Planetmiring’s Weblog

Mohon Maaf Jika Blog Ini Tidak Membuat Anda Tambah Pintar dan Bijaksana

Arsip untuk Januari, 2008

Tahu-tempe Diganti Belalang dan Belatung?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 16, 2008

Hari sabtu (12/1), bisa jadi merupakan hari terakhir saya menyantap tempe sebagai penganan sehari-hari. Bagaimana tidak, makanan yang setidaknya tiga kali seminggu mampir ke perut saya, produksinya sementara dihentikan. Ini terkait dengan aksi mogok yang dijalani oleh produsen dan pedagang tahu dan tempe karena melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku utama. Ibu saya sendiri beberapa hari ini mengeluh karena susahnya mendapatkan kedua penganan tersebut di pasar-pasar.

Sangat masuk akal, jika mereka melakukan aksi mogok yang berlanjut pada aksi demonstrasi di Istana Presiden dan Gedung DPR (14/1). Mereka yang terdiri sekitar 7000 produsen dan pedagang Jabodetabek tumpah ruah menyuarakan derita mereka akibat melonjaknya harga kedelai yang mencapai 150 persen dalam setahun terakhir. Akibatnya, pada produsen tahu yang gulung tikar dan berimbas pada pedagang tahu-tempe yang kehilangan mata pencaharian. Sungguh sebuah babak gejolak ekonomi yang lebih ‘seru’ dengan fenomena melonjaknya harga BBM beberapa tahun lalu.

Memang sungguh tidak masuk diakal. Indonesia sebagai negara yang tanah yang kaya akan hasil buminya, mempunyai kedelai sebagai komoditi yang mahal. Katanya sih, jumlah hasil panen kedelai tidak sebanding dengan jumlah perminataan. Ah masa sih? Ironis! Sementara di berbagai mal dan pusat perbelanjaan lainnya restoran maupun kafe impor semakin menjamur, eh makanan pribumi kian tersudut. Tak hanya dari segi gengsi, tahu dan tempe pun ‘keok’ berproduksi.

Kalau dibiarkan begini terus, bagaimana kelangsungan stamina dan pertumbuhan raga rakyat kecil. Karena kedua makanan tersebut merupakan sumber gizi yang murah sekaligus nikmat. Meski tidak sebanding dengan regukan satu gelas susu, gizi tahu tempe setidaknya cukup memenuhi kebutuhan asupan protein bagi mereka yang tidak sanggup membeli susu, keju, ataupun telur yang harganya juga kian meroket.

Setelah minyak tanah, minyak goreng, menyusul tahu dan tempe, entah bagaimana nasib kalangan tak berpunya dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari. Mau bercocok tanam, lahan mereka tidak punya. Krisis minyak tanah mungkin bisa tergantikan dengan kayu bakar. Namun bagaimana dengan krisis tahu tempe? Setahu saya, tidak ada penganan murah dan bergizi yang senikmat tahu tempe. Masak sih kita harus menyantap belalang dan belatung sebagai makanan alternatif. Sungguh menyeramkan dan sangat primitif.

Duh, semoga saja kerinduan saya akan tahu tempe tidak berlangsung lama. Tidak kebayang, bagaimana sarapan dengan nasi uduk tanpa sepotong tempe goreng berbalut tepung terigu. Atau menikmati suasana santai di sore hari tanpa renyahnya tempe goreng dan lembutnya tahu isi. Wah…sungguh sebuah paradoks baru dalam dunia kuliner rakyat jelata.

 

 

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Pesan Makanan Campur Ludah dan Upil

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 11, 2008

Pembeli adalah raja. Tapi jangan jadikan perumpamaan itu sebagai dalil keanguhan kita ketika berperan sebagai pembeli atau konsumen suatu barang maupun jasa. Bisa-bisa selain dapat memudarkan keramahan si penjual dalam melayani kita, hal-hal diluar dugaan pun bisa terjadi.

Seorang teman yang bekerja di sebuah restoran cukup ternama pernah bercerita kepada saya bagaimana cara ‘membalas’ perilaku pembelinya yang cerewet. Katanya sih pembalasan yg dimaksud sudah menjadi ‘panduan’ para pelayan restoran. Ceritanya cukup seram lho…

Seram? Ya. Coba saja simak bagaimana teman saya menangani pembeli yang rewel. Biasanya, dia menambahkan ‘bumbu khusus’ ke makanan yang dipesan. Bumbu khusus yang dimaksud adalah air ludah hingga kotoran hidung alias upil. Karena kesal dengan pembeli, biasanya si pelayan diam-diam meludahi makanan yg dipesan. Agar tidak ketahuan, ludah itu biasanya dicampur dalam objek yg berbentuk cair. Misalnya, saus, sambal, atau kuah makanan.

Teman saya mengaku, karena antar pelayan memiliki rasa kompak dan solidaritas yang tinggi, mereka beramai-ramai meludahi makanan yg dipesan si pembeli rewel. Tapi kalo dirasa kurang kompak, biasanya makanan ‘dieksekusi’ secara diam-diam. Huwek cuih…

Kengerian saya semakin menjadi, ketika saya menonton acara ‘candid camera’ di sebuah televisi yang diambil dari kamera pemantau di beberapa tempat. Yang mengejutkan, ada kamera yang menangkap seorang pelayan kedai burger yang sedang asik mengelap jamban kotor dengan roti. Dia memperlakukan roti seolah-olah lap kotor. Kemudian roti tersebut ditumpuk ke daging burger yang sebelumnya di diolesi ke pantatnya. Sungguh menjijikan. Si pelayan tak sadar bahwa kelakuannya terekam oleh CCTV. Sehingga bisa ditebak,  dia langsung dipecat.

Wah, mendengar pengakuan teman saya dan acara tv tersebut, saya jadi takut-takut jika pengen makan ke restoran. Bukan karena saya seorang pembeli yang rewel, tetapi saya takut jika perilaku saya dalam memesan ada saatnya disalahartikan dan saya akan mendapat makanan dengan ‘bumbu khusus’. Untungnya saya termasuk pembeli yang ramah kepada orang yang melayani saya. Jadi, setidaknya kerisauan itu terbuang dengan sendirinya. Dengan cerita ‘mengerikan’ yang teman saya lakoni, setidaknya menjadi kontrol bagi diri saya agar jangan semena-mena terhadap pelayan restoran.

Di samping itu, saya membayangkan seorang teman kerja saya yang sangat bawel sekali kalo sedang memesan makanan. Permintaannya banyak dan terkadang selalu ada aja yang kurang. Kalo setiap pelayan restoran berakhlak seperti teman saya dan pelayan burger yang dipecat itu, kira-kira sudah berapa banyak ya ludah dan upil yang dimakan dia hehehehe….

 

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA, Uncategorized | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Friendsterist is not a blogger? (Anak Baru neh…)

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

Meskipun sejak lama Friendster (FS) memiliki fasilitas blog untuk para membernya, tetapi saja eksistensi social network paling populer ini tetap dipandang sebelah mata oleh beberapa komunitas social network lainnya. Sebut saja blogger, yang kian hari jumlah populasinya terus bertambah.

Sekitar 3 tahun lalu, saya memutuskan menjadi ‘warga negara’ FS karena adanya rasa penasaran saya terhadap beberapa materi obrolan teman yang menyelipkan fasilitas FS, seperti “Udah add gue belum?”, “Testi gue dibalas dong”, atau juga “Gue udah upload foto baru, nanti lo liat aja FS gue”.

Waktu itu, saya merasa sangat kecil sekali tidak mengetahui apa maksud obrolan mereka. Makanya saya mencoba cari-cari tahu mengenai FS tanpa bertanya kepada teman. Maklum, saya takut dibilang ketinggalan jaman.

Nah, saya baru tahu tampilan FS begitu seorang teman satu kantor log-in di samping computer yang saya gunakan. Diam-diam saya mulai mengunjungi FS dan menelaah lebih jauh ‘jeroan’ dan fiturnya. Akhirnya, jadilah friendster.com/chandrangehe sebagai domain saya di situs gaul ini.

Begitu saya berhadapan dengan computer yang memiliki jaringan internet, FS tidak pernah lepas dari daftar utama situs wajib yang saya kunjungi. Lewat FS selain selain mendapatkan teman-teman dan jaringan baru, beberapa teman lama pun akhirnya dapat bersua.

Sekarang, ditengah maraknya populasi manusia di dunia maya, popularitas FS mulai menuai tandingan. Sebut saja MySpace yang katanya berhasil membuat penghuni FS beralih karena fitur2nya lebih masa kini dan ‘dewasa’. Maklum, meski terbilang bukan pelopor situs gaul, FS dianggap ketinggalan jaman dan hanya diperuntukan bagi para narsis. Termasuk saya?

Nah, sekarang pun beberapa komunitas dunia maya yang terbentuk seolah sebagai antitesi dari FS. Sebuah saja komunitas blogger. Meskipun FS memiliki fasilitas blog, tetap saja beberapa blogger yang memiliki domain di luar FS enggan mengintip blog yang ada di FS.

Memang sejauh ini saya harus akui, kebanyakan orang bergabung di FS hanya terkonsentrasi kepada aktivitas ‘memperbanyak jumlah teman’, sementara beberapa fitur lainnya, seperti blog terabaikan. Contohnya, dari sekitar 200an teman saya yang ada di FS, hanya ada kurang dari 20 orang yang memanfaatkan blog. Nah, kebanyakan mereka malah memiliki jumlah ‘teman’ yang luar biasa banyak, bahkan ada yang memiliki sampai 5 account karena limit kuota jumlah teman.

Blog saya sendiri pun tampaknya kurang mendapatkan sambutan dari jumlah teman yang ada. Setiap posting, paling tidak lebih dari 5 orang yang memberi komentar atas blog yang saya. Entahlah, apa karena mereka para Friendsterist tidak peduli dengan blog saya atau memang karena blog saya tidak menarik dari sisi konten.

Kemudian, dicap sebagai situs para narsis, tampaknya menimbulkan sikap antipati terhadap FS. Sekarang saja beberapa kali saya melihat di kaca mobil, maupun body motor, ada stiker bertuliskan “Anti Friendster”. Beberapa teman pun, tampaknya setuju dengan ‘gerakan’ tersebut. Mereka menganggap FS sebagai tempat ajang basa-basi yang tidak bermutu.

Nah, sebagai orang yang kebetulan memiliki hobi menulis, saya terkadang posting blog yang ada di FS, meski tidak rutin. Segmentasi bahasa pun saya sesuaikan dengan image FS. Jadi bahasa yang terjabar tidak baku dan malah jauh dari kesan bahwa si pemiliknya ada seorang jurnalis.

Semakin saya mengenal eksistensi para blogger, semakin saya menyadari bahwa FS memang dianggap bukan bagian dari komunitas mereka. FS dianggap child’s play dan jauh dari kesan intelek.

Akhirnya, entah karena termakan anggapan buruk tentang FS, saya akhirnya memutuskan memigrasikan diri ke domain blogger yang sesungguhnya, seperti yang ada sekarang ini. Bukan karena apa, saya lakukan ini karena saya memang ini bersua dengan teman-teman saya yang kebetulan dari mereka adalah para blogger yang lebih peduli pada harfiah sebuah jurnal dibandingkan ‘memperbanyak teman’. Kebanyakan dari mereka memang tidak memiliki blog dengan domain FS. Maka demi membangun hubungan dengan mereka di dunia maya, sudah sepatutnya saya memiliki account blog di luar FS.

Jadi ini bisa jadi tulisan perdana saya di blogsphere yang ‘sesungguhnya’, setelah sekian lama berasyik diri dengan FS. Memang disini terdapat beberapa tulisan saya yang pernah saya posting di blog FS dan telah saya edit, biar terkesan bukan anak baru banget hehehe…

Tapi benarkah anggapan ‘Friendsterist is not a Blogger’ sebuah realita? Entahlah, meskipun seberapa jeleknya orang menganggap FS, tetapi setidaknya FS telah mempertemukan saya dengan orang-orang baru yang menyenangkan dan juga teman-teman lama yang sebelumnya tidak saya ketahui kemana rimbanya. Meskipun saya memiliki blog ini, tetapi saya enggan beralih dan menutup account FS saya. Karena bagaimana pun juga banyak yg bisa saya dapatkan dari situs gaul ini. 

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , | 2 Komentar »

Saya hanya seorang pecinta film horror, bukan Sado-Masochist

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

Benarkah suatu sifat seseorang terwakili dari film favoritnya? Saya yakin pasti banyak yg mengiyakan pertanyaan ini. Terkadang orang di sekitar kita masih memandang pecitraan diri seseorang terpancar dari apa kesukaannya. Kalo dari kajian ilmu psikologi, mungkin kesukaan seseorang terhadap warna tertentu dapat menggambarkan kepribadian seseorang. Tetapi kalo dari sisi film kesukaannya?

Saya adalah penggemar berat film-film horror. Bukan horror dalam arti sepanjang durasi saya dijejali ‘penampakan2’ gak penting, kayak film horror lokal yg kebanyakan menampilkan hantu dengan rambut rebonding dan mata yang besar, seperti film horror jepang. Saya menyukai film horror kategori gore, slasher, atau bisa dibilang film sadis dan penuh darah. Sejak dibangku SD saya udah akrab dengan film yg mempertontonkan mutilasi dan kanibalisme.

Efek dari kesukaan saya ini, banyak org yang menganggap saya terobsesi dengan sadisme. Bahkan gak sedikit yg menduga saya seorang sado-masochist. Contohnya, ketika saya mengirimkan SMS info Infaq kepada seorang teman, dia malah membalas “Beneran nih?”. Setelah saya balas “Iya”, dia kembali mengirim balasan yg cukup menggelitik saya, “Ya enggak yakin aja, secara sado mashocist kayak elo”.

Begitu pun ketika dunia perbioskopan dihebohkan film drama sedih macam “The Notebook”, saya mengiyakan ajakan seorang teman. Tau gak kalimat apa yang meluncur? “Chan, film ini bukan buat elo kali. Tar elo tidur lagi. Secara, gak ada yag mati dipotong-potong di film ini.” Gara2 anggapannya itu, saya (ngambek) gak jadi nonton film itu. Teman saya mengganggap saya gak tau resensi film yg pengen ditonton. Padahal, sebagai pecinta film, saya tentu gak sebodoh itu nonton film tanpa membaca dulu resensinya. Dan saya tau film itu sangat mengharubiru. Makanya saya pengen nonton, biar ada sensasi lain gitu. Saya kan juga manusia kali, pasti butuh sensasi ‘sedih’ hehehe…

Lucu lagi kalo saya nonton DVD di rumah. Begitu tau kalo saya nonton film gory, apalagi kalo menjelang tengah malam, nyokap sampe parno ngumpetin berbagai benda tajam di rumah. Katanya sih takut saya kesurupan. Waduh….

Emang sih, secara moral, menonton film model gini bagi beberapa orang cukup mengkhawatirkan. Banyak yg mengganggap film ini dapat memicu prilaku agresif seseorang. Tapi, saya gak sedungu itu kali. Saya cukup waras menganggap film2 horor yg saya tonton adalah hiburan semata, bukan insprasi saya untuk bertindak sadis. Apalagi saya adalah org yg anti kekerasan, jadi kayaknya sesadis apapun film yg saya tonton gak ada efeknya bagi kejiwaan saya. Kecuali rasa puas saya karena telah terhibur cerita yg menegangkan.

Mengutip dialog Roman, salah satu tokoh sutradara film horror dalam film “Scream 3″: “Apakah dengan saya berhenti membuat film horror, psikopat di jalanan akan pensiun?”, tentunya patut dijadikan cerminan bahwa bagaimanapun juga sadisme sudah menjadi bagian dari sisi gelap manusia. Tanpa menonton film gory pun, kalo memang secara kejiwaan orangnya emang sadis ya bakal sadis.

Memang sih, ada juga kasus kekerasan yg terinspirasi dari sebuah film. Tapi itu semua kembali kepada isi otak si penontonnya bukan? Lagian, modus saya jadi psikopat apan sih? Saya tinggal di keluarga besar sederhana yg bahagia dan humoris. Masa sih saya bisa sekalap Michael Myer di film “Halloween” yg tega membunuh keluarganya sendiri?

Trus mengenai anggapan Sado-Masochist, wah enggak banget. Setau saya, org yang memiliki perilaku ini cenderung menganalogikan sebuah rasa sakit sebagai rangsangan seksual. Kalo saya, dicubit aja kesakitan, gak horni. Buktinya waktu jahitan usus buntu saya dibuka, saya menjerit “Aduh!’ bukan “Oh yeeesss. Jadi saya bukan sado-mashocist dunk.

Sebagaimana pun film yg saya tonton itu cuma sebuah sensasi hiburan belaka, bukan mempengaruhi kejiwaan saya. Memang banyak yg menginspirasi saya, tetapi itu hanya untuk hal-hal yg positif. Misalnya, gimana caranya survive dari terror seorang psikopat. Percaya apa engga, saya pernah menerapkan apa yg saya tonton ketika menghindari daya pikat seorang teman yg mempunyai gejalan psikopat.

–That’s entertainment (Morrissey)

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , | 1 Komentar »

Manusia adalah pendosa tulen…

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

Membaca judul blog ini, kemungkinan org akan beranggapan kalo saya mengutip dari textbook kajian agama atau sekedar aksi sok religius. Tapi saya sendiri mengkondisikan posting ini sebagai pengakuan atas iman saya yg kelak dipertanyakan. Jujur aja, betapa pun banyak maha karya Allah sebagai Tuhan Yang Esa di muka bumi ini, ternyata belum juga membuat saya melek atas kebesaran-Nya. Melewati beberapa Ramadhan, kondisi iman saya pun sepertinya gak bergeser dari status quo sebagai pendosa. Ramadhan yang terakhir pun, walau ibadah puasa saya gak jeblok, tampaknya banyak yg terlewatkan. Saya merasa masih jauh dari sempurna. Di antaranya ada hal-hal yg kurang baik tapi masih saya jalanin hingga sekarang…

Nah, jelang bulan Syawal ini, saya dikejutkan oleh berita meninggalnya seorang teman. Saya rasa, kisah ini menyadarkan saya supaya jgn puas dgn iman yg saya punya sekarang. Saya memang gak sempat melayat hingga prosesi perkuburan Alm karena tenggat kerja yg gila-gilaan. Tapi cerita dari seorang teman yg melayat, terkuak sebuah kuasa Allah.

Harus diakui, Alm memang sangat dekat dgn mabok-judi. Kalo sedang kumat, jangankan orangtua, Al-Qur’an pun menurut beberapa saksi pernah dirusak dan dilempar. Maaf, saya bukan bermaksud membongkar aib Alm, tapi tak ada salahnya kisah ini dijadikan cerminan hidup. Seperti di sinetron religius yang sekarang sudah mulai ngaco, sepanjang perjalanan mobil jenazah yg membawa jasad Alm selalu dihadang rintangan. Setiap tikungan pasti ada saja masalah, seperti ban bocor, nabrak gerobak bakso, hingga mesin yg tiba-tiba mati. Akhirnya jenasah dipindah ke mobil lain yg toh nasibnya sama juga. Terbilang 4 mobil yang mengalami hal ini.

Di sisa perjalanan jenasah terpaksa diangkut pakai gerobak tukang loak yg kebetulan lewat. Begitu sampai di gerbang pemakaman, cuaca yg sebelumnya cerah terang benderang mendadak gelap-gulita. Jenasah disambut hujan deras dan petir yg menggelegar. Dalam kondisi hujan deras, prosesi pemakaman tetap dilanjutkan, bahkan jenasah dikubur di lubang kubur yang sudah banjir. Herannya begitu jenasah berhasil dikubur dan dibacakan doa, cuaca langsung terang benderang. Tapi di dalam kubur Alm terdengar suara seperti batu dipukul-pukul. Beberapa pelayat termasuk teman saya menangis ketakutan menyaksikan peristiwa gaib ini. Bahkan kedua ortu Alm pingsan di tempat.

Saya akui, saya cukup menyesal tidak datang melayat. Bukan karena tidak kebagian menyaksikan ‘adegan aneh’ tersebut. Tapi alangkah baiknya jika saya mengantar jenasah org yg setidaknya pernah saya kenal. Meski saya ditawari video rekaman prosesi pemakaman yang mengerikan itu yang kebetulan sempat diabadikan oleh salah satu famili Alm, tapi saya gak tega. Cukuplah bagi saya kisah tersebut sebagai teguran atas apa yg telah saya jalani selama ini. Salah satu fakta mengerikan tentang pembalasan menjelang ajal, pernah saya saksikan ketika membacakan surat yasin untuk preman yg sedang sekarat. Dari tatapannya, tampak jelas sekali rasa takut yg amat sangat. Dia yang skrg telah meninggal beberapa tahun silam tampak tergetar dari ujung kaki-hingga kepala. Entah apa yang ditakutkan, tapi saya yakin begitulah ekspresi setiap manusia ketika menyaksikan ajalnya. Setelah hampir seharian mengalami sekarat, barulah Alm menghembuskan nafas terakhir.

Dari apa yg dialami, banyak yg berpendapat hal tersebut adalah derita yg tidak menyenangkan. Mengenai sakratul maut, setiap org pasti mati. Ini sudah qodratnya org yg pernah hidup. Dan kematian itu sangat menyakitkan. Bahkan, sesempurnanya iman Nabi Muhammad SAW, beliau ketika ajal menjemput sampai menangis kesakitan dan sempat memohon kepada Allah agar umat-Nya tidak mengalami derita yang sama. Lalu bagaimana dgn saya yg imannya pas2an? Subhannallah…

Jujur aja, saya bukan org yg gila mabok-judi (gak pernah malahan). Sebagai manusia saya gak luput dari dosa. Saya terkadang merasa sholat atau ibadah yg saya dirikan kurang handal menangkal perilaku iseng saya yg terkadang menyakiti orang lain. Di samping, sholat saya kurang kusyuk, ditambah suka ngulur2 waktu, dan bolong2 lagi.

Coba kita cermati, di dunia ini begitu gampang berbuat dosa, tapi tidak begitu sebaliknya. Gak heran, terkadang kala keinginan berbuat baik itu datang, kita dihadang oleh kemelut dalam diri sendiri maupun orang lain. Sementara kalo pengen maksiat, jalanan seolah lapang banget. Tak heran, setiap menit atau jam, bisa dibilang manusia adalah umat yg bergelimangan dosa. Terkecuali orang yang selalu berdzikir (percaya deh yg ini kian langka). Tapi, disinilah indahnya Islam. Disadari apa tidak, beruntunglah shalat 5 waktu menjadi salah satu rukun Islam. Betapa tidak, setiap hari sudah dipastikan kita berbuat salah dan dosa (naïf rasanya kalo ada yg bilang sehari gak melakukan dosa). Nah, fungsi sholat sangat efektif mencuci dosa kita. Ibaratnya, jika kita selalu bermain lumpur, maka badan akan tetap bersih karena kita mandi 5 kali sehari. Make sense, huh?

Dari ceramah yang pernah saya dengar, dosa setiap hari dapat dibersihkan lewat sholat 5 waktu; dosa sepanjang minggu akan diluluhkan lewat sholat jumat, dan dosa sepanjang tahun akan dirontokan dengan puasa ramadhan dan zakat. Jadi, sangat jelas sekali kalo sholat, puasa, dan zakat merupakan aktivitas pembersihan diri kita sebagai manusia yg tak pernah lepas dari dosa. Tapi sebenarnya Islam tidak mengenal ‘lembaga’ pencucian dosa. Kapan pun, sejauh orang itu memohon dgn sungguh2, penghapusan dosa bisa saja dilakukan dgn taubat nasuha. Jadi, tidak perlu menunggu momentum Ramadhan, sebenarnya dosa seseorang dapat terhapuskan dan diampuni, sejauh itu dilakukan dgn kesungguhan yg luar biasa. Tidakkah ini membuktikan bahwa Allah Maha Penyayang?

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Memetik Pelajaran dari Pleiboi Insyaf

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

 

Kenyataan bahwa jumlah cewek lebih banyak daripada jumlah cowo, seharusnya merupakan berkah yg disukuri. Karena sebagai cowo, kita berpeluang mendapatkan cewek yg sesuai pilihan. Tapi bagaimana dari kacamata seorang pleiboi? Waw, tentu persepsinya udah berbeda lagi.

Jumlah cewek yg lebih banyak dimaknai oleh cowok model gini sebagai ‘wahana’ kesenangan. Yup, kesenangan ‘coba sana, coba sini’. Gak heran, perilaku yg sering disebut ‘mata itilan’ ini mengesampingkan urusan emosi dalam menggaet cewek. Tapi, herannya mereka memiliki bakat yg lihai dalam menggaet korban. Berbeda sama cowok baik2 seperti saya (hehehe..promosi).

Saya punya teman, yg hampir saban minggu menggandeng dua cewek yg berbeda. Besok Mirna, dua hari lagi bisa Tuti, Ajeng, Meri, begitu seterusnya. Awalnya sih Cuma hobi ‘koleksi’. Tapi lama-kelamaan, ‘setan’ lebih berperan. Doi pengen lebih dari sekedar jalan-jalan, telpon2an, atau nonton. Urusan ‘tukeran keringat’ sepertinya udah jadi prioritas pertama dalam beraksi. Makanya, kesamaan dari setiap cewek yg digaet adalah kulit putih, rambut sebahu, tinggi, pantat dan dada mencuat, dan tentunya parasnya cantik. Menurutnya, cewek seperti ini lebih asik buat eksperimen. Herannya, doi menilai mereka lebih gampang dikasih ‘umpan’. Beda dengan cewek2 bertampang standar. Masa sih?

Saya kalo inget cerita2 joroknya tentang gimana petualangan doi, mungkin gak jauh beda sama ngintip situs porno. Berbagai ‘arena’ bercinta udah doi coba : kolam renang, taman yg sepi, bioskop, kamar hotel, dapur, pinggir jalan tol, rumah sakit, kamar kos, mobil, motor (?), sampai sepanjang lorong yg gelap (kayak lagunya Koes Plus gitu deh). Mungkin kalo bisa saya catat semua kisahnya, lumayan tuh buat posting ke blog http://.blog.17tahun.com (kayaknya sih udah ditutup dah), yang banyak memuat cerita porno hahaha….

Nah, petualangan2 itu tampaknya membuat dia lupa, kemana hubungan iseng-iseng itu semestinya berasas. Baru setelah beberapa tahun kemudian, setelah menginjak usia 30 tahun; mendapat desakan bahkan tekanan untuk segera menikah dari orang tua; dan juga udah bosen sama ‘begituan’, barulah doi sadar cinta sejati itu sulit didapatkan. Ah, yang bener? Bukannya dgn tampang yg memungkinkan doi jadi model bungkus Abon Cap Ratu ini, dia gampang dapat cinta sejati. “Gampang memang, tapi buat yg benar-benar tepat itu susah banget,” ungkapnya belum lama ini.

Tepat katanya? Apan tuh? Menurutnya, cewek2 yg udah jadi standar bakunya buat ‘dimangsa’, ternyata bukan cewek yg tepat buat dijadiin istri. “Buat having fun bisa, tapi kalo jadi istri yg baik, gue rasa mereka gak bisa,” sambung doi yg kini memang tampak tua dan gendut (sori ya, Dan). Sementara buat cari cewek ‘biasa’, dia udah kepalang malu ngedeketinnya. “Gue gak biasa rayu cewek2 standar.” Nah lho? Sebenarnya mau apa sih lo, Nyet?

Kayaknya cerita tentang kesulitan dia saya habisin sampe disini dulu dah. Daripada nanti saya disambit pake ban mobil sama tuh orang. Tapi, dari pengalaman dan‘keberuntungan’ dia selama ini, saya bisa mengambil sedikit pelajaran (cuma sedikit lho…). Salah satunya, untuk urusan cinta, tampang itu gak penting yg penting kepribadian (bukan mobil pribadi, dan selainnya).

Saya pernah punya pengalaman di waktu sekolah dulu, suka sama cewek yg bener2 memenuhi standar saya : simple, asik buat diajak ngobrol, sederhana (eh, ini mah sama artinya dgn simple kan?), gila bercanda, dan bukan make-up freak. Sayangnya, dia jadi bahan2 olokan sama teman2 sepermainan saya. She’s such a nerd, begitu temen2 saya bilang. Yah, gak jadi deh saya pacarin dia. Daripada ikutan diolok2 sama temen2 saya, begitu pikir saya. ‘Kebodohan’ saya ini tentu bukan tanpa konsekuensi, saya jadi gak nyaman ada di sekolah. Maklum, rasanya tersiksa banget kalo belum nyatakan perasaan saya ke dia (masa skul memang indah). Apalagi dia selalu melintas di depan saya dgn segala pesonannya (aih…). ‘Penyiksaan’ ini toh akhirnya terus tertahan hingga saya akhirnya lulus skul. Kasih tak sampai dah…(saya denger sekarang doi udah merit, punya 2 anak dan tinggal di Bangkok).

Jadi, semestinya harus disadari saya gak lebih baik dari temen saya yg pleiboi itu, meski dalam bentuk yg berbeda. Cuma gara2 takut diolok2 sama temen, saya akhirnya membohongi perasaan saya. Mayan nyiksa tuh, ibaratnya 2 tahun nahan boker . Memang toh akhirnya saya bisa dapetin cewek yg secara tampang bisa dibilang ok’s banget. Tapi yg ada di otak saya ya tetap si cewek yg dianggap nerd itu. Istilahnya, saya tetap gak happy meskipun dapet cewek yg physicly lebih cantik dari doi. Kondisi ini mungkin sama dgn kondisi si pleiboi itu, yg kewalahan cari cinta sejati.

Saya rasa, sebenarnya temen saya itu punya perasaan sama seorang cewek (dalam arti benar-benar cinta). Sayangnya, karena selalu asik dgn standarnya sendiri yg gak nyata, maka jadilah doi tersiksa dgn gengsinya sebagai cowok keren yg kerap gandeng cewek2 aduhai. Kegemilangannya menggaet cewek memang patut diacungi jempol, tapi untuk urusan mendapat cinta sejati, tampaknya doi mesti belajar banyak dari saya (setuju gak?).

Saya memang sekarang bisa dibilang jomblo yg kronis—temen saya yg gila The Cure pasti mentertawakan kondisi galau saya—tapi ini bukan berarti saya sok pilih dan merasa sok nyaman dengan jadi single fighter. Berdua tetap lebih baik daripada sendirian kan? Tapi kalo untuk urusan mendapat cinta sejati…uhuy saya jarang banget salah sasaran. Makanya saya kagak stress kalo tiba-tiba diputusin sepihak oleh cewek gandengan saya. Bukan karena saya memanfaatkan kondisi jumlah cewek yg lebih banyak dari cowok itu, tapi saya merasa kalo memang gak sejalan dan jodoh ngapain ngotot. Ya biarkan saja dia pergi, toh cinta sejati pasti datang sendiri. Kok saya jadi sok filosofis gini ye? Duh, pasti gara2 makan donat seribuan neh.

Maksud saya, kalo kita berpikir terbuka dan mengaku selalu mengejar apa yg namanya cinta sejati, lo pasti gak jadi limbung jika diputus cewek. Biarin aja, toh cinta sejati itu kan membutuhkan kesepakatan dua kepala hati dan kelamin yg berbeda. Gak fair kalo kita maksa2 biar jangan diputusin, sementara si cewek ngotot banget minta putus. Kalo pun tetap jalan, pasti hubungan ini udah bukan cinta sejati, tetapi menciptakan neraka sendiri. Ini sama aja kita nyiksa pasangan kita.

Saya pernah tertegun mendapat quote dari sebuah film horor : lelaki yang baik diciptakan untuk perempuan yang baik juga (aneh kan film horor punya romantis kayak gini?). Tapi kayaknya hal ini yg mendorong saya untuk terus jadi cowok baik2 yg lengkap dgn kebrengsekannya hahaha…..Supaya apa? Ya…dapet cewek baek-baek lah. Masa dapet cewek kriminil. Eh, tapi kalo kriminil juga seru kali yee. Biar kayak romantisme-nya Bonny and Clyde, pasangan kriminil paling legendaris hahahahaha

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Benarkah Sabar Masih Bisa diandalkan jadi solusi?

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

“Orang sabar disayang Tuhan”. Sepertinya kata2 bijak ini merupakan salah satu petuah yang paling populer bagi seluruh umat manusia selain “Hemat Pangkal Kaya” atau “Kebersihan itu sebagian dari Iman”. Saya sebagai manusia tentu sangat percaya dan yakin kalo Yang Maha Kuasa itu gak bakal melupakan kaum yang sabar. Udah banyak cerita sampai ke telinga saya mengenai orang yang ‘dibesarkan’ dari rasa sabarnya. Setiap hari, entah di koran, radio, buku, atau tivi, dipublikasikan sedemikian rupa bagaimana kesabaran itu sebagai salah satu kunci sukses seseorang dalam mengarungi kehidupan. Sinetron kita yg terkenal ‘ngehe’ aja selalu menempatkan orang yg sabar sebagai objek hiburan yg menjual (bukan mendidik), dimana tokoh protagonisnya selalu bersabar sekalipun dianiaya sedemikian rupanya. Sehingga digambarkan, orang sabar itu melulu tertampil sebagai sosok yg tidak berdaya, lemah, dan cenderung penakut.

Menurut saya, udah saatnya orang sekarang ini — khususnya di Indonesia, dimana para pemimpinnya reinkarnasi dari iblis terjahat—mengkaji ulang apa itu sabar dan sampai dimana batasnya. Dalam menghadapi ujian Tuhan, sabar itu seharusnya merupakan reaksi pertama begitu kita mendapatkan cobaan bukan mendominasi sikap kita. Jadi, selain ‘dilapisi’ rasa sabar manusia harus bertindak dan mencari jawaban siapa yang paling dan patut disalahkan atas terjadinya cobaan tersebut yang tentunya bukan berarti kita harus menggugat Tuhan. Disamping jangan menyalahkan org yang tidak bersalah tentunya. Dengan begitu solusi pasti ditemukan. Misalnya, jika seorang anak yang menjadi yatim karena ayahnya telah dibunuh oleh orang yg dikenalnya, apakah dia harus bersabar dan berharap mata hati si pembunuh akan terbuka dan mengakui kesalahannya? Idealnya, si anak harus berupaya menggiring si pelaku ke meja peradilan, baik itu bekerja sama dengan polisi atau dengan tangan sendiri.

Sama halnya, jika seorang siswa tidak lulus ujian, apakah dengan bersabar cukup menggiringnya lulus di ujian mendatang? Sama sekali tidak. Dia akan lulus ujian kalo berupaya sebaik mungkin dengan persiapan dan ‘amunisi’ yang memadai di ujian selanjutnya. Jadi, sabar bukan berarti menyerah. Mungkin, jika jalan keluar yang diharapkan menjadi buntu, barulah kita menyerahkan atau bertawakal kepada Allah. Ini pun tidak berhenti untuk berusaha, berusaha, dan berusaha.

Sayangnya, kalo saya lihat2 sih kebanyakan masyarakat kita masih menempatkan rasa sabar sebagai solusi. Gak salah deh, kita selalu dibodohi pemerintah yang selalu menyuruh kita untuk bersabar ketika menghadapi kenaikan harga, peraturan yg hanya menyenangkan beberapa golongan, dan beberapa kebijakan ‘jahat’ lainnya. Masih ingat salah satu iklan layanan masyarakat yg cukup populer pasca kenaikan BBM beberapa waktu lalu? Ya, dimana salah satu kyai kondang berlogat sunda dan pelaku poligami ini ‘dipasang’ sebagai bintang iklan yang menyerukan masyarakat untuk sabar dan tawakal menghadapi kenaikan BBM yang diberlakukan pemerintah.

Ironis memang. Seharusnya, di iklan tersebut, si AA meminta pemerintah memperhatikan nasib rakyat kecil yg terkena imbas dari kenaikan BBM tersebut dan menolak BLT (Bantuan Langsung Tunai) sebagai subsidi bagi mereka karena udah dipastikan bakal tidak tepat sasaran dan rentan dengan kecurangan, bukan malah nyuruh2 orang untuk bersabar. Intinya, kenaikan BBM harus ditolak. Dus, benar saja kan. Gak lama setelah iklan itu beredar, masyarakat garis keras menanggapinya dengan dingin dan mengganggap si AA itu tidak mewakili suara umat. Tapi lagi-lagi, si AA malah tetap bersiteguh bahwa di kondisi sekarang masyarakat kita harus bersabar. Entah ke arah mana konotasi sabar yang dilontakan AA, yang jelas ini sama saja pembodohan.

Nah, begitu pun peristiwa yang baru2 ini menimpa saudara2 kita yang tengah menjalankan ibadah haji, dimana mereka dilanda kelaparan karena pasokan makanan tidak sampai kepada mereka hingga berhari-hari. Lagi-lagi, kesabaran adalah sesuatu yang diminta kepada pemerintah oleh mereka. Kedatangan Menteri Agama sama sekali tidak membantu karena cuma ‘membujuk’ mereka untuk selalu bersabar terhadap ‘cobaan’ tersebut. Coba, dipikir2, apakah kita harus bersabar terus, sementara kinerja pelayanan haji bangsa ini terkenal sangat amburadul dan tidak pernah belajar dari kejelekan pelayanan haji pada sebelumnya? Jadi, kita selama ini dibodohi untuk selalu bersabar, sementara mereka para pembuat kebijakan tidak melakukan perbaikan dan pembenahan. Sama halnya ketika beberapa ‘pahlawan devisa’ mengutarakan unek2nya kepada lembaga terkait mengenai beberapa pungli dan intimidasi yg dihadapi mulai dari keberangkatan hingga sampai lagi ke tanah air, cuma wejangan ‘harap sabar’ yang diperoleh mereka. Pemerintah sepertinya sangat lihai mempropagandakan rasa sabar sebagai solusi terhadap mereka kaum kecil yang terbiasa hidup apa adanya dan selalu menerima cobaan ini.

Yang tergres adalah mengenai banjir. Saya paling gedek dah sama pendapat beberapa orang yang menganggap banjir adalah siklus tahunan dan merupakan bencana yang wajar. Busyet deh, sabar apa bego ya masyarakat kita ini? Dikasih bencana kok mahfum sih? Mustinya, kita harus menggugat pemerintah terkait penanganan banjir yang gak pernah beres meskipun beberapa rezim telah berganti. Gobloknya, pemerintah kita kalo udah kejadian, baru deh ribut2 cari solusi. Nah, memangnya pas musim kemarau pada kemana aja? Molor apa sibuk latah bikin video porno buat disebar? Saya mah gak rela kalo musibah banjir dianggap kewajaran. Mungkin mereka para pembuat kebijakan gak ngerti rasanya gmana mengungsi dan berhari-hari terendam banjir. Sementara saya, rakyat kecil, sangat menderita dengan adanya bencana tersebut. Hal ini tentunya dirasakan oleh kebanyakan masyarakat kita yan jadi korban.

Dengan adanya kenyataan tersebut, sepertinya bangsa ini harus melenyapkan stigma sabar sebagai solusi. Karena sekarang ini sabar tidak sekedar disayang Tuhan, tetapi juga ‘disayang’ pemerintah. Ibaratnya, bangsa yg sabar bakal dijajah pemimpinnya sendiri. Masih mau terus bersabar? No way! Mari satukan kepalan gugat pemerintah agar melakukan perbaikan2! Karena gaji mereka berasal dari pajak yang kita bayar!!!

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

Jangan Main Api, Kalo Gak Pengen dibacok!

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

Dua minggu lalu, begitu sampai di Jakarta, setelah peliputan luar daerah, saya mendapatkan SMS yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan buat saya. Isinya : “Dra, gue sekarang lagi di rumah sakit, ruang operasi. Gue disamurai ma cowoknya Tria. Gw kepergok.”

Nah, karena saya gak terlalu kaget dengan isi SMS di atas –cepat atau lambat memang kejadiannya akan seperti ini. Jadi, dengan seperlunya saya membalas : “Wah, tapi parah ga? Gak apa2 kan lo?”, sambil berharap supaya dia tidak meminta saya untuk segera membesuknya ke rumah sakit. Bukan karena saya gak setia kawan –sebaiknya pendapat ini disampingkan dulu sebelum saya menulis cerita ini lebih lanjut. Cuma saja, waktu itu badan saya capek banget, gara2 perjalanan yang cukup panjang : dari Sinjai ke Bandara Hasanudin, Makasar = 4 jam, nunggu take off pesawat 1 jam, transit di Surabaya nunggu lagi sekitar 30 menit, trus dari Bandara Soekarno Hatta ke rumah saya 2 jam. Jadi bisa dibayangkan betapa malangnya nasib daging pantat saya menahan beban separuh dari berat badan saya selama perjalanan tersebut. Lagian, karena udah malam, saya akhirnya memutuskan buat besuk teman saya itu besok siang, dengan prakiraan badan saya fit dan dia juga ada waktu buat istirahat.

“24 jahitan coy,” begitu ujar temen saya mengenai luka bacoknya di bagian bahu. Sebagai korban dari tindak kekerasan dan mungkin percobaan pembunuhan, dia enggak melaporkan diri ke polisi atau apalah aparat penegak hukum yang ada disini. Memang sih, semestinya tidak. Toh, itu merupakan buah dari kebodohannya sendiri. Kalo dia memang meresapi pepatah “jangan main api kalo tidak ingin terbakar”, kejadi seperti itu udah pasti gak bakalan terjadi. “Gue kalo lapor, bisa malu sama keluarga. Makanya, gue bilang aja dibacok sama orang yang gak dikenal,” ujarnya memberi alasan. Wah…

Sekilas tentang temen saya itu : mahasiswa abadi yang berusaha mencari pekerjaan tetap, tampang ya sekelas playboy-lah dengan materi (bapaknya) yang melimpah. Tetapi meskipun begitu, kebodohannya yang kerap dilakoni mantan atlit polo air itu menginspirasikan saya untuk selalu koreksi diri : jangan deket penyakit kalo gak mau sakit. Tak heran, dia masuk ke dalam daftar deretan teman saya, karena teman2 saya adalah orang yang menginspirasikan saya, gak peduli itu baru kenal sekalipun atau seberengsek apa pun dia. Namanya manusia pasti ada sisi baik dan sisi jahatnya.

Ceritanya, teman saya itu tergila2 sama cewek bernama Tria. Asal tahu aja, “tergila-gila” yang saya maksud adalah napsu biologis yang berorientasi mengacaukan rumah tangga orang. Yup, karena cewek yang digilainya itu udah punya suami. Tapi, kondisi itu gak mengurangi niat jelek teman saya itu. Di otaknya, “perempuan yang bersuami adalah pacar yang paling menyenangkan, karena kita bisa mendapatkan ‘jatah’ yang sama dengan suaminya.” Terdengar mesum? Bukan Cuma itu, tetapi sangat berbahaya mengingat suami dari cewek yang ditaksirnya itu adalah timer angkot di Kalideres. Bisa dibayangkan kan, tampang timer –preman terminal—kayak gimana? Saya juga enggak ngerti kenapa cewek secantik dan terpelajar seperti Tria bisa menjatuhkan pilihan hidupnya kepada cowok yang menjadi suaminya sekarang. Namanya cinta mau gmana lagi? Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan bukan. “Penis suaminya 17 inci kali,” seloroh teman saya yang gak terima kenyataan tersebut bahwa suaminya Tria punya kelebihan. “Tapi punya gue 2 inci lebih panjang dari dia,” tambahnya lagi. Uh, dasar mesum.

Entah karena penisnya yang memang 2 inci lebih panjang dari suaminya Tria apa enggak, yang jelas, mungkin modal tampang yang unggul merupakan modal bagi temen saya buat menggoda bini orang. Bisa ditebak, dengan rayuan maut plus tampang keren plus duit kenceng, udah pasti Tria lama2 berpikir, “Wah boleh juga nih”, tanpa disadari resikonya. Tanpa saya tau seberapa jauh hubungan terlarang di antara keduanya, yang jelas, temen saya itu jadi susah saya hubungi. Sama halnya kalo saya susah dihubungi oleh teman saya. Bedanya, saya berkelit pada urusan kerja, sedangkan temen saya lebih kepada “saya lagi sibuk” tanpa penjelasan apa-apa.

Hingga peristiwa buruk menimpanya, saya sebenarnya udah capek nasehatin dia. Sebagai temen, rasa2nya sariawan saya lebih diakibatkan kepada nasihatin dia dibandingin kurang vitamin c atau panas dalam. Saya udah pernah bilang : carilah cewek jomblo yang siap dipacarin di ibukota. Tapi dengan filosofi ngawur, dia malah bilang cewek bersuami itu lebih sedap dibandingkan cewek single. Entah apa maksud “sedap” yang pasti urusannya udah gawat. Apalagi ada tambahan : “selain jago mengulek sambel, para ibu muda itu pasti suka diulek. Apalagi kalo diulek dengan cobek yang berbeda dari yang ada di rumah”. Coba aja diterjemahkan arti filosofi itu….

“Kapok deh gue,” begitu kata yang keluar dari mulut teman saya mengenai peristiwa yang mengerikan itu. Saya bersyukur akhirnya temen saya menyadari kesalahannya. Tapi rupanya saya harus menarik ucapan syukur saya tersebut. Karena gak lama setelah jahitan luka dibuka, dia memberitahu saya sebuah berita “gembira”. “Gue lagi pedekate sama salah satu suster disini. Orangnya cakep banget. Gue suka sama dia.” Tetapi sama seperti Tria, ternyata suster itu udah bersuami. Duh, dasar sableng lo!!

Ditulis dalam NgaLoR-NgiDoeL | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Irex Made in Sinjai

Ditulis oleh planetmiring di/pada Januari 4, 2008

Selain kekayaan alam yang melimpah—sebuah tipikal daerah di negeri ini—Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan memiliki banyak makanan khas. Selama peliputan e-government disana, selain sempat menyicipi sop konro, ikan bakar cakalang, dan ikan kerapu goreng, saya sangat dikejutkan dengan minuman khas daerah tersebut. Saya pikir daerah ini hanya dikenal dengan minuman sari buah markisanya aja, ternyata pada masyarakat setempat, ada minuman “ajaib” yang dipercaya dapat meningkatkan stamina dan vitalitas.

Minuman yang asik disajikan dalam keadaan dingin ini bernama Irex. Awalnya, saya sempet gak ngeh ketika ditawari oleh aparat disana untuk mencicipi minuman tersebut. Saya pikir, Irex yang dimaksud adalah produk obat kuat keluaran salah satu farmasi ternama, ternyata Irex ini merupakan campuran ragi singkong, dengan telur, madu, dan beberapa bahan yang dirahasiakan. Mengenai khasiat, jangan salah, minuman seharga 5000 perak per botol ukuran aqua sedang ini dipercaya dapat menambah kekuatan dan sangat dibutuhkan bagi mereka yang membutuhkan banyak tenaga dalam bekerja. Malah, Irex made in Sinjai ini dipercaya ‘greng’ buat menambah intim hubungan suami-istri. Pantas saja, namanya Irex. Saya pikir, sebaiknya, pengusaha yg memproduksi minuman ini sebisa mungkin mematenkan nama produknya. Karena jangan sampai bermasalah dengan Bintang Toejoeh yang notabene pemegang merek dagang atas produk Irex, meskipun produknya berbeda dengan Irex tradisional ini. Kabarnya sih, minuman ini bakalan menjadi minuman khas daerah tersebut. Mungkin yg penting sekarang image dulu kali.

Saya awalnya sempat ragu dengan khasiat minuman local tersebut. Tapi begitu menjelang tidur, saya baru bisa terlelap di atas jam 3 pagi. Itu juga mesti pake acara “ngitung domba” dulu. Busyet deh. Ini mah sama aja saya nenggak satu liter kopi pahit. Memang dasyat tuh minuman. Sayangnya, saya belum sempat bereksperimen sejauh mana manfaat minuman itu untuk hubungan suami-istri. Maklum, saya kan jomblo. Jadi mending saya singkirin deh jauh2 rencana eksperimen itu.

Nah, begitu sampe di Jakarta. Saya menceritakan tentang khasiat minuman tersebut kepada temen saya. Tertarik dengan cerita saya, dia pun coba-coba bereksperimen. Caranya, ragi singkong diganti dengan tape, trus diblender dengan telur, madu, dan jinten hitam. Kayaknya ini orang bener2 niat banget. Sebagai orang yg udah punya istri, beberapa hari kemudian dia bilang ke saya, bahwa khasiat Irex hasil kreasinya sendiri sangat berguna sekali. Terutama buat urusan “begituan”. Gak heran, setiap hari dia minum Irex bisa sampai 5 gelas. Katanya, dengan stamina yang tinggi, si istri tidak lagi mengeong, tetapi meraung. Halah….

TEtapi cerita sukses teman saya itu dalam aktivitas seksnya akhirnya menuai petaka. Belakangan ada kabar yang gak sedap, ternyata kebiasaan yang berlebihan (sex yg berlebihan?) itu berdampak pada tekanan darah. Menurut dokter yang memeriksa, tekanan darah tinggi udah sampai pada tahap gawat. Usut punya usut, ternyata minuman hasil kreasinya tersebut biang keladinya. Sebenarnya sih, jika diminum porsi normal, minuman tersebut kaya manfaat. Tapi kalo berlebihan ya gitu deh. Pepatah bijak mengatakan : apa2 yang berlebihan bakal membawa petaka. Ya itu dia, makanya jangan suka berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk menjaga kesehatan. Bisa kacau jadinya. Makanya kalo udah puas dengan menjadi kucing ngapain menjadi macan. Hahaha….

Ditulis dalam PaNdaNgan MaTa & RasA | Bertanda: , , | Leave a Comment »