Maklumat Habib Rizieq Syihab Tentang SKB Ahmadiyah

Dikirim Uncategorized pada Juni 18, 2008 oleh planetmiring

Siang tadi, sekelar mewawancarai salah satu narsum di gedung indosat, ada keramaian yg menyebabkan jalan menuju ke Harmoni atau sebaliknya macet tak terkira. Yang saya lihat, keramaian datangnya dari beberapa orang yg mengenakan pakaian muslim. Mereka adalah FPI (Front Pembela Islam?), Atena (Anak Tenabang) dan FBR. Pengerahan ratusan massa di depan istana pejabat eh negara ternyata merupakan aksi atas reaksi ketidakpuasan terhadap SKB Ahmadiyah yg dirilis pemerintah beberapa hari lalu.

Dari lokasi, saya mendapatkan selebaran yg berisi maklumat Habib Rizieq yg menentang SKB Ahmadiyah. Nah, berhubung saya masih punya sedikit waktu luang. Gak ada salahnya saya coba membagi isi dari selebaran tersebut sebagai berikut :

Didahului tulisan huruf Arab bismillahiromahmanirohim

Maklumat Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab “SKB Ahmadiyah adalah SKB Banci”, karena

1. SKB tersebut hnya SKB PERINGATAN

2. SKB tersebut MULTITAFSIR sehingga mengambang dan tidak jelas, baik terkait jenis kegiatan maupun  sanksinya.

3. SKB tersebut hanya tertuju kepada JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), padahal GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) SAMA SESATNYA.

4. SKB tersebut hanya untuk golongan bernama JAI, artinya jika ke depan JAI berganti nama lain maka tidak terkena SKB.

5. SKB tersebut justru menjadi legitimasi sekaligus LEGALISASI bagi eksistensi Ahmadiyah, karena tidak ada larangan terhadap keberadaannya.

6. SKB tersebut justru dengan licik menjadikan Ahmadiyah sebagai umat beragama yang harus dihormati dan tidak boleh diganggu, sebagaimana dipahami dari Diktum keempat SKB.

7. SKB tersebut justru secara terang-terangan mengancam umat Islam yang mengganggu Ahmadiah, sebagai tertera dalam Diktum kelima SKB.

Dari siaran radio yang baru saya dengar, tampaknya jumlah demonstran sudah mencapai ribuan orang dan memutus jalan arah ke thamrin, karena mereka berusaha menuju ke Polda Metro. Wah, mudah-mudahan tidak ada insiden berdarah. Mudah-mudahan pula aksi ini murni penolakan terhadap eksistensi Ahmadiyah, bukan pengalihan isu kenaikan BBM yang baru saja diberlakukan.

Jujur aja, meskipun saya tidak suka dengan keberadaan FPI, tapi demi aksi anti penistaan agama, saya tampaknya bisa kompromi dalam hal ini. Bagaimanapun aksi penolakan harus dijalankan, itu tetap tertib dan tanpa kekerasan. Ahmadiyah boleh eksis di negeri ini, tapi jangan gunakan embel-embel Islam.

Remake Film Horor Asia Versi Hollywood Lebih Baik?

Dikirim Uncategorized pada Juni 18, 2008 oleh planetmiring

Meski pernah sesumbar bahwa Hollywood gak bakal daur ulang (remake) film horror Asia lagi tahun ini akibat beberapa remake film horror Jepang-nya seperti Dark Water dan Pulse gagal secara komersil, toh akhirnya para sineas di sana menjilat ludahnya sendiri. Jika mengingat sukses The Grudge (Ju-On) dan The Ring, tampaknya mereka tergoda untuk remake beberapa horror Asia, dengan harapan bakal dulang sukses yang sama. Kali ini gak hanya horror Jepang yang di-remake. Mereka mulai melirik Thailand dan China yang belakangan ini memang berhasil membuat film-film horror yang menggebrak.

 

Tapi benarkah alih produksi film sineas Asia ke kreator Hollywood yang notabene lebih “hebat” dan “canggih” bakal menghasilkan sebuah karya yang lebih baik? Kalo dari sisi teknis gambar dan sinematografi memang sepertinya Hollywood berhasil membuat The Grudge dan The Ring lebih “ringan” dari orsinilnya yang memiliki cerita agak “ngawur” dengan kualitas gambar yang kadang-kadang buram dan tidak fokus.

 

 

Namun, jika membangun kengerian yang sama, tampaknya Hollywood keteteran dalam hal ini. Maklum, mereka terbiasa dengan genre horror yang plot-nya cepat. Itulah sebabnya di beberapa remake, mereka seolah memaksakan film horror itu harus memberikan ketegangan dari awal hingga akhir cerita. Padahal, kebiasaan di Asia, film horrornya lebih “alon-alon kelakon” alias diam-diam mengerikan. Seperti yang pernah diutarakan Rob Zombie (sutradara Devil Reject, House of 1000 corps, dan reboot Halloween), bahwa film horror Asia sensasinya sangat berbeda dengan horror negara barat. “Jika di awal tampang anteng-anteng saja, film horror Asia pada bagian akhirnya bakal membuat orang ketakutan setengah mati,” ujar Rob dalam sebuah interview di televisi.

 

Nah, aksi “jilat ludah” sineas Hollywood tahun ini diwakili lewat remake One Missed Call (Chakhusin Ari/Jepang), The Eye (Gin Gwai/Hongkong), dan Shutter (Thailand). Sayangnya, remake tersebut tidak membuatkan sensasi baru dengan taste Hollywood. Dari ketiga film itu terlihat jelas bahwa improvisasi yang dilakukan Hollywood tidak berhasil “mengelabui” penontonnya bahwa film yang dibuat hanya “copy-paste” versi orsinilnya. Yang paling kentara adalah film Shutter. Film yang masih berkibar di bioskop Jakarta ini bisa dibilang tak memberikan sesuatu yang baru, terkecuali karakter para tokohnya. Kalaupun ada sesuatu yang baru, malah menjelaskan bahwa film ini lebih buruk dari versi Thailand.

 

Lewat karakter tulisan yang malas saya perpanjang ini, saya memang enggan menjelaskan detil keburukan dari film remake tersebut. Jika ingin jelas, coba deh buru DVD Shutter versi Thailand dan segeralah nonton Shutter versi Hollywood. Kemudian, dengan berbondong-bondongnya penonton yang memenuhi ruang bioskop yang memutar film Shutter, saya yakin kebanyakan mereka hanya ingin membandingkan film tersebut dengan versi aslinya. Atau bisa juga mereka menonton dulu versi remake-nya kemudian segera datang ke toko penjual DVD untuk membeli versi aslinya dan langsung membandingkan. Hasilnya, two thumbs up buat sineas Thailand. Mereka berhasil mencundangi sineas Hollywood dengan film tersebut.

 

Nah, ribut-ribut soal ramainya Hollywood melakukan remake film horror Asia terutama Thailand yang bisa dibilang sebagai negara tetangga dekat, membuat saya iri luar biasa. Bagaimana tidak. Sukses remake Shutter membuat Thailand kian dikenal sebagai negara pembuat film horror berkualitas dari Asia Tenggara. Kalo Indonesia?

 

Jujur aja, negara kita memang didominasi produksi film horror. Tapi dari yang banyak itu cuma beberapa saja yang pantas dibilang bagus, meskipun kebanyakan juga belum pantas jika di-remake oleh Hollywood. Kebanyakan horror Indo lebih sekedar menampilkan penampakan hantu tapi malah mengesampingkan kualitas cerita. Lelah rasanya mata ini jika setiap saat dijejali penampakan hantu tapi ceritanya ngawur. Apalagi kalo hantunya ‘necis” dengan tampilan gaun putih bersih dan rambut lurus seperti di-rebounding (pasti keramasnya pake shampoo Rejoice hehehe…).

 

Padahal negara kita punya Suzanna yang dijuluki sebagai “Ratu Horror” yang saya rasa di negara mana pun belum memiliki sosok seperti dia. Jaman dulu pun, horror-horror lokal sanggup membuat saya ketakutan setengah mati hingga sekarang. Selain itu, negara kita memiliki banyak cerita rakyat yang penuh misteri. Sayangnya, film sekarang malah menghancurkan mitos-mitos tersebut lewat penggarapan yang asal-asalan.

 

Saya memang sudah terlanjur menggemari film horror western yang berdarah-darah, bukan film yang memfokuskan diri pada sosok hantu seperti horror Asia. Meski begitu saya tetap berharap kualitas film horror lokal semakin baik seiring membaiknya film-film lokal dengan genre lain. Bagaimanapun sebagai warga negara asli, akan bangga rasanya jika hasil karya bangsa diadaptasi oleh negara lain. Apalagi negara itu dikenal lebih “hebat” dan “canggih” seperti Amerika.

 

 

 

Replika Candi Borobudur Akan Dipamerkan di PRJ

Dikirim Uncategorized pada Mei 30, 2008 oleh planetmiring

Masih di seputar comeback-nya saya di dunia jurnalistik, selain pesona Miss Indonesia 2008, ternyata di sudut ruang utama acara ICT Expo 2008 juga terdapat sebuah pesona Indonesia yang lain. Kali ini bukan berwujud perempuan, melainkan sebuah replika Candi Borobudur. 

Terbuat dari komposisi kardus dan kayu pada permukaan bawahnya, replika salah satu keajaiban dunia ini memiliki kemiripan dengan Candi Borobudur dengan luas sekitar 40 meter dan tinggi 10 meter. Dibuatnya replika ini menurut suatu sumber yang saya tanya adalah sebagai suguhan bagi pengunjung Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) yang akan berlangsung pada bulan depan.

Nah, wujud replika yang berada di sudut ruang utama konferensi tentu saja sedikit menggangu ketentangan peserta. Bagaimana tidak, hampir setiap waktu lampu blitz kamera digital membahana di dalam ruangan karena ada beberapa orang yang memanfaatkan untuk berfoto ria di sekitar replika.

Saya yang awalnya sempat malu-malu pun akhirnya tergoda untuk melakukan hal yang sama. Ini dikarenakan meski hampir sering liputan bolak-balik ke Yogyakarta, saya tidak pernah memanfaatkan momen liputan untuk berkunjung ke Candi Borobudur karena terkejar deadline. Apalagi saya sebenarnya termasuk orang yang malas jalan-jalan.

Akhirnya, tadaaaaa….inilah foto-foto saya di depan replika tersebut. Bagi yang ingin melihat bagaimana kerennya replika Candi Borobudur ini harus bersabar dikit, karena PRJ akan dimulai beberapa hari lagi dari sekarang….

Miss Indonesia di ICT Expo 2008 : Kecantikan Yang Membunuh Rasa Kantuk

Dikirim ngalor-ngidul pada Mei 30, 2008 oleh planetmiring

Seminggu lalu (21-23 Mei 200 8) telah digelar acara ICT Expo 2008 yang merupakan rangkaian hajat rutin E-Indonesia Initiative (eII) yang dimotori oleh Suhono R. Supangkat, dosen ITB yang kini menjadi staf ahli menteri Depkominfo. Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini acara digelar di Jakarta Internasional Expo atau lebih dikenal dengan PRJ Kemayoran.

 

Sayangnya, saya melihat acara ini mengalami penurunan dari jumlah visitor maupun peserta. Ini terlihat selama berlangsungnya acara 3 hari berturut-turut yang meliputi pameran, seminar parallel, hingga konferensi nasional maupun internasional berlangsung sunyi-senyap dan tidak seperti gelaran pada tahun-tahun sebelumnya yang selalu ramai.

 

Desas-desus yang bertebaran, pemilihan PRJ sebagai venue dianggap penyebab kegagalan panitia mencapai target 15.000 pengunjung. Karena, meskipun masih berada berada di pusat kota, entah karena akses kendaraan umum yang sulit dan tempat yang dianggap ‘terpencil’, berbagai acara pameran yang digelar di PRJ—kecuali Jakarta Fair—sepertinya kurang mendapat sambutan. Lainnya, suasana ibukota yang kurang kondusif dengan maraknya demontrasi menolak kenaikan BBM membuat orang urung datang ke venue. Begitupun Presiden SBY yang memilih untuk gelar rapat koordinasi bersama para menteri terkait kebijakan non-populisnya menaikan harga BBM, daripada menyempatkan diri menghadiri opening ceremony acara ini.

 

‘Kegagalan’ sebenarnya sudah tercium pada saat pembukaan acara ini berlangsung. Saya masih melihat beberapa kursi terlihat kosong. Adapun keramaian di ruang utama hanya dikarenakan hadirnya beberapa almamater Depkominfo yang mendampingi Menkominfo Muhammad Nuh yang didapuk sebagai keynote speaker.

 

Di tengah rasa kantuk akibat atmosfer liputan pagi yang senyap tersebut, tiba-tiba mata saya ‘dikejutkan’ dengan seorang perempuan cantik berpakaian kebaya moderen yang anggun dan mengenakan mahkota di kepalanya. Dia ternyata Sandra Angelia, yang baru saja terpilih sebagai Miss Indonesia 2008. Jangan ditanya kenapa saya bisa tahu nama wanita cantik ini, karena saya juga bertanya kepada seorang teman yang duduk di samping saya.

 

Sudah tentu, kehadiran bidadari intelektual ini juga menjadi pusat perhatian seluruh orang yang berada di ruang utama tersebut. Bahkan, saya sangat yakin mereka semua merasakan sensasi yang juga saya rasakan yakni hilangnya rasa kantuk.

 

Menkominfo yang ternyata tidak menduga kehadiran Sandra, dalam sambutannya sempat bertanya, apa hubungan acara tersebut dengan Miss Indonesia. Namun beliau mengaku senang dan memuji kejutan pihak panitia ini. Menurutnya, sebuah kecantikan memang perlu ditampilkan dalam setiap acara yang berkaitan dengan TIK, agar tampilan acara terkesan menarik.

 

Saya sangat setuju sekali dengan pendapat Menkominfo. Bagaimanapun konsep sebuah acara dijalankan, tak lengkap rasanya tanpa kehadiran perempuan-perempuan cantik sebagai pembangkit mata dan semangat (bukan napsu lho hehehe…). Itulah sebabnya, di beberapa acara peluncuran produk, para wartawan selalu ‘disuguhi’ aksi para bidadari showbiz.

 

Nah, meskipun opening ceremony ICT Expo 2008 tidak jadi dihadiri Presiden SBY, saya rasa kehadiran Sandra sudah menjadi magnet tersendiri. Karena tak tahan ingin menikmati kecantikannya dari dekat, saya pun membujuk-bujuk teman untuk mewawancarinya. Alhasil, saya dan teman saya berbincang-bincang sedikit dengan perempuan yang sempat tinggal lama di Australia ini.

 

Dari perbincangan tersebut, Sandra mengaku dirinya bersama miss-miss yang lain, didapuk MNC (Media Nusantara Citra) untuk mengisi sebuah program pendidikan di Indovision. Di kesibukan terbarunya ini, dia akan menjadi guru bagi para balita dengan konsep e-homeschooling. “Saya mengajar pelajaran seperti membaca dan berhitung. Saya sangat beruntung sekali bisa melibatkan diri dalam acara ini,” ujarnya. Wah, betapa beruntungnya para balita itu hehehe…

 

Nah, demi memicu rasa iri pembaca posting blog ini, sengaja saya tampilkan foto saya bersama Sandra. Kalo dilihat dari nama Chandra dan Sandra, kira-kira jodoh gak ya? Hehehehe…

 

Ketika Privasi Menjadi Mahal di Tempat Bekerja

Dikirim Uncategorized pada Mei 3, 2008 oleh planetmiring

Masih berkaitan dengan pekerjaan saya, ternyata keputusan saya berhenti di perusahaan terakhir telah menyeret seorang rekan kerja saya ke dalam masalah besar. Pagi tadi saya menerima SMS yang kira-kira berisi : Chan, aku sebentar lagi bakal nyusul kamu. Tapi kali ini lain, aku siap2 dipecat gara2 chat kemaren. Semua di copy sama bos.

 

Membaca rangkaian teks itu tentu saja membuat saya terperanjat. Ternyata benar dugaan saya. Apa yang saya khawatirkan memang terjadi. Ceritanya begini. Ketika saya bersiap-siap mengutarakan niat saya resign, ternyata hati saya masih gundah. Bingung harus berkata apa karena saya berusaha resign secara baik-baik dan sulit mencari alasan yang baik dan tepat. Akhirnya, iseng-iseng saya chatting di YM dengan teman saya yang sama-sama membidani bagian kreatif.

 

Meskipun jarak saya dengan dia tergolong hanya beberapa langkah kaki saja, tetap saja saya tidak mau niat saya ini terdengar oleh salah satu orang kepercayaan bos yang kerap mondar-mandir di sekitar ruang kerja. Jadi saya pun asyik curhat dengan dia mengenai keputusan saya tersebut.

 

Akhirnya, setelah mendapatkan dorongan moril dari dia, saya pun memberanikan diri menghadap atasan untuk mengutarakan niat saya. Langsung saja loncat ke bagian setelah saya menghadap bos, saya langsung mengajak teman saya itu untuk sholat ashar di lantai bawah.

 

Apesnya, sebalik saya dari mushola, ternyata orang kepercayaan bos saya sudah berada di meja kerja saya. Sebenarnya sih saya tidak begitu khawatir dia duduk-duduk disana. Cuma saja yang membuat gundah, ternyata YM saya lupa sign out. Meski begitu saya tetap berpikiran positif. Tidak mungkin dia mengintip-intip YM saya. Karena etika di tempat kerja saya sebelumnya tidak membenarkan hal ini.

 

Ternyata saya salah. Menurut kabar teman yang lain, materi chatting saya di-save dan di-print untuk dilaporkan ke atasan. Ternyata privasi saya telah dilanggar oleh orang yang sebenarnya saya hormati disana. Apalagi materi privasi saya dijadikan dasar untuk mendepak orang yang tidak bersalah.

 

Jujur saja, seingat saya apa yang saya bicara lewat YM tidak menyinggung kebijakan perusahaan. Melainkan saya hanya curhat mengenai rencana resign saya. Kalau ini saja menjadi dasar kuat untuk mendepak seseorang, wah betapa naifnya. Mengingat orang yang didepak mempunyai kinerja yang baik dan penurut.

 

Sampai saya tuliskan posting ini, saya merasa sangat berdosa sekali kepada teman saya itu. Keteledoran saya menyeret dia dalam masalah besar karena karirnya sudah di ujung tanduk. Semoga saja kerisauan saya dan dia tidak terwujud. Karena bagaimanapun juga ‘kesalahan’ yang kami lakukan bukanlah hal yang besar. Apalagi privasi kami juga dilanggar. Ini namanya tidak sopan, sama halnya membaca-baca SMS di ponsel orang lain. Ternyata privasi itu memang mahal di beberapa perusahaan tertentu…

 

Senyum Seorang Jurnalis

Dikirim Uncategorized pada Mei 3, 2008 oleh planetmiring

Ada sebuah pertimbangan lain ketika saya memutuskan mengakhiri karir copywriter saya di sebuah agensi yang baru saya rintis satu bulan ini dan beralih lagi ke dunia persilatan jurnalistik. Apa yang menjadi pertimbangan saya itu adalah sebuah senyum. Ya, senyum.

 

Menurut ibu saya, meski dalam kondisi selelah apapun—ketika saya masih berprofesi sebagai jurnalis—sesampai di rumah selepas bekerja, senyum tetap mengembang di bibir saya. Ibu saya sendiri menganggap senyum itu adalah sebuah kepuasan setelah menuntaskan suatu pekerjaan. Meski pun dia tidak tahu detail apa yang saya kerjakan setiap hari.

 

Berbeda ketika saya mulai bekerja sebagai copywriter, yang jadwal kerjanya monoton dan rutin. Sepulang bekerja saya pun tidak banyak membawa sebuah cerita yang asik untuk dibagi. Kecuali kelelahan, nonton TV sebentar kemudian langsung tidur.

 

Masalah senyum yang mengembang pun, ibu saya hampir jarang melihatnya. Naluri keibuanya mulai berkata : bahagiakah anak saya dalam pekerjaan barunya? Tak perlu dia berkata, saya juga bertanya dalam hati : bahagiakah saya?

 

Harus diakui, kendati karir seorang copywriter terkesan sangat glam, tetapi menurut saya sangat monoton. Seperti yang pernah saya utarakan dalam posting sebelumnya, di bidang ini batasan-batasan pekerjaan kita terkonsen pada kemauan klien. Sebagai orang yang bertipikal ‘pembangkang’, tentu saja kaidah ini sulit saya terima.

Tepat sebulan setelah saya menerima gaji pertama saya, saya langsung memutuskan untuk berhenti bekerja. Eloknya seorang mantan jurnalis yang telah mempunyai banyak link disana-sini (inilah asyiknya profesi jurnalis). Kabar mengenai berhentinya saya bekerja ini pun telah tersebar ke beberapa teman.

Dari kabar itu, akhirnya atas rekomendasi teman, ada dua media yang bersedia meminang saya sebagai jurnalisnya.

 

Meskipun belum menentukan pilihan yang mana, tetapi saya benar-benar siap kembali ke dunia persilatan ini. Semoga saya masih bisa terus tersenyum dan mempertontonkannya kepada orang-orang yang saya cintai.

 

Ada “Kont*l” di Stardut

Dikirim Uncategorized pada April 25, 2008 oleh planetmiring

Beberapa bulan belakang ini ada kebiasaan baru pada diri saya. Jika biasanya pada malam hari saya kerap ‘mengejek’ tayangan sinetron yang ibu saya tonton, kali ini justru saya sangat ‘akur’ berbagi ruang televisi untuk acara yang sama. Yang pasti bukan untuk menonton sinetron, tetapi program Mamamia di Indosiar.

 

Reality show ajang pencarian bakat menyanyi ini merupakan acara yang mencuri perhatian saya dan mungkin jutaan mata di seluruh Indonesia. Kemasannya sangat merakyat dan malah sekarang terkesan ‘ngaco’ karena diselingi oleh guyonan-guyonan spontan dan konyol oleh para komentator dan presenternya.

 

Saking larisnya acara ini, Indosiar sepertinya tidak ingin perhatian pemirsa beralih ke stasiun lain. Makanya, menyusul sukses Mamamia, dibuat pula Star Soulmate, Selebshow, dan Stardut, yang konsepnya hampir sama dengan Mamamia namun dengan peserta dan kemasan yang berbeda. Kesemuanya itu diputar hampir setiap hari secara bergantian dan durasi yang panjang.

 

Saking seringnya saya menyaksikan semua acara tersebut, saya baru sadar ternyata musik dan lagu musisi Indonesia juga banyak yang bagus. Maklum, selama ini saya hanya mau mendengar lagu-lagu indie-rock yang berseberangan dengan pakem mainstream dan menganggap tren musik di Indonesia kian kacau dengan tampilnya beberapa band dengan konsep yang menjenuhkan telinga dan mata.

 

Dengan adanya acaranya seperti ini setiap orang yang berbakat memiliki kesempatan untuk tampil di TV dan menjadi idola baru. Lihat saja salah satu peserta Mamamia yang bernama Ajeng. Dia awalnya hanya mengamen bersama orang tuanya di bus-bus kota dan ngetem di Komdak. Siapa sangka, begitu mengikuti Mamamia dia masuk di empat besar dan kini sering dikontrak untuk tampil di beberapa daerah. Senang rasanya melihat salah satu bagian dari kaum yang tersisihkan berhasil merubah nasibnya.

 

Belakangan ini harus diakui konsep Mamamia dan klannya sedikit ngawur dan asal, karena hampir semuanya berjalan spontan dan tidak ada ‘batasan’. Presenter dan komentator dibuat bebas berbuat ‘semaunya’. Tapi disinilah nilai jual acara ini dan menjadi daya tarik agar pemirsa terjaga untuk menyaksikan acara ini hingga selesai sekalipun jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

 

Begitupun pada malam tadi (24/4) ketika salah satu ibu peserta Stardut Cabut 2 jadi bahan bulan-bulannya salah satu presenternya. Si ibu yang ternyata pengidap latah kronis ini dikagetkan dengan musik yang tiba-tiba menggema. Bisa ditebak, si ibu pun terkaget-kaget dan langsung latah. Parahnya lagi, dengan latahnya si ibu mengucapkan “kont*l” di hadapan penonton. Kejadian ini benar-benar tanpa sensor karena memang disiarkan secara langsung.

 

Terlepas dari kata-kata kotor yang dilontarkan si ibu tadi, tentu saja kejadian ini membuat saya sakit perut terpingkal-pingkal. Begitupun dengan penonton di studio. Tampaknya sebuah batasan baku dalam dunia siaran kita telah diloncati dengan adanya insiden yang tidak disengaja ini. Kapan lagi sih bisa menyaksikan seorang ibu latah bicara kotor dan disiarkan secara langsung? Untungnya, si ibu langsung mengkoreksi kesalahannya itu dengan sikapnya yang lucu. Kepolosan si ibu ini dan celotehan-celotehan logat betawi yang dikeluarkan membuat saya simpati dan menjagokan dia serta anaknya untuk masuk di babak selanjutnya. Dugaan saya tidak meleset, dia terpilih sebagai peserta dengan nilai tertinggi.

 

Dengan insiden di atas, jelas sekali bahwa acara ini dijalankan benar-benar penuh spontanitas dan alur seadanya. Tidak ada yang salah dalam hal ini, namun sepertinya pihak pengisi acara harus pintar-pintar mengambil bahan lelucon agar tidak menyinggung orang lain. Karena bisa saja akibat insiden ini penonton malah tidak simpati dan beralih ke acara lain. Tapi, bagaimana pun ‘rusaknya’ acara ini, saya tetap mendaftarnya sebagai siaran wajib tonton. Selamat datang di era baru reality show Indonesia…

 

Copywriting VS Jurnalism

Dikirim ngalor-ngidul pada April 25, 2008 oleh planetmiring

Sebagai orang yang hanya mengandalkan kemampuan mengasah aksara, bidang tulis-menulis sudah tentu menjadi pijakan karir dalam hidup saya. Itulah sebabnya begitu lulus kuliah saya memantapkan diri di dunia jurnalistik sebagai wartawan desk kriminal di sebuah surat kabar lima besar di Jakarta. Setelah itu saya migrasi ke sebuah majalah bulanan yang concern dengan perkembangan dan implementasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di masyarakat dan pemerintahan (e-government)

 

Dua tahun berselang, saya kemudian menerima tawaran dari seorang kenalan untuk bekerja sebagai redaktur pelaksana media in-house salah satu instansi pemerintah. Itu juga tidak lama, hanya sekitar satu tahun saja.

 

Bergulat di dunia jurnalitik sekian tahun ternyata belum cukup memuaskan saya yang memang suka dengan tantangan baru. Demi mengejar tantangan baru ini, akhirnya bekerja sebagai copy writer di sebuah communication agency, namun tetap sebagai kontributor beberapa artikel di media tempat saya bekerja sebelumnya.

 

Tadinya saya pikir copywriting tidak seruwet jurnalistik yang aktivitasnya kebanyakan di lapangan atau luar kantor. Rupanya dugaan saya salah. Meskipun 80% aktivitas saya berada di dalam kantor—keluar kantor hanya untuk meeting dengan klien—ternyata copywriting benar-benar menguras tenaga dan khususnya pikiran.

 

Berbeda dengan jurnalistik yang selalu mengedepankan objektivitas, aktualitas, dan kedalaman isi berita, copywriting harus benar-benar mempertimbangkan kemauan klien. Meskipun dari sisi karakter tulisan lebih sedikit, tetapi copywriting benar-benar memusingkan. Katanya sih, jika jurnalistik mengandalkan kuantitas tulisan, copywriting menyender pada kualitas. Nah, barometer ‘kualitas’ ini berada di keputusan klien. Diistilahkan, isi kepala saya harus benar-benar sama dengan klien jika mau tulisan saya dibilang ‘berkualitas’.

 

Di bidang ini saya harus bisa mengiyakan sesuatu yang buruk dari klien, sementara saya harus rela sesuatu yang bagus menurut saya ‘diberangus’ oleh kemauan klien karena dibilang jelek. Terkadang saya juga dipusingkan oleh salah satu klien rewel. Setiap waktu saya harus sigap dengan pikiran dan konsep klien yang berubah-ubah. Sekalipun saya sering menelan ludah, menghujat dalam hati sambil mengusap-usap dada sendiri, inilah konsekuensi yang harus saya terima. Saya bekerja untuk klien dan sebisa mungkin harus memberikan service terbaik bagi mereka. Idealisme serasa fatamorgana saja.

 

Terkadang ada semacam perasaan rindu akan ‘bau’ lapangan dan medan peliputan. Terutama kerinduan dengan teman-teman wartawan yang selalu mengiringi saya di desk yang sama. Ketika ada suatu keputusan kontroversi pemerintah terkait dengan TIK, naluri kewartawanan saya bangkit. Gregetan rasanya ketika pemerintah memblokir beberapa situs pasca rilis UU ITE, tapi saya tidak bisa ‘berbuat’ apa-apa. 

UU ITE BIKIN PARNO + CARA MENGUNJUNGI SITUS YG DIBLOKIR

Dikirim ngalor-ngidul pada April 9, 2008 oleh planetmiring

Memasuki masa rilisnya yg ke minggu pertama, UU ITE sudah makan korban. Yups, setidaknya 7 situs telah diblog beberapa ISP seperti myspace, youtube, multiply, liveleak, rapidshare, dan lainnya yg diduga pemerintah menjadi penyalur fim Fitna yg menghebohkan itu.

Membabi butanya kebijakan pemerintah itu tentunya mengesalkan pihak yg mengakrabi situs-situs tersebut, seperti halnya saya yang setahun belakangan ini sering memburu beberapa videoklip band-band ljadul yang tak saya lihat sebelumnya di televisi. Sementara myspace digunakan untuk kepentingan promosi band saya, selain friendster dan beberapa milis. Malah situs-situs itu berkontribusi besar terhadap order atau job tampil band saya di beberapa pentas.

Nah, dengan diblokirnya myspace tentu menyulitkan saya untuk memberitahukan jadwal penampilan terdekat band saya. Padahal setidaknya ada 2 pentas yang cukup besar untuk band indie sekelas band saya di bulan ini. Untungnya, seorang teman memberi tahu saya kalo sebenarnya kita masih bisa membuka situs-situs yang diblokir tersebut lewat htpp://www.netunlocker.com. Tetapi bagaimana bagi orang yg tidak tahu situs ini?

Selain itu, UU ITE juga membuat saya parno untuk mengisi konten blog ini. Salah seorang teman saya yg blogger aktif  memperingatkan saya untuk tidak memposting muatan yang menyinggung orang lain. Menurutnya ada beberapa posting yang ada di blog ini menyinggung orang lain. Di antaranya postingan dalam kategori “wawancara imajiner”.

Padahal tadinya kategori ini saya maksudkan sebagai ajang kritisi saya terhadap berbagai fenomena yang ada di negeri ini bukan menyinggung karakter orang secara frontal. Tidak perlu dalam muatan bahasa politik yang berat, toh “wawancara” ini dimaksudkan sebagai sentilan. B

Sayangnya, baru dua tulisan yang saya posting, eh ternyata diperingatkan oleh teman. Jujur aja, saya ketakutan. Secara 1 miliar denda lho ganjarannya. Kerja seumur hidup juga belum tentu saya bisa menghasilkan uang segitu banyaknya. Ya sudah terpaksa hasil “wawancara” saya dengan dua tokoh di planet ini sementara saya proteksi agar tidak bisa dibuka oleh setiap orang.  Cari aman dulu lah. Toh saya yakin UU ITE hanya pasal karet yang nanti bakal berakhir seperti peraturan-peraturan lainnya, seperti larangan merokok di tempat umum dan penggunaan lampu sorot untuk kendaraan bermotor di siang hari. Kalo pun UU ITE “serius”, waduh sepertinya ini langkah terbaru pembredelan atas kebebasan berekspresi. Order baru bangkit? Wallahualam….

Jenifer : Mencekam Dalam Durasi Singkat

Dikirim review pada April 3, 2008 oleh planetmiring

jenifer.jpg

Membuat film horror bermutu tidak perlu durasi yg panjang, budget besar, dan judul yang bombastis. Setidaknya Dario Argento membuktikan hal ini dlm film tv-nya yg berjudul Jenifer. Master film horror asal Italia ini membuktikan, dengan durasi 58 menit di pemutar DVD player, Jenifer tetap pantas disejajarkan film horror berbudget besar.

Cerita bermula dari aksi penyelamatan polisi terhadap seorang gadis bernama Jenifer yg hampir dibunuh oleh seorang lelaki. Dalam menyelamatkan Jenifer, dia terpaksa menembak mati si pelaku yg berkata, “She’s an evil”, sembari menghembuskan nafas terakhir.

Sekilas, Jenifer punya body dan rambut yg aduhai. Tapi jika melihat wajahnya, wow cukup mengerikan. Yup, selain matanya besar, doi juga punya bibir memble ditambah gigi yg besar dan tajam.

Selama kasus Jenifer dalam penanganan, Steven bersedia menampungnya di rumah utk sementara. Nah, disinilah masalah bermuara. Di rumah ini, Jenifer mulai berulah. Korban pertamanya adalah kucing peliharaan keluarga polisi tsb. Dgn santainya Jenifer memakan isi perut kucingnya di kamar mandi.

Melihat kelainan Jenifer, Steven dipaksa istrinya utk membuang Jenifer. Dalam perjalanan menuju tempat pembuangan, Steven malah terintimidasi secara seksual. Steven benar2 mengalami pengalaman seks yg tidak pernah diperoleh dari istrinya. Steven pun luluh dan membawa Jenifer kembali. Bisa ditebak, istri Steven marah dan minggat dari rumah.

Sepeninggal istri Steven, Jenifer kian ganas. Selain kerap menjadikan Steven sebagai objek seksnya, doi terus membunuh orang2 dgn cara memakannya. Steven pun kalang-kabut. Entah demi cinta atau apa, Steven rela meninggalkan pekerjaan n menyendiri bersama Jenifer di sebuah hutan. Sambil berharap Jenifer berhenti membunuh.

Cinta dan pengorbanan Steven berakhir dgn matinya dia ditangan seorang pemburu ketika berusaha membunuh Jenifer yg tdk bisa berhenti membunuh. Kondisi ini sama dgn seorang lelaki yg pernah ditembaknya ketika ingin menyelamatkan Jenifer..