingkungan masyarakat Mesir yang tidak lebih dari sebuah suasana di dalam studio film. Dalam hal ini, bisa dibilang novel AAC lebih imajinatif dibandingkan filmnya. Kondisi yang sama juga pernah ditemui ketika novel The Da Vinci Code dibuatkan versi layar lebarnya. Memang sih, dalam urusan memindahkan sudut pandang penulis ke dalam film akan menjadi sebuah hal yang subjektif. Karena belum tentu si pembuat film memiliki isi otak yang sama dengan si pembuat novelnya. Jadi, masalah properti dan teknis artistik seperti ini bisa dimaafkan.

Jika di novelnya kita merasa hangat dengan keramahan Tuan Boutros dan Yousef yang merupakan ayah dan adik Maria, jangan harap kedua tokoh ini akan tampil di dalam film. Begitu pun juga seorang professor dan rekan-rekan sesama tahanan di dalam sel ketika Fahri ditangkap atas tuduhan perkosaan. Sulit rasanya menerima bahwa tokoh-tokoh penting seperti ini ditiadakan di dalam film. Dengan adanya pemangkasan tokoh tentu saja berimbas pada pemangkasan cerita. Misalnya saja undangan makan malam keluarga Maria ke sebuah restoran mewah, peristiwa sakitnya Fahri akibat kelelahan, hingga cerita penting seperti pencarian orangtua kandung Noura hanya terwakili dalam plot-plot yang singkat.

Hal yang saja juga dialami kisah pertemuan antara Aisyah dan Fahri di dalam sebuah kereta kurang tergarap secara detil. Sehingga bagi yang belum membaca novelnya mungkin akan bertanya-tanya, kenapa begitu mudah Aisyah dan Fahri berjodoh dan menikah. Karena memang chemistry keduanya kurang tergarap maksimal. Yang mengecewakan, tokoh Alicia, reporter kebangsaan Amerika yang tertarik dengan Islam juga dibiarkan menghilang begitu saja dan tampil tanpa durasi yang berarti. Padahal, di akhir cerita seharusnya ditampilkan Alicia yang memakai jilbab karena telah memeluk agama Islam.

Meski memiliki kekurangan di sana-sini, dari keseluruhan cerita, film ini cukup konsisten menjaga keorisinalan isi novelnya. Sedikit kreativitas pembuat film ini juga patut diacungi jempol. Tokoh Aisyah yang pada novelnya digambarkan cerdas dan penyabar, di dalam film ini malah cenderung sinis dan pencemburu. Karakter inilah yang membuat konflik dirinya dengan Fahri—yang dicintai banyak perempuan—menjadi semakin asyik untuk ditonton. Begitu pun dengan flash-back perjumpaan Fahri dengan Maria yang dibuat sangat romantis namun tetap dalam pakem novel.

Mungkin poin yang tidak dijumpai dalam novel di film ini adalah kehidupan rumah tangga poligamis antara Fahri, Aisya, dan Maria yang digambarkan cukup jenaka dengan porsi yang lumayan berisi. Melihat adegan ini saya jadi teringat dengan film seri Big Love yang tayang di HBO, dimana seorang pengusaha memiliki tiga orang istri yang saling cemburu dan bersaing merebut perhatian sang suami.

Menonton film ini secara keseluruhan kita akan disajikan kesegaran cerita yang cukup membuat hati pilu pada akhirnya. Jika dibandingkan dengan versi novelnya, film AAC memang bukan apa-apa. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan beberapa film lokal yang sedang beredar di beberapa bioskop ibukota, tampaknya film ini jauh lebih baik karena menawarkan cerita dan setting yang lebih segar dari yang ada. Hingga saat rilisnya nanti di bioskop, saya pun berniat menontonnya kembali. Salut untuk MD entertainment, semoga sinetron-sinetronnya bisa seperti ini….

Ditulis dalam RevieW | Bertanda: , , | 14 Komentar »

Banjir Lagi, Banjir Lagi…

Ditulis oleh planetmiring di/pada Februari 11, 2008

  1.                       100_2564.jpg

Sungguh memalukan memang, jika Jakarta yang notabene disebut sebagai Kota Metropolitan masih mengalami bencana banjir. Ironisnya, bencana ini menjadi langganan tiap tahun setiap musim hujan melanda. Warga Jakarta juga seolah dipaksa untuk menerima bencana ini dengan lapang dada. Mengungsi, meratap, dan mengiba seolah sudah menjadi kebiasaan tahunan.

100_2597.jpg

Begitupun dengan lingkungan di rumah saya tinggal, tidak pernah luput dari ancaman banjir. Entahlah, setidaknya banjir sudah rutin datang dan pergi sekitar 20 tahun yang lalu : dari yang terendah hanya semata kaki di dalam rumah, hingga mencapai pinggang orang dewasa. Sepertinya berenang dalam banjir dan menggotong barang-barang untuk dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi sepertinya sudah menjadi olahraga khas banjir.

Mungkin bukan hanya saya dan keluarga, tetapi juga jutaan orang di tanah Jakarta. Mengingat potensi banjir sekarang ini sanggup merendam lebih dari 80 persen wilayah Jakarta. Yang lebih memalukan, Istana Negara pun sekarang tak luput dari banjir. Jika singgasana presiden yang letaknya sekitar 3 km dari tempat saya tinggal saja terendam hingga di atas mata kaki, gmana dengan rumah saya. Wah….

Janji-janji surga Gubernur baru yang ingin membenahi masalah ini pun juga saya rasa tinggal janji. Tapi memang tidak sepenuhnya Bang Kumis bersalah. Wong dia baru menjabat gubernur baru beberapa bulan kok. Gak mungkin kan mengatasi masalah yang udah mengakar ini dalam hitungan bulan. Yang patut disalahkan ya siapa lagi kalo bukan Si Babeh yang pernah menjabat sebelumnya.

Tapi masalah salah siapa ya mungkin tidak akan habisnya. Mengingat bangsa ini kehabisan stok pejabat yang gentle untuk mengakui kesalahannya. Kalo berkelit dari salah mah ya memang jagonya hehehe….

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , | Leave a Comment »